
Sultan dan Dimas pun akhirnya membantu adik kecil itu mencari beras untuk ibunya yang berada di rumah terlebih dahulu. Dan tak lama kemudian, Sultan dan Dimas mengantarkan dia hingga sampai ke rumahnya.
Sebelum Sultan pergi meninggalkan anak itu, dia pun mengingatkan anak itu agar dia lebih berhati-hati terhadap lingkungan yang berada di sekitarnya agar sesuatu hal yang telah terjadi kepadanya takan pernah terulang kembali dikehidupannya.
"Adek, lain kali adek harus lebih berhati-hati lagi ya, dalam memilih dan menentukan lingkungan tempat adek bermain bersama dengan teman-teman adek di sini."
"Pokonya setelah dewasa nanti adek harus rajin belajar dan mengetahui serta memahami bagaimana caranya menjadi orang yang lebih kuat lagi oke," ucap Sultan sembari mengelus kembali rabut anak itu.
Anak itu mengangguk sambil tersenyum ke arah Sultan dengan begitu lebarnya. Senyuman dari anak itu membuat sosok Sultan merasa begitu sangat bahagia sekali, dikarenakan dia telah berhasil mengubah tangis anak itu menjadi sebuah senyuman kebahagiaan.
Tak silam beberapa lama setelah Sultan pergi meninggalkannya, ibunya dengan seketika pergi keluar dikarenakan beliau sempat mendengar suara raungan motor.
"Adek, tadi mamah dengar ada suara motor di luar sini, itu motor siapa ya, adek dengar juga engga?" tanya ibunya begitu lembut suaranya itu terdengar ditelinga anaknya.
"Itu suara motor dari teman kakak baik yang sudah nolongin adek Mah, tadi di warung sana uang yang sempat mamah kasih sama adek itu tiba-tiba aja diambil sama orang-orang jahat."
"Untungnya di sana adek sempat ditolongin sama kakak yang ganteng dan baik itu, jadi sekarang adek bisa beli beras buat mamah masak di rumah deh, dan ini uang sisa dari adek beli beras tadi," ucap anak itu sembari memberikan uang kembaliannya kepada ibunya seraya tersenyum dengan begitu lebarnya di hadapan beliau juga.
Rasa penasaran ibunya semakin menggema saja, lantas beliau pun menanyakan siapa orang yang sudah membantunya, dan mengapa uang kembaliannya tak berkurang lebih banyak.
"Nama kakak ganteng itu siapa? dan es cream itu adek beli pakai uang siapa? perasaan ibu uang kembaliannya engga ada yang berkurang ya," tanya beliau sambil mengelus rambut anaknya.
"Adek engga tahu nama kakak ganteng itu siapa, tapi kakak ganteng itu yang udah gantiin uang mamah sama yang udah beliin adek es cream ini," ucap anaknya sambil menikmati es cream pemberian dari Sultan.
__ADS_1
Beliau merasa menyesal karena anaknya tidak mengetahui nama dari sosok pria yang anaknya bilang ganteng itu. Lantas beliau pun masih merasa penasaran dan kembali bertanya kepada anaknya, apakah sosok pria itu cocok bila disandingkan dengan anak wanitanya.
"Menurut adek apakah kakak ganteng itu cocok sama kakak adek?" tanya beliau kembali.
"Kakak adek kan cantik, sementara kakak yang udah nolongin adek tadi baik dan ganteng, kayaknya kakak adek cocok kalau pacaran sama kakak ganteng itu."
Jawaban yang diberikan oleh anaknya itu tedengar begitu polos sekali ditelinganya, sampai-sampai beliau dibuat bingung olehnya, sejak kapan anaknya mengetahui istilah dari kata berpacaran itu.
"Adek tahu dari mana kata itu? apa jangan-jangan kakak ganteng tadi yang udah ngasih tahu adek."
