Cinta Dan Kenangan Terakhir

Cinta Dan Kenangan Terakhir
Chapter 220 : Menatap wajahnya


__ADS_3

Sultan kembali melajukan motor tuanya dengan kecepatan standar sambil sesekali menatap raut wajah Rere yang tengah sibuk mengerjakan tugas prakerinnya.


Tugas prakerinnya itu berupakan sebuah makalah bersampul biru, makalah tersebut diberikan kesetiap masing-masing siswa yang sedang melaksanakan ujiannya dalam bentuk PKL.


Sultan pun memilikinya, namun ia sering menyimpan makalah tersebut di dalam area Perusahaan, alasannya agar dia lebih mudah untuk meminta tanda tangan dari karyawan yang mendampinginya melaksanakan tugas prakerinya di sana.


Makalah tersebut memang harus sering dibawa ke dalam area Perusahaan, dan terlebih makalah tersebut bisa dibilang sebagai buku absensi kehadirannya di sana.


Maka dari itu kenapa Sultan selalu menyimpan makalah miliknya sendiri di dalam area gudang, kurang lebih agar ia tak lupa membawa makalahnya itu dari dalam kosan.


Sultan tak mau lama berdiam diri, lantas ia pun mulai membuka mulutnya agar ia dapat berbincang kembali bersama dengan Rere.


"Oyy, kamu lagi sibuk ya! lagi ngerjain tugas apaan sih Be? emangnya sekolah kita ngasih tugas tambahaan lagi bukan?" tanya Sultan penasaran, tugas apa yang sekarang sedang dia kerjakan itu di sana.


"Emangnya kenapa? elu mau bantuin gue? yaudah ayo sini Tan, bantuin gue ngerjain tugas prakerin ini, abisnya kalau gue diemin tugas ini malah semakin numpuk aja," ucap Rere membuat Sultan merasa minder, dikarenakan tugas dia pun masih ada yang belum dia kerjakan juga.


Ini adalah waktu serta momen yang tepat bagi Sultan, di mana membuat orang seperti Rere kesal, bete, marah, itu adalah hobbynya yang pertama.


"Apaan sih Re, gue kan cuma nanya, lagian buat apa coba gue ngebantuin cewe kasar seperti kamu! bawaannya males-males sendiri," ucapan Sultan tedengar sangat menjengkelkan sekali, hingga mana wanitanya dibuat kesal olehnya.


Rere terdiam dengan raut wajah yang sengaja dia kerutkan, dia mengira kalau Sultan akan benar-benar menghiburnya di sana, namun Sultan malah membuat dia semakin pusing saja.


Sultan sengaja membuang wajahnya pada saat Rere menatap raut wajahnya dengan tatapan yang seperti itu.

__ADS_1


Mungkin kalau Sultan ada di dekatnya sekarang, bisa jadi wajahnya akan dihajar kembali oleh Rere, si wanita kasar dan cantik itu di sana.


"Sayang sekali ya, kali ini gue ada di Tangerang, andai saja gue ada di dekatmu Re, dan mungkin gue akan membiarkan wajah gue ini dihajar kembali olehmu Re," ucap Sultan mulai merubah nada suara yang sangat menjengkelkannya itu denhan nada suara lembutnya.


"Apa susahnya tinggal pulang, kalau elu pulang mungkin gue engga akan sepusing ini Tan, sebenarnya gue takut kalau gue sendirian di sini Be, gue takut dengan para preman itu," ucapan Rere itu dengan seketika membuat Sultan gelisah, namun ia takan pernah membiarkan semangatnya hilang begitu saja hanya gegara dia takut dengan para preman itu.


"Mereka cuma manusia biasa seperti kita Be, percayalah kalau mereka juga memiliki rasa takut yang tak jauh sama seperti kita, lagipula mereka takan pernah berani gangguin kamu lagi Be, gue sendiri saksinya."


