Cinta Dan Kenangan Terakhir

Cinta Dan Kenangan Terakhir
Chapter 86 : kesembuhan Rere


__ADS_3

Meloncat kepada hari, yang di mana hari itu adalah hari kesembuhan Rere, dan semua itu adalah suatu kegembiraan yang selama ini Sultan tunggu-tunggu, hingga mana akhirnya bisa terwujud juga.


Bilamana ia mengingatnya ke hari belakang, dan tentunya itu adalah hari yang telah terlewatkan, yang di mana kala itu kesedihan rasa terus-menerus datang menghampirinya, dan tentunya rasa itu takan pernah hilang sebelum Sultan melihat Rere pulih kembali.


Kurang dari waktu 2 Minggu ia habiskan hanya untuk menemani Rere serta menjaga Rere di sana, dan tentunya Sultan pun takan pernah lupa, takan pernah bisa melupakan hal itu, dikarenakan bagaimana mungkin ia bisa meninggalkannya di sana! dan sementara itu tanpa Sultan, Rere tidak akan bisa pulih secepat ini.


Waktu itu, dan tentunya setelah Rere kembali pulih, yang di mana ia pun lalu mengajak kekasihnya itu untuk pergi kesuatu tempat, dan tentunya tempat itu berada di alam terbuka karena Rere bersama dengan Sultan sangat suka pergi berkelana sembari menatapi panorama alam hijau.


Dan di sana, Sultan pun tak perlu menelepon Rere terlebih dahulu, dikarenakan pada malam hari itu hadir menyapanya, Sultan sempat berbicara kepada Rere, bahwa ia akan mengajaknya pergi ke sebuah tempat, yang di mana tempat itu letaknya berada di bawah kaki gunung Gede, yaitu Pondok Halimun.


Motor tua, kini telah kembali lagi melengkapi pertemuan itu, yang di mana rasa itu sebelumnya pernah ada dan bahkan rasa itu pernah ia rasakan sebegitu dekatnya, namun karena satu hal, dan hal itu pastinya akan tertuju kepada wanitannya di sana ... bukan! bukan di sana! melainkan di sisinya, di hadapannya, dan dipelukannya sekarang.


"Kamu mau bawa aku kemana Tan? perasaan tempat ini tak begitu asing bagiku, dan sepertinya aku pernah ke sini deh Tan," ucap Rere sembari memeluk Sultan dengan damai di belakangnya.


"Tentunya kamu pernah ke sini Re, dan tepatnya kamu ke sini ditemani oleh kakak laki-lakimu itu, dan gue membawa elu ke sini karena gue tahu, bahwa elu pasti bakalan merindui sosok kakakmu itu di sana kan?" ucap Sultan sembari menatap wajah Rere lewat kaca spion motor tuanya itu.


Wushh ...

__ADS_1


Suara angin yang berbenturan langsung dengan pohon rindang di lokasi itu, sungguh terdengar sangat ribut sekali, dikarenakan tempat itu memang bertempatan di daerah yang berada di dataran tinggi, dan jadi udara di sana itu lebih jauh baik untuk dihirup lebih dalam, bilamana dibandingkan dengan kita menghirup udara di jalanan yang terbuka.


"Akhirnya, senyuman manismu itu telah hadir kembali menemanimu lagi Re, dan gue harap rasa kecemasan itu akan menghilang dengan waktu yang cukup lama, dikarenakan takluk, tangis, duka, dan juga luka itu, selalu datang begitu saja tanpa permisi, yang seolah-olah semua rasa itu telah membongkar rahasia ketakutan gue di sini itu karena apa dan karena siapa? dan tentunya itu akan tertuju kepada kekasih hatiku di hadapanku sekarang ini," ucap Sultan yang kembali menatap Rere lewat kaca spion motornya itu di jalan sana.


