
Masih berada di sekitaran Kota Bogor, di mana tawa dan canda itu sekarang tengah menemani mereka semua, walaupun pada dasarnya mereka baru saja bertemu dan saling mengenal satu sama lain, namun kebersamaan tersebut bilamana dirasakan rasanya seperti tidak asing saja, semuanya tidak jauh sama seperti mereka mengenal dekat sosok temannya di sekolah.
Kebetulan ada dua orang pria yang entah itu siapa, tapi di sana Sultan melihat kedua orang tersebut membawa gitar akustik, lantas ia pun menghampiri kedua orang tersebut untuk meminjam gitarnya itu.
"Permisi Kang, akang dari mana mau ke mana nih?" tanya Sultan berbasa-basi dulu sambil duduk di samping kedua pria itu di sana.
"Kita asli orang Bogor Kang, sengaja lagi main di sekitaran sini-sini aja, akang dari mana mau ke mana?" tanya balik dari salah satu pria tersebut yang tengah asik berbincang berdua di sana.
"Jadi begini Kang, di sana itu teman-teman saya, dan kita semua mau pergi ke Tangerang, berhubung waktu pertemuan ini cukup singkat, jadi saya mau meminjam gitar akang untuk menghibur para adik-adik kelas saya di sana, apakah saya boleh meminjam gitar akang?".
Selagi Sultan menunggu balasan dari kedua pria itu, ia pun lalu mengeluarkan satu bungkus rokok dari dalam tas slepangnya untuk diberikan kepada mereka sebagai tanda ucapan terima kasihnya.
"Yang cewe itu semuanya adik kelas akang bukan? kalau begitu ambil aja Kang, lagian kita juga di sini engga ada yang bisa main gitar, ini gitar cuma dijadiin pajangan aja, teman saya yang bisa main gitarnya belum datang," ucap salah satu dari pria tersebut.
"Ini Kang, sebagai tanda terima kasih dari saya karena akang udah mau meminjamkan gitarnya kepada saya," ucap Sultan sambil memberikan rokoknya itu.
Mereka berdua sempat menolak pemberian dari Sultan, dikarenakan pemberiannya itu tak setara dengan apa yang telah mereka pinjamkan kepada Sultan untuk saat ini.
Sekarang Sultan pergi dengan senyuman tulusnya, lagipula ia masih menyimpan rokoknya yang satu lagi, dan rokok tersebut baru Sultan hisap beberapa kali hisapan serta beberapa kali hembusan saja.
__ADS_1
Itu juga tak sampai habis sampai kepuntung-puntungnya, jadi semua itu sudah lebih dari cukup baginya, apalagi wanitanya menyuruh Sultan untuk berhenti merokok secepat mungkin.
Sultan pun lalu kembali menghampiri semua temannya yang tengah asik berbincang di sana sambil duduk dan memainkan bunyi alunan gitar tersebut untuk mereka dengarkan.
"Nongkrong sambil bernyanyi bersama itu adalah suasana yang tepat untuk dilakukan Tan, pokoknya elu emang si paling bisa menangani persoalan tentang perasaan hati dah, nomong-ngomong elu dapet gitar ini dari mana?" tanya Azmi yang sudah siap menyanyikan lagu ciptaan temannya itu, siapa lagi kalau bukan Sultan.
"Bukan dari mana, tapi dari siapa Mi, itu adalah pertanyaan yang cocok untuk pertanyakan, elu semua udah siapkan? kita nyanyi beberapa patah lagu ciptaan anak rantau seperti kita ini," tanya Sultan sambil menatap raut wajah teman-temanya satu-persatu, yang di mana sepertinya mereka sudah mengetahui niat Sultan itu apa.
Sultan memainkan bunyi alunan gitarnya dengan nada yang sudah ia atur sebelumnya. Mereka bernyanyi mengikuti alunan nada suara gitar yang tengah Sultan mainkan itu.
Para adik kelasnya tersipu dan kagum, ternyata tongkrongannya ini sungguh sangat menemani perasaan hati mereka semua.
Andai saja waktu tak berjalan secepat ini, dan mungkin sekarang para wanita itu dapat mendengarkan lebih banyak lagu lagi yang akan kakak kelasnya itu nyanyikan sekarang untuk mereka semua di sana.