Rere menutup buku makalahnya, sekarang dia benar-benar berbincang bersama dengan pacarnya itu, tapi sangat disayangkan kali ini Sultan tengah fokus menatap jalanan, dan Rere sangat memaklumi posisi Sultan yang sekarang ini.


Rere menyuruh Sultan untuk berbicara tanpa harus dia menatap raut wajahnya, tapi seorang Sultan pastinua akan selalu mentap raut wajahnya meskipun dalam keadaan mendesak seperti saat ini.


....


"Engga tahu, gue engga denger ucapanmu apa Tan, abisnya suara kendaraan di sana bikin telinga gue jadi sakit aja hmm!" ujar Rere tengah membercandai Sultan dengan nada suara lembut ciri khasnya itu.


"Katanya kamu engga denger suara gue, tapi kenapa senyuman itu dengan seketika muncul dan dengan seketika membuat gue luluh."


Hal sesimpel itu pun dapat mengembalikan senyumannya, apalagi Sultan ada di sana yang menemani Rere langsung, mungkin dia akan memeluk tubuh Sultan tanpa perintah.


Sultan adalah orang kepercayaan Rere, ia takan pernah mau membiarkan kekasihnya sendiri merasakan ketakutan tiada henti seperti itu di sana, dan sampai kapan pun Sultan takan merubah senyumannya itu menjadi rasa kekhawatiran.


Ia berhenti sejenak di persimpangan jalan untuk membeli satu porsi nasi goreng, dikarenakan perutnya telah memanggil rasa lapar itu dengan waktu yang cukup lama.

__ADS_1


Sultan menyuruh Rere senyap, ia merasa tak enak hati kepada pedangan nasi goreng langganannya itu, sementara beliau pernah cerita bahwa dia masih sendiri di sana.


Tak lama kemudian Sultan pun pergi setelah pesanannya siap. Ia memang sengaja tak langsung menaruh handphonennya di atas Phone Holder, dikarenakan sekarang Sultan telah tiba di area sekitaran tempat ia mengekos.


Sultan mendorong motor tuanya sambil menggenggam handphonennya itu dilengan kirinya, sementara nasi goreng yang dia beli dia simpan di samping kanan kemudi stang motor tuanya.


Ternyata perasaan Sultan memang benar, bahwa dia melupakan kunci ruangan kontrakan yang dipegang oleh Alamsyah.


Dengan sangat terpaksa dia harus diam di luar ruangan kontrakan sampai semua temannya tiba di sana. Lantas Sultan pun pergi ke warung sebelah untuk membeli air mineral botol.


"Sebenarnya kamu mau ke mana lagi sih Tan? emangnya kamu engga cape apa seharian ini jalan-jalan terus di sana? istirahat beberapa menit aja bisakan Tan?" tanya Rere nampak heran, kenapa dia masih saja keluyuran, padahal kontrakannya sudah ada di depan mata.


"Gue lupa Be, kalau kunci kontrakannya masih ada ditangan temen gue, makanya ini gue mau beli minum dulu ke warung yang ada di depan jalan," ucap Sultan membuat Rere tertawa.


"Kunci kontrakan udah kamu bawa belum Tan? kalau elu lupa membawanya nanti elu engga bisa masuk ke dalam kontrakan loh."


"Telat Be! telat! lagian kenapa sih bukan dari tadi ngomongnya, dasar rese lu Be! katanya kamu itu pacar yang lebih pengertiannya dari gue."


"Ohh, telat ya! maaf Tan, gue kan kagak tahu, gue kira elu bawa kunci cadangan."


Ucapan Rere dengan seketika membuat Sultan sadar, bahwa dia hanya perlu meminjam kunci cadangan tersebut ke orang pemilik kontrakan saja, lagipula waktu itu belum terlalu malam juga, dan mungkin pemilik kontrakan masih ada dan belum tidur.


Sultan membalikan langkah kakinya, ia tak jadi pergi ke warung untuk membeli air mineral, dikarenakan ia harus segera pergi ke orang pemilik kontrakan secepat mungkin selagi mereka masih ada dan belum tertidur pulas.

__ADS_1


__ADS_2