Cinta Dan Kenangan Terakhir

Cinta Dan Kenangan Terakhir
Chapter 195 : Lemah karena rindu


__ADS_3

Satu Minggu lebih telah berlalu, tepatnya Jumat sore, di mana sekarang Sultan tengah mengkemas rapi barang-barang yang akan dia bawa pulang ke Kota Sukabumi.


Sultan sengaja tidak pulang menggunakan motor tuanya, dikarenakan sore ini ia hanya akan pulang ke Kota Sukabumi seorang diri saja, sementara teman-temannya akan tetap tinggal di Tangerang dan akan memilih pulang di hari Jumat nanti.


Sebenarnya tujuan Sultan untuk pulang ke Kota Sukabumi itu hanya ingin memastikan keadaan Rere saja, dikarenakan sudah satu Minggu lebih ini Rere masih belum mengabari dirinya di sana.


Seperti biasa Dimas takan pernah membiarkan Sultan pulang seorang diri, apalagi sekarang kesehatannya sedang tidak memungkinkan untuk dia pulang ke Kota Sukabumi.


"Elu seriusan mau pulang sekarang Tan? bukannya elu itu masih sakit ya? mendingan elu pulangnya nanti aja dah Tan, barengan sama kita-kita Jumat depan," ujar Dimas begitu menakuti kondisi buruk Sultan yang sekarang ini.


"Gue kagak sakit Dim, pokonya elu tenang aja, gue bisa jaga diri gue sendiri kok," ucap Sultan berpura-pura kuat di hadapan mereka semua, padahal sekarang ia sedang merasakan pusing disekujur kepalanya.


"Benar apa kata Dimas Tan, mendingan elu istirahat dulu sampai keadaan elu benar-benar membaik," ucap Alamsyah sembari memegang bahu Sultan.


"Gua engga akan lama kok, di Sukabumi, nanti Minggu juga gue balik lagi ke sini."


Sultan memang pria yang sangat keras kepala, mereka semua memperdulikan kesehatannya, namun ia malah mengabaikan kesehatannya sendiri.


Mungkin bilamana Rere mengetahui kondisi Sultan yang sekarang ini dia pun pasti akan melarang kekasihnya untuk pulang ke Kota Sukabumi.


Mereka semua tak bisa berbuat apa-apalagi selain menuruti kemauan Sultan. Lantas Dimas pun menyalakan motornya untuk mengantarkan Sultan ke stasiun kereta.


Dimas menunggu Sultan hingga dia benar-benar pergi meninggalkan dirinya di Tangerang. Sultan melambaikan tangannya kepada Dimas, dan Dimas pun membalas lambaian tangannya dengan perasaan berat hati.

__ADS_1


"Gue bingung sama lu Tan! kenapa lu bela-belain pulang demi dia, sementara elu di sini sedang sakit seperti itu. Semoga lu baik-baik aja diperjalanan pulang nanti Tan," ucap Dimas seorang diri sembari menatapi langkah kaki Sultan untuk terakhir kalinya.


Setelah itu Dimas pun pergi meninggalkan area stasiun, sementara Sultan mulai memasuki kereta tumpangannya di sana. Untung saja penumpang di dalam kereta tak sebanyak waktu pertama kalinya Sultan pulang bersama dengan teman-temannya, jadi ia bisa duduk di kursi mana pun.


Dua jam telah berlalu, hingga mana Sultan pun telah tiba di stasiun Bogor. Sultan mulai mencari mobil Bogoran yang di dalamnya agak sedikit penuh agar supaya mobil tersebut dapat berjalan langsung tanpa menunggu isi mobilnya itu penuh terlebih dahulu.


"Ngerokok dulu satu batang boleh kali ya, mumpung mobil tumpangan gue ini masih kosong," ucap Sultan seorang diri sembari mengeluarkan satu batang rokok untuk ia hisap.


Sementara itu sopir mobil Bogoran datang menghampiri Sultan dan menyuruhnya untuk segera masuk ke dalam mobilnya, dikarenakan beliau akan melajukan mobilnya.


"Kang, mendingan ngerokoknya dilanjutin di dalam mobil aja," ucap amang sopir memanggil Sultan.


