
"Terima kasih Sultan bego, gue sayang sama elu walaupun elu itu orangnya agak sedikit aneh, nyebelin, bodoh, serta ceroboh dalam menanggapi sesuatu hal yang menurut gue engga baik untuk dilakukan, namun akan tetapi rasa sayang gue ini takan pernah berubah sedikit pun kok, Tan," ucapan Rere membuat Sultan tersenyum.
"Sakit beut dah kata-kata awalnya, tapi engga apa-apa asalkan elu bahagia di sana, dan tugas gue di sini cuma harus mengikhlaskan semua ucapanmu itu, dikarenakan semua ucapanmu itu memang benar adanya Re," ucap Sultan hanya bisa merendah agar senyuman dari wanitanya itu tak hilang begitu saja.
Sultan terdiam tanpa kata ketika dia mendengar tawa lepas dari Rere. Rasanya Sultan ingin sekali melihat raut wajah Rere saat ini, namun ia menunda niatnya itu terlebih dahulu sampai mana dia benar-benar pulang dari tempat bermainnya.
Berbicara dengan nada rendah, entah sampai kapan dia harus melakukan hal yang semacam itu di sana, menjaga sifatnya dari kerumunan orang baru, tak dapat berbincang panjang lebar bersama pacar sendiri karena semua temannya lebih memilih untuk tidak terfokus dengan ponselnya sendiri.
Sultan mulai membuka mulutnya setelah ibu Rere memanggil nama anaknya itu, dan untung saja beliau sempat menyuruh Rere untuk makan, jadi ia bisa menggunakan alasan tersebut untuk sementara waktu saja.
"Ibumu manggil tuh Re, lagian udah berapa kali gue bilangin agar kamu menjaga pola makan kamu di sana, gue engga mau melihatmu jatuh sakit, jadi sekarang kamu makan dulu gih, makan itu engga harus nunggu gue yang nyuruh elu dulu loh Re, itu adalah suatu kebutuhan yang harus kamu penuhi, gue engga mau melihatmu mati kelaparan dulu," suruh Sultan panjang lebar, di mana ia menyatukan perintah tersebut dengan candaannya, hingga mana dia tertawa sembari memeluk boneka pemberian dari Sultan.
"Jangan mulai deh Tan! gue tabok baru tahu rasa lu! lagian ucapanmu itu lebih tajam dari bilah pedang, awas aja elu Tan! kalau kamu pulang ke Sukabumi pulang tinggal bawa nama," candaan Rere membuat Sultan semakin tertawa lepas, tak lama kemudian dia mematikan teleponnya karena Sultan yang menyuruhnya untuk mematikan panggilan telepon suara tersebut.
Cahaya senja mulai meredup, lampu jalanan kini mulai dinyalakan, mereka semua membakar satu batang rokok terakhirnya terlebih dahulu sebelum mereka semua benar-benar pergi meninggalkan tempat tersebut.
Kopi serta air susu itu mereka seruput hingga habis, dan sekarang yang tersisa hanya beberapa batang rokok saja. Satu jam telah mereka lalui, mungkin sebentar lagi mereka semua akan pergi meninggalkan tempat tersebut.
Alam mulai mengajak semua temannya pergi ke sebuah toko baju distro, dia cuma ingin memastikan apakah diskon yang mereka berikan masih berlaku hingga Bulan nanti.
__ADS_1
Lokasinya lumayan jauh, dan di sana Sultan berniat untuk pulang ke kosan lebih dulu, dikarenakan dia sama sekali belum beristirahat dari awal perjalanan hingga sampai ke Tangerang.
Sultan mengambil kembali motor tuanya dari Azmi, sementara Azmi sekarang menumpang di motor sahabatnya, yaitu Wildan.
"Gue pulang duluan ya, Bro, soalnya punggung gue pada sakit semua, pokonya kalian semua jangan pulang terlalu malam, ingat besok PKL, kalau sampai kita telat, habis kita semua," ujar Sultan menyuruh mereka untuk pulang lebih awal, dikarenakan jam tidur mereka tinggal tersisa kurang lebih lima jaman lagi.
....