"Yeyy, lagi lah Kang, kita semua udah terlanjur nyaman nih dengerinnya, adai aja kalau akang-akang semua lagi engga ada urusan pribadi di sana, mungkin kita engga akan pergi dari sini," ujar Salma yang memang dia adalah wanita paling bawel, bahkan dia satu-satunya wanita yang mungkin paling asik untuk diajak bicara.
"Oke, siapa takut! emangnya kalian mau dengerin berapa ratus lagu lagi dari saya? jangankan seratus lagu, bahkan sampai beribu-ribu lagu lagi pun kita selalu siap sedia bernyanyi untuk kalian semua nona, ehemm," ucap Azmi terlihat begitu percaya diri ketika sedang berbicara di hadapan para adik kelasnya itu semua.
"Alahh ... akangmu yang satu ini bukan orang, dia itu buaya, pokoknya jangan didengerin ucapannya! siap sedia, siap sedia palalu ... sedia payung sebelum hujan kali lu Mi, elu aja sonoh yang nyanyi sendirian, dan elu engga usah soksoan ngajakin pemuda-pemuda jompo seperti kita ini bernyanyi sampai sakit pikiran," ucap Sultan membuat semua adik kelasnya tertawa.
__ADS_1
"Kenapa akang-akang engga pada manggung aja, lagian suara akang engga buruk-buruk juga, malahan suara akang akan jauh lebih enak didengar bila akang semua memiliki beberapa lagu rekaman sendiri," ucap Amelia membuat temannya yang bernama Salma itu menatap raut wajahnya, dikarenakan ucapannya tadi baru saja akan dilontarkan oleh Salma.
Sultan terdiam, mungkin suatu saat nanti dia juga benar-benar harus merekam beberapa lagu ciptaannya yang tak seberapa itu, namun dia beranggapan biarkan semuanya berlalu, dan tinggalkan semuanya hingga menjadi abu, dikerenakan Sultan lebih suka mengenang seorang daripada harus dikenang oleh banyaknya orang.
Sultan tersenyum tipis, lantas ia pun mulai memetik gitar yang tengah ia genggam erat ditangannya itu sambil bergumam sedikit demi sedikit untuk menyesuaikan nada suaranya.
Semua teman-temannya telah mengetahui lirik lagu tersebut karena lagu itu memang sengaja Sultan ciptakan untuk mereka nyanyikan nanti dipanggung perpisahan sekolah.
Tak lama kemudian nyanyian lagu terakhir tersebut itu pun telah usai dinyanyikan, dan tanpa mereka sadari waktu sudah memberitahunya untuk segera pergi meninggalkan zona nyamannya sekarang juga.
Tittt, tittt ....
Suara alarm di jam tangan Sultan telah berbunyi, itu tandanya mereka semua sudah harus segera bergerak sesuai dengan arahan waktu yang telah ditentukan sebelumnya oleh mereka semua.
"Sepertinya zona nyaman kita udah selesai nih, sebelum kita pergi meninggalkan tempat ini sekarang, apakah ada sesuatu hal yang ingin kalian sampaikan selagi kita masih ada di sini bersama kalian?" tanya Sultan sambil mematikan suara jam tangannya yang berbunyi tanpa henti itu.
Entah kenapa pada saat Sultan melontarkan kata tersebut, semua adik kelasanya pada terdiam, sementara teman-teman Sultan semuanya hanya bisa tersenyum menantikan adik-adik kelasnya mengucapkan kata yang dapat membuat hati mereka tersenyum lebih lebar lagi.
"Foto bersama dulu lah Kang, buat kenang-kenangan, siapa tahu nanti akang-akang bakalan merindukan berkumpul dengan kita semua di sini," pinta Salma yang terakhir.
__ADS_1
Berhubung di sana Sultan juga masih harus mengembalikan gitar yang sebelumnya dia pinjam itu kepada pemilik aslinya, jadi sekalian Sultan pun ingin meminta bantuan dari mereka berdua untuk mengambil beberapa jepretan foto bersama dengan para adik kelasnya.
Akhirnya kedua pemuda baik hati itu pun setuju dengan pinta Sultan, dan mereka berdua tak merasa keberatan ataupun merasa terbebani pada saat dia meminta bantuan dari mereka agar mereka mengambil beberapa potretan foto bersama dengan semua adik-adik kelasnya itu di sana.