"Siap Mang, tapi engga apa-apa kan saya ngerokok di dalam mobil amang ini?" tanya Sultan sembari menghampiri amang sopir yang sempat memanggilnya itu.


....


Sultan mengangguk, lantas ia pun lalu masuk ke dalam mobil dan melanjutkan menghisap rokoknya di dalam sana. Tak lama kemudian mobil pun dilajukan dengan kecepatan standar.


Sultan berharap amang sopir akan melajukan mobilnya dengan kecepatan melebihi kecepatan standar agar dia bisa cepat tiba di Kota Sukabumi lebih awal.


"Malam ini Bogor sepi ya, Mang, agak-agaknya para pemudik pada ke mana ya, biasanya setiap saya pulang mobil Bogoran sering penuh," ucap Sultan terlihat heran, kenapa malam ini nampak sepi sekali.


"Saya juga engga tahu Kang, biasanya sih kayak gitu, tapi entah kenapa malam sekarang tiba-tiba sepi seperti ini, mungkin mereka udah punya kendaraan sendiri kali," ucap sopir pun sama seperti Sultan, di mana beliau juga mengherankan malam sekarang ini.

__ADS_1


"Tadi juga di kereta sama sepinya Mang, biasanya suka banyak penumpang yang sering rebutan kursi duduk, tapi sekarang kursi kereta pada kosong."


Amang sopir hanya bisa tertawa ketika beliau mendengarkan ucapan dari Sultan. Hari ini memang tak seperti biasanya, apa mungkin Kota Sukabuminya pun akan terlihat sepi, kalaupun itu benar, mampus Sultan! bisa-bisa dia pulang ke rumahnya hanya berjalan kaki saja.


Pada saat Sultan tengah asik berbincang bersama dengan Amang sopir, tak lama kemudian Dimas pun menelepon Sultan. Ia pun menjawab panggilan suara darinya sembari melontarkan ucapan yang tidak ingin Dimas dengarkan, yakni melihat Sultan celaka.


"Ke mana aja elu Tan, dari tadi gue telepon engga diangkat-angkat, elu udah sampai mana Tan?" tanya Dimas begitu memperhatikan Sultan.


"Gue lagi ada di rumah sakit Bogor Dim," canda Sultan membuat semua teman-temannya khawatir.


"Serius lu Tan? jangan bercanda ah! kenapa elu bisa ada di rumah sakit gitu aja?".


"Gue engga sengaja pingsan waktu gue mau ke luar dari kereta Dim, untung aja keretanya belum jalan, coba kalau keretanya udah jalan, bisa-bisa tubuh gue kelindes," ucap Sultan masih saja belum merasa puas membercandai mereka semua di sana, sampai-sampai mereka khawatir dan akan segera menyusul Sultan ke rumah sakit yang Sultan sebut-sebut itu.


Sultan tertawa lepas melihat mereka semua begitu mengkhawatirkan keadaannya yang sekarang ini. Padahal itu adalah sikap yang jarang sekali mereka berikan kepada Sultan di sana, tapi syukurlah hingga pada akhirnya mereka bisa saling mengerti keadaan semua temannya sekarang.


"Gila lu Tan! bercandanya kagak logis! kita semua udah bingung harus ngapain lagi kalau nanti Pak Mukhsin nanya sama kita, kenapa lu bisa masuk rumah sakit," ucapan Dimas membuat semua teman-temannya merasa lega, dan lagi ternyata Sultan tengah membercandai mereka semua.


"Bentar lagi gue sampai di Sukabumi Dim, gue sehat seperti biasanya kok, hanya saja yang membuat gue lemah itu adalah rindu gue sendiri Dim," ucap Sultan merasa puas telah menjahili semua teman-temannya di sana.


Sebenarnya Sultan melakukan semua itu atas dasar perintah dari Pak Mukhsin, beliau menyuruh Sultan untuk menilai seberapa jauh mereka bisa berkembang, dan seberapa baik rasa saling menjaga ikatan persaudaraannya di sana.


Ini adalah kabar baik untuk Pak Mukhsin, sepertinya hati beliau akan sangat tersentuh bilamana dia mendengarkan cerita dari Sultan ini nanti.

__ADS_1


__ADS_2