"Siap Tan, laksanakan, kita engga akan lama-lama kok, palingan pukul sembilanan juga kita udah sampai di kosan, elu hati-hati ya, di jalan, kalau ada apa-apa cepat kabarin kita semua," ucap Alam, di mana dia nampak khawatir membiarkan Sultan pergi sendirian dalam kondisi matanya yang seperti itu saat ini.
Mereka pergi meninggalkan Sultan sendirian, sementara dia menunggu mereka pergi meninggalkannya di sana.
Kembali lagi di kediaman Rere, yang di mana setelah dia selesai makan, Rere pun lalu memvideocall Sultan.
"Dia masih ada di sana engga ya! lebih baik gue videocall dia aja kali ya, itung-itung gue juga ingin memastikan apakah si Sultan bolot itu benar-benar main sama temannya," ucap Rere seorang diri sambil sesekali menatap tajam kontak Whatsapp Sultan itu di dalam kamarnya.
Kringg, kringg, kringg ....
Suara handphone Sultan berbunyi. Tak lama kemudian dia pun lalu memberhentikan lajuan motor tuanya ketika mana Sultan telah menepikan motornya itu di pinggir jalan.
__ADS_1
"Oyy, ada apa Re? gue lagi di jalan pulang ini, sabar sebentar kenapa Re, nanti juga gue bakalan telepon elu lagi kok," ucap Sultan sambil meletakan handphonenya itu di sebuah alat yang bernama, Phone Holder.
Alat tersebut memang banyak digunakan oleh para ojek online, bukan hanya mereka saja, melainkan bagi para rider yang sering ngeflog pun mereka masih sering menggunakan alat tersebut, dan fungsinya tidak lain untuk menaruh ponsel di atas kemudi stang motornya.
"Aku kira kamu masih nongkrong Tan, yaudah deh kalau begitu, aku matiin lagi videocallnya ini ya, hati-hati di jalan, jangan kebut-kebutan, soalnya elu itu pacar gue Tan, bukan jagoan," ucap Rere membuat Sultan tersenyum, dan terlebih ucapan itu sudah lama tak ia dengarkan.
"Gini aja deh Re, bagaimana kalau kamu yang mastiin gue sendiri aja di sana, apakah gue bertingkah sok jagoan di Kota orang saat ini," ucap Sultan sembari memastikan apakah ponselnya itu telah terpasang kuat di Phone Holdernya.
"Jangan berkendara sambil main handphone Tan, itu bahaya, gue engga mau melihat elu pulang tinggal bawa nama aja."
"Aihh ... dasar bolot! bukannya elu itu pernah ngasih gue Phone Holder ya? tapi kenapa elu bisa lupa sih Be, lagian ucapan elu itu dari tadi gue dengerin, perasaan semakin ke sini malah semakin menusuk dihati gue aja ya."
Rere baru ingat, kalau sebelumnya dia sempat memberikan alat tersebut kepada Sultan, namun sangat disayangkan, dan ternyata prianya itu sudah memiliki benda tersebut juga, maka Rere pun ingin menukarkan benda itu dengan benda yang lain agar pemberiannya dapat Sultan gunakan.
Tapi di sana Sultan lebih memilih Phone Holder pemberian dari Rere saja, lantaran warna dari alat itu adalah warna kesukaan Rere, yakni berwarna merah maron.
"Aku kira kamu melupakan benda itu Tan, aku mau minta maaf karena aku telah memberikan barang yang sudah kamu miliki, jadi ... ," ucapan Rere dengan seketika dipotong oleh Sultan.
"Padahal kita sering jalan-jalan bersama dengan motor tua kesayangan gue ini loh Re, maklum lah karena pada saat itu kamu tengah merasakan kebahagiaan yang tak bertepi, jadi pantas saja kenapa kamu bisa melupakan alat tersebut itu nyatanya adalah pemberian kamu sendiri."
__ADS_1
ucapan Sultan membuat Rere tersenyum, bahkan dia juga rela memberikan jam tangan miliknya kepada sahabatnya yang bernama Iman, dikarenakan dia hanya ingin menghargai pemberian dari Rere.