"Engga kok, Mah, kakak ganteng cuma menyuruh adek untuk belajar lebih giat lagi agar adek bisa menjadi anak yang pandai dan menjadi seorang anak yang tumbuh menjadi pria yang kuat."
....
Ibu dari anak itu hanya bisa berharap semoga suatu saat nanti beliau bisa dipertemukan dengan sosok pria yang sudah mau membantu anaknya itu.
Sementara di jalan pulang, Sultan bersama dengan Dimas membicarakan masalah titik tempat yang telah mereka telusuri itu, dari titik yang pertama hingga sampai ketitik yang terakhir, yakni titik yang ketiga.
Ternyata memang benar, dititik yang terakhir itu merupakan salah satu tempat perkumpulan yang paling strategis bagi para brandalan-brandalan itu bersinggah, bukan hanya tempat tersebut jaraknya berdekatan dengan base camp mereka, namun akan tetapi tempat tersebut bisa dibilang merupakan sebuah tempat yang amat sepi bila ditelusuri di malam hari.
Bahkan para brandalan itu bisa dibilang cukup cerdik dalam memanfaatkan situasi serta keadaan mereka yang sekarang tak mau mengeluarkan modal sepeser pun.
Dititik yang terakhir itu terdapat sebuah bangunan yang tak cukup tua dan tak cukup lama ditinggalkan oleh sang pemiliknya. Dan di sana mereka juga memanfaatkan tempat tersebut hingga pada akhirnya tempat tersebut mereka gunakan sebagai base camp mereka sendiri, sekaligus mereka gunakan sebagai tempat pelarian mereka dikala mereka sedang berusaha menghindar dari suatu masalah yang amat sangat besar.
__ADS_1
"Ternyata memang benar Tan, dititik yang ketiga merupakan salah satu titik intinya, elu pasti tahulah apa yang gue maksud itu," ungkap Dimas membuat Sultan mengerti satu hal bahwa titik inti yang dia maksud itu merupakan base camp mereka.
"Jadi ucapan gue yang sebelumnya memang benar ya, Dim, bahwa dititik yang terakhir itu merupakan tempat perkumpulan mereka semua."
"Ngomong-ngomong elu sempat merekam semua kegiatan para brandalan-brandalan itu engga Dim? gue mau melihatnya nanti, siapa tahu gue bisa memahami semua pembicaraan mereka di sana."
Ucapan Sultan membuat Dimas bingung, bagaimana caranya dia bisa memahami semua ucapan yang tengah mereka bicarakan di sana, dan terlebih suara mereka pun tak terdengar sama sekali di dalam rekaman video tersebut itu.
"Bagaimana caranya Tan? lagian suara di dalam rekaman video ini engga terdengar sama sekali," tanya Dimas sembari menoleh ke arah kaca spion motor.
"Dari gertakan mulutnya Dim."
"Emang elu bisa Tan?".
"Kayaknya, lagian lu percaya amat dah sama apa yang gue omongin tadi," canda Sultan sambil memberikan suara tawa yang sangat menjengkelkan kepada Dimas.
"Asem lu Tan! gue kira elu emang beneran bisa membaca semua omongan mereka. Yaudah, sekarang elu mau gue anter ke mana lagi?".
"Mendingan kita pergi ke kontrakan Aisyah aja Dim, gue tahu bahwa rekan-rekan kita semuanya pasti udah pada diam di sana."
Mengingat malam nanti akan ada rapat besar di tempat persinggahan Aisyah, jadi Sultan dan Dimas lebih memilih untuk pergi ke tempat persinggahan Aisyah saja.
Lagipula Sultan dan Dimas sudah mengetahui bahwa rekan-rekannya pasti sudah ada di sana mendahului mereka berdua.
__ADS_1
Maka dari itu sekarang Sultan dan Dimas lebih memilih untuk pergi ke tempat persinggahan Aisyah saja dikarenakan kunci kontrakan mereka ada pada Alamsyah.