Cinta Dan Kenangan Terakhir

Cinta Dan Kenangan Terakhir
Chapter 221 : Pengingat yang baik


__ADS_3

"Ohh, iya gue baru ingat kalau pemilik kontrakan pernah bilang sama gue, misalkan gue ataupun teman-teman gue lupa membawa kunci kontrakan, kata dia kita bisa langsung datang aja ke rumahnya," ucap Sultan terlihat senang, dikarenakan Rere telah menyadarinya dengan ucapan kunci cadangan.


Rere tak jadi tertawa, malahan dia merasa sangat kecewa karena dia telah memberitahu Sultan dengan ucapan singkatnya di sana.


Rere memang ingin melihat Sultan sengsara di sana, namun niat buruknya itu malah membuahkan hasil yang baik bagi Sultan sediri.


"Yahh ... jadi gue gagal dong melihatmu sengsara! padahal gue seneng kalau melihatmu sengsara di sana Tan, tapi sayangnya rasa kesengsaraan itu engga jadi menimpamu," ucap Rere terlihat kecewa, tapi rasa kekecewaan itu hanya sebatas angin lalu saja, dia tak sungguh dalam mengucapkan ucapannya itu kepada Sultan.


"Mengharapkan sesuatu keburukan terjadi kepada orang lain itu tidak baik Be, gue kan udah sering bilang sama kamu agar kamu bisa menghilangkan sifat tersebut, walaupun kamu emang engga pernah berpikiran untuk melakukannya, namun akan tetapi ucapan gue ini harus sering kamu dengarkan bilamana suatu saat nanti kamu khilaf."


Berbicara sambil berjalan pun suara Sultan masih terdengar baik, bahkan pada saat dia sedang sakit pun suaranya masih terdengar seperti orang sehat seperti biasanya.


Itu adalah hal yang tak ingin Rere lihat sebenarnya, dikarenakan dia cukup kesulitan dalam menebak kondisi Sultan bilamana dia tengah sakit, dan Rere tidak mau melihat Sultan berpura-pura kuat padahal jiwanya sedang sakit.


Rasa sakit yang Sultan miliki itu sebenarnya cukup banyak, namun dia begitu mengukuhkan dirinya sendiri untuk tampil kuat di hadapan Rere.


Sementara itu di kediaman semua teman-temannya, di mana sekarang mereka tengah berdiam diri di sebuah jalan yang entah itu ada di mana, mereka pun tidak mengetahuinya.


Mereka memang sempat memberhentikan lajuan motornya karena Alam baru ingat, kalau kunci kontrakan masih ada di saku bajunya.


"Woii, Lam, kenapa berhenti? bukannya tempat tujuan kita masih cukup jauh dari sini ya?" tanya Azmi sembari turun dari motor Dimas.


"Si Sultan Bro, gue lupa ngasih kunci kontrakan sama dia, duh gimana ya, gue jadi kesian sama dia," ucap Alamsyah sembari menundukan kepalanya dan seketika terdiam bersamaan dengan lamunannya.

__ADS_1


"Mendingan kita pulang aja Lam, gua juga kesian sama dia, dan terlebih dia juga bilang ke gua kalau dia sama sekali belum istirahat dari awal perjalanannya menuju ke sini," ujar Dimas, di mana ucapannya membuat semua temannya membalikan laju arah motornya.


Tapi, untung saja Sultan sempat menelepon mereka semua setelah dia mengambil kunci cadangan dari pemilik kosan.


"Be, tunggu sebentar ya, gue mau nelepon teman-teman gue dulu, gue takutnya mereka semua engga jadi pergi ke toko baju karena kepikiran sama gue di sini," ucap Sultan yang tak sengaja mematikan panggilan suara teleponnya lebih dulu.


Kringg, kringg, kringg ....


Suara ponsel Dimas menyala, di mana dia pun langsung menjawab panggilan telepon suara dari temannya itu.


Dimas sudah tahu kalau itu pasti Sultan, dan kesadarannya datang pada saat Alam mengingatkan semua temannya bahwa kunci kontrakan masih ada padanya.


