Cinta Dan Kenangan Terakhir

Cinta Dan Kenangan Terakhir
Chapter 268 : Persoalan yang belum tuntas


__ADS_3

"Mantap ... ini baru cocok Tan, kalau cuma menghitamkan wajah dia saja sih, gue yakin dia pasti bakalan marah sama elu Tan, soalnya elu adalah salah satu teman kita yang sering bangun lebih awal," ucap Azmi sambil menahan tawa gelinya.


"Mana gue tahu Mi, abisnya semalam semua lampu di dalam ruang udah pada mati, jadi gue hanya bisa menghitamkan wajah dia saja, dan sebenarnya niat gue sama Mi, tapi elu tahu sendirikan pandangan gue seperti apa?" tanya Sultan hanya dibalas oleh anggukan Azmi saja, dikarenakan dia takut bahwa ucapannya nanti akan melukai hati Sultan.


"Gue heran sama elu dah Tan, sumpah, elu bilang mata elu itu buruk dalam segi melihat huruf-huruf di depan papan tulis, tapi bila elu mengikuti lomba memasuki benang ke dalam jarum pada saat sekolah mengadakan acara tujuh belas Agustusan, tapi elu sering menang juara satu."


Sultan berpikir ucapan Azmi ada benarnya juga, dan dia pun membingungkan hal itu, mengapa disaat dia melihat tulisan di papan tulis, semua tulisan itu hanya terlihat seperti semut-semut yang sedang berkerumun saja, padahal dari kelas satu hingga sampai kelas dua Sultan duduk di bangu paling depan, tapi tetap saja tulisan di papan tulis masih terlihat sama dan tak pernah berubah.


"Iya juga ya, Mi, gue engga sempat berpikiran ke arah sana sumpah, pikiran ini dibuat setengah sadar oleh mata gue yang buruk, bahkan teman-teman gue, guru-guru gue, sampai orang tua gue beranggapan hal yang sama seperti apa yang elu ucapkan tadi, jangankan elu, Rere pun berpikiran hal yang sama juga Mi."


Kebingungan itu masih melanda dipikiran Sultan, semua yang dia hadapi sekarang ini masih menjadi misteri, bahkan sosok Akbar yang menjadi teman sebangkunya pun masih dibuat bingung, padahal dia juga memiliki mata buruk yang sama seperti Sultan, tapi kenapa sampai sekarang Akbar tidak bisa melihat dengan jelas antara lubang jarum dan benang yang akan di masukan ke dalam jarum.


Mereka berdua masih saja memikirkan hal itu hingga sampai saat ini, dan pada akhrinya mereka berdua lebih memilih pergi serta menunda semua kebingungannya itu sampai ada waktu luang yang dapat mereka habiskan lagi nanti.


Kringg, kringg, kringg ....


Suara handphone Sultan berbunyi, dan kali ini panggilan telepon itu berasal dari Rere, bukan dari penipu ataupun dari suara alarm.

__ADS_1


Jika bukan karena ucapan Azmi, mungkin Sultan takan terdiam dan melamun seperti orang kebingungan, bahkan raut wajahnya terlihat begitu dingin serta tatapannya juga begitu kosong.


Saking bingungnya Sultan, dia pun tak menyadari bahwa wanitanya itu sedang memanggil-manggil namanya, namun alangkah menyebalkanya Sultan, dan dia malah menjawab pertanyaan dari Rere apa, sementara wanitanya di sana bertanya kepada Sultan itu kenapa.


"Iya, apa Be?" tanya Sultan singkat, di mana raut wajahnya terlihat begitu sangat terkejut pada saat Rere berbicara dengan menggunakan nada suara yang agak sedikit keras itu.


"Ihhh ... aku bilang kamu kenapa, kok, kamu malah jawab apa! sebenarnya elu udah sadar apa belum sih Tan, perasaan dari tadi gue panggil-panggil elu cuma diam aja," ucap Rere terlihat bingung, kenapa sekarang sikap Sultan terlihat begitu aneh, biasanya Sultan selalu merespon ucapan darinya secepat mungkin.


....


