Cinta Dan Kenangan Terakhir

Cinta Dan Kenangan Terakhir
Chapter 176 : Kebahagiaan


__ADS_3

Lamanya waktu berjalan, hingga pada akhirnya perpisahaan pun telah tiba. Sultan pergi dari tempat wisata alam tersebut untuk mengantarkan Rere pulang ke rumahnya.


Sultan sengaja mengambil jalan yang cukup jauh agar perjalanannya tak usai sampai di situ saja. Jalan itu memang masih di jalan yang sama, dan jalan itu sering ia lalui pada saat dirinya akan pergi berangkat menjemput Rere, ataupun pergi berangkat ke sekolahannya.


Nampaknya Rere pun tak mempermasalahkannya, dia sama sekali terlihat santai-santai saja meskipun waktu sudah tak menunjukan cahaya yang lain selain cahaya dari sang senja.


Sebelum mereka berdua meninggalkan tempat wisata alam tersebut, mereka sempat melaksanakan ibadah salat asarnya di dalam musala yang telah disediakan di dalam tempat wisata alam tersebut itu di sana.


Tak seperti biasanya, jalan yang mereka lalui hari ini cukup ramai, apa mungkin karena ini adalah malam Minggu, jadi jalanan tak begitu sepi.


"Engga biasanya jalanan ramai ya, Tan," ucap Rere yang masih memeluk tubuh Sultan dengan eratnya di jalanan ramai itu.


"Mungkin karena malam ini adalah malam Minggu Re, jadi jalanan engga terlalu sepi seperti hari biasanya," ucap Sultan sembari menatap raut wajah Rere yang manis itu.


Seperti biasa Sultan selalu memfokuskan kaca spion motor tua yang sebelah kanannya itu ke arah raut wajah Rere, dan terlebih Rere pun sering menyandarkan dagunya di sebelah kanan bahu Sultan.


Maka dari itu kenapa Sultan sering kali menatap kaca spion motor tua yang sebelah kananya saja, dan jawabannya adalah itu.


"Tan, elu mau kagak ngikutin gaya mereka yang sering main ke luar pada waktu malam hari?" ucapan Rere dengan seketika membuat Sultan kebingungan, soalnya Sultan memang seperti mereka, yang selalu pergi keluyuran tengah malam hanya untuk menenangkan dirinya saja di luar ruangan rumahnya.


"Gue mah udah sering Re," ucap Sultan singkat.


"Sama gue maksudnya Tan, elu mah kagak pekaan dah jadi orang!".


"Lagian main malem-malem buat apa? emangnya elu mau masuk angin, bukannya dulu elu pernah main malem ya, sama gue Re? kalau engga salah waktu gue jemput lu di terminal Kota Sukabumi."

__ADS_1


"Itu kan cuma sebentar Tan."


Sultan menatap langit sore ketika Rere meminta membawanya pergi bermain pada waktu malam hari. Sebenarnya itu adalah permintaan Rere yang tak mungkin bisa Sultan turuti, dan terlebih ibunya pun takan pernah mengizinkan Rere pergi keluyuran malam-malam bersama dengan pria lain, bahkan itu dengan Sultan.


Laju motor tua telah diberhentikan oleh Sultan, dikarenakan mereka berdua telah tiba di depan gang rumah Rere.


Ibu Rere sudah lama menunggu anaknya pulang, dan untung saja beliau ada di depan sana, jadi Sultan bisa memberikan alasan terbaik untuk membela Rere agar wanitanya itu tidak dimarahi oleh beliau.


"Assalamu'alaikum Mah, maaf Sultan baru bisa nganterin Rere pulang jam segini, soalnya Sultan tadi ngajak Rere main ke tempat yang dia mau kunjungi dari sejak lama," ucap Sultan dengan sikap penuh percaya dirinya.


"Wa'alaikum Salam, engga apa-apa Tan, yang terpenting anak mamah udah pulang sekarang, dan sebelumnya mamah juga mau bilang terima kasih sama Sultan karena udah mau direpotin sama Rere," ucapnya, yang di mana sepertinya beliau sama sekali takan memarahi Rere di sana.


