
Waktu itu Sultan tak benar-benar pergi meninggalkan semua teman Aisyah, dan berhubung situasi masih belum terkendali, makanya Sultan menyuruh semua temannya untuk menunggu para wanita itu sampai mereka ke luar dari dalam kontrakan teman prianya.
Sultan sengaja menunggu di pinggir jalan, dan tepatnya berhadapan langsung dengan gapura, yang di mana itu adalah salah satu pintu untuk masuk ke dalam kontrakan para teman-teman Aisyah itu bersinggah.
Tak lama kemudian Sultan pun melihat Aisyah tengah berlari seorang diri di dalam sana, lantas Sultan dan teman-temannya itu ikut berlari juga, dikarenakan mereka semua takut kalau Aisyah sedang dikejar-kejar oleh para brandalan gila itu.
Ketakutan mereka tak hanya sampai di situ saja, pada saat teman-teman Sultan melihat Aisyah menangis sehisteris itu, dengan seketika mereka bertanya-tanya siapa orang yang sudah berani membuatnya menangis.
"Syah, kamu kenapa? bilang sama gue siapa orang yang udah berani membuat kamu menangis seperti ini, biar gue habisin orang-orang itu," tanya Sultan sambil melihat ke jalanan depan, namun di sana tidak ada siapa-siapa, bahkan sampai teman-temannya pun tidak ada di sana juga.
Sultan semakin dibuat takut saja, dan terlebih Aisyah datang seorang diri, sementara teman-teman wanitanya sekarang entah pergi ke mana.
"Syah, teman-teman kamu pada pergi ke mana? jangan bilang mereka semua ditangkap oleh para brandalan itu lagi, pokoknya awas aja kalau para cecunguk itu sampai berani nyakitin teman-teman kamu semua," tanya Azmi sama khatirnya seperti Sultan dan teman-teman Sultan yang lainnya.
Disuatu sisi Aisyah sangat senang melihat mereka semua sebegitu perduli kepadanya, namun disuatu sisi Aisyah dibuat kecewa oleh teman-teman prianya itu.
"Mendingan kamu bilang sama kita Syah, di mana para brandalan itu sekarang, biar gue dan teman-teman gue yang datangin markasnya itu, sementara kamu pulang duluan sama Sultan," tanya Alamsyah yang sudah siap bertarung kembali bersama dengan para brandalan itu.
Tatapan mata mereka begitu mengerikan, dan di sana hanya Alamsyah yang terlihat sesiap itu. Sementara Sultan di sana hanya bisa sabar menunggu jawaban dari Aisyah terlebih dahulu.
Sultan menyuruh semua temannya untuk diam sejenak sampai Aisyah bisa menceritakan semua kejadian yang sebenarnya itu seperti apa.
__ADS_1
Tak lama kemudian mereka mulai terlihat lebih santai dari waktu yang sebelumnya, dikarenakan apa yang mereka takutkan tadi itu tidaklah benar, dan ternyata teman-teman Aisyah semuanya baik-baik saja.
"Kang Sul, maafin kita ya, karena kita semua benar-benar udah lalai dalam menjaga perasaan Aisyah yang sekarang ini," ucap salah satu teman baik Aisyah, yang di mana dia terlihat begitu kelelahan pada saat dia mengejar Aisyah.
Sultan tersenyum tipis ketika dia melihat mereka semua ternyata masih perduli terhadap kesedihan Aisyah yang sekarang, lantas Sultan menanyakan sebab mengapa Aisyah bisa menangis seperti itu kepada mereka.
"Kalian semua engga salah kok, dan sebenarnya kalian engga perlu minta maaf sama gue, lagipula kita bukan siapa-siapanya Aisyah, kita berdiri di sini semata-mata hanya ingin menjalankan tugas kita sebagai manusia aja."
"Ohh, iya, tapi ngomong-ngomong kita boleh tahu engga siapa orang yang udah bikin Aisyah menangis seperti sekarang ini?".
Ucapan Sultan dan pertanyaan darinya itu dijawab langsung oleh teman dekat Aisyah, dan di sana Sultan dibuat terkejut bahwa ternyata orang-orang yang sudah berani membuat Aisyah menangis itu adalah teman prianya sendiri.
....
Sultan mengepalkan tangannya, bila memang mereka orangnya, maka niat yang sebelumnya itu benar-benar akan terjadi.