"Aku engga pernah mengharapkan itu semua terjadi padaku Tan, dan itu adalah suatu kebetulan, yang mungkin Tuhan telah merencanakan sesuatu itu untuk membuat hatiku jauh lebih peka terhadap rasa cintamu ini padaku di sini," ucap Rere, yang di mana kata-kata itu adalah kata manis yang dia ucapkan kepada Sultan tanpa dia sadari, bahwa kata-kata itu sangatlah indah ketika mana prianya itu mendengarkannya.


....


Gemuruh suara angin riuh itu, tak membuat telinga mereka kaku, tak membuat telinga mereka membeku, dan tak membuat telinga mereka menjadi batu, yang di mana respons itu sangat cepat terdengar, dan itu semua adalah suatu yang memang bukan hal kebetulan, melainkan nada suara itu memang terdengar jelas karena hati mereka saling mendukung dan saling memahami satu sama lain.


Kata hati telah Sultan ucapkan, dan bahkan Rere pun tak mau mengalah dengan kekasihnya itu, yang di mana kala itu dia pun sama-sama berucap dalam hati, dan itu bukanlah suatu hal yang membuat mereka malu untuk mengungkapkannya, melainkan hati itu tengah meresapi seberapa dalam kata-kata itu dibuat.


"Wahai Sultanku, kamu bukanlah seorang Romeo, kamu bukanlah seorang Dilan, dan kamu tak perlu menjadi seperti mereka, dikarenakan aku telah memilihmu, dan aku hanya berharap kamu akan menjadi dirimu sendiri saja, dikarenakan setiap kisah seseorang, tentunya akan berbeda-beda, dan yang di mana sekarang, aku hanya ingin tetap bersama denganmu," ucap Rere dalam hati yang masih memeluk Sultan sembari menatapi wajah Sultan lewat kaca spion motornya itu di belakang sana.


Kata hati itu, telah membuat jiwa mereka menjadi semakin menggebu, dan kata hati itu telah membuat jiwa mereka berdua terdiam sejenak, sehingga mana Sultan dan Rere pun dibuat bingung kembali, yang di mana kala itu mereka berdua seketika menyebut namanya bersamaan.


"Emm ... Sultan," ucap Rere, yang di mana dia hanya ingin menanyakan, kenapa prianya itu terdiam kembali di sana.

__ADS_1


"Emm ... Re," ucap Sultan, yang di mana mereka berdua saling menyebut nama itu dengan bersamaan, dan tentu saja mereka berdua pun tertawa tipis karena memikirkan hal tersebut itu tadi.


"Iya Tan, ada apa?" ucap Rere yang masih berbicara bersamaan dengan Sultan.


"Iya Re, ada apa?" ucap Sultan kepada Rere, dan tentunya Sultan pun masih berbicara bersamaan dengan kekasihnya itu juga.


"Samaan mulu dah dari tadi? coba gue dulu yang ngomong duluan sama elu Re, dan elu diam dulu ya, gue pusing ni jadinya bolot!" ucap Sultan yang seketika memberhentikan motornya itu di tengah jalan sembari menoleh ke arah Rere.


"Jangan di tengah jalan begini lah Be, bahaya! mentang-mentang jalanan kosong, tiba-tiba kamu berhenti begitu aja," ucap Rere sembari memukul helm Sultan hingga memiring dan menutupi seisi wajahnya itu di jalan sana.


Sultan pun menepikan motornya terlebih dahulu, dan tentunya tempat itu begitu cocok untuk mereka pandangi di sana, dikarenakan tempat itu merupakan tempat perkebunan teh yang berada di Sukabumi.


"kok, diem? katanya mau ngomong," ucap Rere.


"Aku cuma mau ngomong kamu cantik aja kok, Re, biar notif perbincangan selalu ada aja, biar engga garing kayak tadi," ucap Sultan dengan seketika menjalankan motornya itu kembali.


Dan dengan seketika, Rere pun menyubit tubuh Sultan, dikarenakan sikap menyebalkan prianya itu telah kembali lagi, yang di mana ia baru berani bersikap menyebalkan seperti itu kepadanya ketika Rere sudah sembuh seutuhnya.

__ADS_1


__ADS_2