"Engga apa-apa Mah, lagipula Sultan engga merasa direpotkan sama sekali oleh Rere kok, dan terlebih Sultan senang kalau bisa melihat Rere tersenyum seperti itu di sini," ucap Sultan yang membuat Rere mencubit tubuhnya tanpa sebab.


....


"Mamah masuk duluan ya, Tan, kalau Sultan mau mampir terlebih dahulu Sultan tinggal masuk aja ya, engga usah malu-malu," ucap beliau dengan ditatapnya raut wajah Sultan.


"Sultan engga akan lama Mah, setelah ini Sultan juga mau langsung pulang," ucap Sultan sembari mencium manis tangan lembut dari beliau.


Beliau pun lalu masuk ke dalam rumah. Beliau meninggalkan Rere bersama dengan Sultan di depan sana. Beliau mamang sengaja ingin memberikan waktu singkatnya kepada Sultan agar dia bisa berbincang bersama dengan anaknya.


"Mamah udah masuk tuh Re, lebih baik kamu juga masuk sana, engga baik cewe cantik nongkrong sore-sore di depan sini," ucap Sultan menyuruh Rere untuk masuk ke dalam rumahnya dengan hanya memberikan kernyitan didahinya itu saja.


"Kamu engga mau masuk makan dulu Tan?" tanya Rere penuh perhatian.

__ADS_1


"Elu mau bikin perut gue segemuk apalagi sih Re! kayaknya elu hobby banget dah nyuruh gue makan mulu, bukannya tadi lu udah masakin makanan kesukaan gue ya, di sana."


"Siapa tahu lu lapar lagi Tan. Yaudah Tan, hati-hati, udah itu jangan terlalu pulang larut malam."


Sultan mengangguk sembari tersenyum ke arah Rere. Setelah itu Sultan pun lalu mengelus-elus pelan hijab yang melekat dikepala Rere itu di depan sana.


Rere mencium tangan Sultan sehingga Sultan tersenyum dengan lebarnya ke arah Rere. Motor tuanya kembali dinyalakan, dan tak lama kemudian ia pun meninggalkan Rere di sana sendirian.


Rere menunggu hingga Sultan benar-benar ke luar dari area sekitaran rumahnya. Sementara Sultan menatap kembali raut wajah Rere dengan tatapan keraguannya, namun senyumannya itu tak hilang begitu saja.


Pada saat Sultan melajukan motor tuanya, ia pun mendengar suara ponselnya menyala. Sultan tak melihat dan tak mau mengangkatnya, dikarenakan itu pasti panggilan telepon suara dari Iman.


"Astagfirullah, kaget gue! gue kira apaan, ternyata cuma suara handphone gue aja," ucap Sultan seorang diri, yang di mana ia hampir saja terjatuh karena getaran dari ponselnya itu.


Ponselnya terus menyala, hingga pada akhirnya Sultan pun mengalah. Ia mengangkat panggilan suara telepon dari Iman, sepertinya ada suatu hal penting yang ingin dia sampaikan kepada Sultan.


"Ada apa bego? gue lagi di jalan ini, bentar lagi gue juga sampai di kosan," ucap Sultan dengan nada suara tingginya.


"Bantuin gue Tan, gue lagi ada di Buper, gue lagi dikejar-kejar sama orang, ini gue lagi sama Taufik," ucap Iman dengan nada suara paniknya.


"Lu buat ulah apalagi sih Man?".


"Masalah cewe Tan, buruan!".


"Ya, elah ... cuma masalah cewe aja dibesar-besarin elu ini Man, Man! kayak engga ada cewe lain aja, tungguin gue, bentar lagi gue sampai di sana," ucap Sultan dengan ditariknya pedal gas motor tuanya sekencang mungkin.

__ADS_1


Sultan merasa dia tak perlu mencampuri urusan peribadi temannya itu di sini, namun panggilan itu sungguh sangat berarti baginya karena dia takan pernah meninggalkan temanya dalam kondisi apa pun itu.


__ADS_2