"Kalau boleh tahu kontrakan mereka itu yang mana ya?" tanya Sultan masih dengan tatapan rendah hatinya.
Sementara itu di belakang sana, teman-teman Sultan tengah berbisik agar mereka semua bisa menjaga Sultan sebelum amarahnya itu lepas kendali.
"Jangan sampai Sultan lepas kendali, bila itu terjadi yang gue takutkan teman-teman Aisyah akan dibuat cacat seumur hidup olehnya," bisik Dimas begitu pelan terdengar ditelinga Azmi.
__ADS_1
"Gue engga yakin bahwa Sultan akan melakukan hal yang semacam itu kepada mereka Dim, lagipula dia bukan siapa-siapanya Aisyah, dan menurut gue Sultan engga akan terlihat semarah itu dah," bisik Azmi terdengar sama pelannya ditelinga Dimas.
"Sekarang Sultan hanya memiliki dua pilihan saja, diantaranya dipilihan yang pertama ada pada memukul, dan dipilihan yang kedua ada pada menegaskan, mendingan sekarang elu berdua awasi dulu si Sultan itu selagi situasinya masih hangat," bisik Alamsyah yang ternyata dia juga tak sengaja sempat mendengar bisikan dari mereka.
Mereka berdua mengangguk kepada Alamsyah, dan pada saat itu juga tiba-tiba Sultan pergi untuk menghampiri para semua teman-teman Aisyah.
Tatapan mata Sultan yang sekarang memang masih terlihat agak sedikit tenang, namun sikap Sultan itu tentunya takan pernah bisa bertahan lama, dikarenakan dia bersikap seperti itu hanya di hadapan para teman-teman wanitanya saja karena sebab Sultan tak mau membuat mereka semua takut kepadanya.
"Sultan udah pergi tuh, lebih baik kita ikutin dia dari belakang, sementara Utuy dan Dimas jagain Aisyah beserta teman-temannya juga, soalnya di sini hanya elu berdua yang memiliki postur tubuh yang cukup besar," ucap Alam sembari pergi meninggalkan kedua temannya itu di sana.
"Gue pergi dulu Bre, jagain mereka semua, kalau ada apa-apa segera hubungi gue oke," ucap Azmi yang sama-sama pergi meninggalkan mereka berdua.
Pada saat Sultan pergi, Aisyah baru bisa melihat Sultan, lantas dia pun bertanya kepada Dimas bahwa sekarang teman-temannya itu akan pergi ke mana.
"Mereka mau pergi ke mana?" tanya Aisyah singkat, dikarenakan air matanya yang jatuh membuat dia tak bisa bertanya panjang lebar.
Aisyah hanya sedang menahan isak tangisnya, dia adalah seorang wanita yang tidak mau terlihat lemah di hadapan semua temannya, dan terlebih ini adalah pengelaman pertama bagi teman-teman Aisyah melihat Aisyah menangis seperti sekarang ini.
Palingan mereka semua hanya bisa melihat Aisyah murung saja, dan itu pun kemurungan Aisyah hanya bisa dilihat pada saat Aisyah sedang sakit saja, dan selebihnya mereka tak pernah melihat kemurungan Aisyah yang lainnya lagi selain melihat kemurungan itu.
"Sultan pernah bilang sama gue Syah, sekuat-kuatnya kita dalam menahan perihnya kehidupan yang sekarang ini, semua itu bukan tidak boleh untuk ditangiskan, menangislah selagi bisa untuk dilakukan, lepaskan semua yang lara, dan hadirkan apa yang bisa membuat kamu tertawa sehabis lara tersebut mampir di dalam kehidupan kamu."
__ADS_1
"Maka dari itu Sultan membuat sebuah prinsip untuk orang-orang seperti kita yang selalu menghabiskan waktunya hanya untuk berkelahi di jalanan, prinsip itu tidak lain adalah sebuah candaan yang dapat mengubah semua rasa lelah menjadi sebuah anugrah."
Ucapan Dimas sangat bijak, Aisyah mulai terlihat tenang sekarang, namun ketenangan itu hanya terlintas sesaat saja dan tak lama, sampai hingga Utuy ikut menceritakan pengalaman terbaik yang dia alami pada saat dia ikut serta dalam mencoba berkelahi bersama dengan teman-temannya itu tadi malam.