"Tunggu sebentar Tan, kita pulang sekarang, gue tahu kalau elu pasti lagi nunggu kunci kontrakan dari Alam kan?" tanya Dimas sambil membalikan arah lajuan motornya di sana.


"Kebiasaan dah si Sultan ini! gue belum selesai ngomong, dia malah matiin teleponnya gitu aja."


....


Setelah Dimas menceritakan ucapan Sultan kepada teman-temannya semua, lantas mereka pun mulai membalikan kembali arah lajuan motornya itu ke arah yang sebelumnya.


Sultan membuka pintu kontrakan, dan lalu ia pun kembali menelepon Rere karena sebab dia takut sendirian di dalam sana.


"Udah Tan? perasaan lama banget dah! mereka jadi engga pulang ke kontrakannya?" tanya Rere peasaran.

__ADS_1


"Engga ada lima menitan juga kok, Re, masa sih lama! elunya aja kali yang engga sabaran, lagipula setelah gue ngabarin Dimas, gue langsung telepon elu lagi kok, tanpa belok ke mana-mana dulu," ucap Sultan sambil membuka bungkus nasi gorengnya yang masih belum ia makan-makan juga.


"Yaudah sana makan dulu, kesian juga gue melihat wajah elu yang pucat itu Tan," ujar Rere dengan diiringinya senyuman manisnya pada saat Sultan menyantap nasi goreng itu disuapan yang pertamannya.


Sultan menyantap habis sarapan malamnya, sampai-sampai Sultan memecahkan rekor makan tercepat Dimas di sana.


Dimas hanya bisa menghabiskan nasi goreng dengan catatan waktu 3 menit, sementara Sultan memecahkan rekor tersebut dengan catatan waktu 2 menitan saja.


"Gila lu Tan! itu makan apa minum sih? perasaan cepet amat dah, baru aja dua menit elu udah ngabisin nasi goreng itu sampai habis sama bungkus-bungkusnya juga, sama karetnya juga dah sekalian," canda Rere dengan seketika tercengang melihat Sultan senafsu makan seperti itu.


"Engga tahu gue juga Be, bingung! mungkin aja setannya lagi seneng melihat gue lupa membaca doa makan dulu tadi," canda Sultan membuat Rere tak habis-habis tertawa lepas.


Rere menggeleng-gelengkan kepalanya sambil tersenyum lebar ketika mana dia mendengarkan candaan dari Sultan itu.


Sekarang tidak ada lagi yang namanya rasa takut, cemas, dan pusing dibenak Rere, berhubung Sultan seceria itu di sana, jadi semua rasa yang ia miliki mulai tertular kepada Rere.


"Aku sayang sama kamu Re, dan sekarang tugas aku membuatmu tersenyum kembali udah selesaikan? jadi aku bisakan pamit duluan untuk mandi, abisnya di sini gerah Re," ucap Sultan terlihat begitu kecewa karena tanpa sengaja dia telah melontarkan kata-kata tersebut kepada Rere, padahal ia masih sangat merindukan senyuman manisnya itu, namun waktu Rere untuk tidur telah tiba.


"Sebenarnya gue juga udah ngantuk Tan, yaudah kalau gitu, aku matiin videocallnya ya, pokonya besok kamu jangan lupa kabarin aku lagi, kalau sampai lupa, awas aja kamu Be!" ucap Rere, di mana dia pun merasa sangat menyesal karena telah mengucapkan kata-kata seperti itu kepada Sultan.


Sultan mengangguk, dan setelah itu Rere mematikan videocallnya lebih dulu. Sultan mengira bahwa Rere akan membahas masalah Sultan mematikan videocallnya itu lebih dulu tadi, namun ternyata dia melupakan masalah itu.


Sebenarnya itu masalah yang tak begitu penting bagi mereka berdua, lagipula Rere juga ingin melihat Sultan dapat mematikan panggilan apa pun tanpa harus Rere sendiri yang mematikan semua panggilan tersebut seorang diri.

__ADS_1


__ADS_2