Rere menggeleng-gelengkan kepalanya, dia mengira Sultan sedang marahan dengan Azmi, namun masalah Sultan tentunya bukan mengarah ke situ, melainkan dia hanya sedikit mengherankan beberapa kekurangannya itu saja bahwa ternyata kekurangannya yang sekarangan ini malah dijadikan titik kebingungan oleh semua orang.


"Emangnya kamu bikin ulah apalagi sih Tan? perasaan apa yang gue lihat belakangan ini, elu sering berantem sama teman-teman elu itu, bisa engga sih akur sedikit saja?" pinta Rere, namun apa yang sedang dia pikirkan itu tentunya tidaklah benar-benar terjadi, hanya saja bila soal berkelahi dengan orang lain sebenarnya hal tersebut sering Sultan alami.


Sultan terkejut ketika mana dia mendengar kalimat berkelahi, untung saja ucapan Rere tidak mengarah ke arah yang tengah Sultan pikirkan, bila itu terjadi, maka tamatlah riwayat hidup Sultan.


Sekarang Sultan agak sedikit gugup, namun kegugupannya tak membuat Rere curiga, dikarenakan Rere hanya mengira bahwa Sultan tengah berselisih dengan teman-temannya saja, bukan melainkan tengah berselisih dengan orang lain.

__ADS_1


"Engga, engga kok, Be, gue engga berantem dengan teman-teman gue, lagian gue cuma bingung karena mata gue ini selalu saja dijadikan titik permasalahan dan kebingungan oleh semua orang, bahkan kamu juga sering Be," Sultan hanya terlihat gugup di awal lontaran katanya saja, dan selebihnya dia berbicara seperti biasanya kembali.


"Dih, dasar rese! kenapa elu malah nuduh gue, lagian gue engga tahu apa yang elu maksud itu Tan."


"Masa iya sib elu lupa Be, itu loh ... soal lubang jarum dan sehelai benang," teka-teki dari Sultan membuat Rere tertawa, jadi selama ini dia sedang membicarakan suatu persoalan yang belum terselesaikan juga.


Ternyata itu alasan yang membuat Sultan bingung, padahal di sisi lain Rere juga sama-sama masih membingungkan hal tersebut itu, mengapa bisa Sultan memasukan helaian benang ke dalam lubang jarum yang sangat kecil hanya dengan satu kali mencobanya, sementara melihat tulisan di depan papan tulis saja dia begitu kewalahan, sampai-sampai kamera handphonenya yang menyaksikannya sendiri, bahwa Sultan sempat meminta bantuan darinya disaat situasi sedang genting-gentingnya.


"Terus aja ketawa Re! sampai elu mengingat waktu yang telah berlalu itu, bahwa seorang Rere ternyata tidak cukup pandai dalam menangani masalah sepele seperti memasukan dua helaian benang tipis sekaligus ke dalam lubang jarum yang tak begitu kecil-kecil amat, dan dengan polosnya seorang Rere meledek gue, tapi dia belum mengetahui bahwa gue lebih bisa daripada elu."


Rere tersenyum tipis, sepertinya dia malu karena dulu dia pernah meremehkan mata buruk Sultan yang ternyata apa yang Rere pikirkan tak sama seperti dugaannya itu.


"Maka dari itu Tan, kenapa elu bisa melakukan hal tersebut dengan begitu mudahnya, padahal mata gue baik-baik aja, tapi kenapa elu lebih bisa dari gue?" tanya Rere yang berharap Sultan menyimpan suatu rahasia yang bisa dia dengarkan.


"Tak ada alasan untuk mejelaskan semua itu Be, sampai sekarang gue juga masih bingung, namun apa yang gue rasakan sekarang ini memang benar-benar di luar dugaan, yang jelas gue hanya bisa bersyukur saja, dikarenakan bila gue mengeluh dengan apa yang telah beliau berikan, maka jatuhnya gue meremehkan keagungannya ini."


Rere dan Sultan tersenyum, apa yang telah Sultan ucapkan itu membuat wawasan Rere bertambah, dan apa yang dinamakan rasa beryukur itu harus Sultan tanami, bukan hanya Sultan, melainkan semua orang yang memiliki nasib yang sama dengannya, ataupun itu si pemiliki nasib yang lebih buruk darinya.

__ADS_1


__ADS_2