
"Ohh, iya Re, gue mau nanya apakah elu masih mengingat ucapan yang sudah lama terjadi ini," ucap Sultan membuat sosok Rere penasaran, sebenarnya apa yang tengah prianya itu bicarakan kepadanya.
"Ucapan yang mana ya, Tan? gue benar-benar bingung dengan apa yang elu ucapkan itu, soalnya banyak sekali ucapan manis yang harus gue ingat."
"Kamu Sulan kan? teman dekat Rizki semasa di SMP."
Pagi itu Rere dibuat tersenyum oleh Sultan, mengapa dia masih mengingat kejadian itu, sementara dirinya benar-benar lupa bahwa sebenarnya mereka berdua pernah bertemu dan saling berbincang satu sama lain di tempat yang tak pernah mereka duga.
Bilamana Sultan tak membicarakan kejadian tersebut, mungkin di sana Rere takan pernah mengingat ataupun takan pernah mau membahasnya lagi, dikarenakan kejadian itu memang sudah sangat lama berlalu.
"Aku kagum sama kamu Tan, ternyata selama ini kamu masih mengingat kejadian itu, sementara aku baru menyadarinya setelah kamu mengungkapkannya," ucap Rere benar-benar terkejut melihat Sultan masih saja mengingat kejadian di tempo hari itu.
"Sebenarnya gue juga baru menyadarinya tadi setelah gue melihat foto-foto kenangan yang berada di dalam galeri handphone gue."
"Ternyata kita udah pernah saling berbincang ya, Tan, gue kira pertemuan di hari itu merupakan hari pertama kita bertemu dan saling berbincang satu sama lain."
Rere tersenyum dengan begitu lepasnya, ternyata memang benar apa yang dia ucapkan itu, dulu mereka berdua pernah saling bertemu.
Meskipun dipertemuan itu mereka tak sempat saling tatap-menatap, namun akan tetapi dipertemuan itu rasanya kedua belah pihak sudah bisa saling menemukan titik letak, di mana rasa saling mengenal satu sama lain sepertinya sudah pernah mereka rasakan sebelumnya.
"Kamu ingat engga Tan, waktu itu kamu pernah bilang bahwa sebentar lagi dan takan lama lagi gue akan menjadi milikmu, ternyata ucapanmu itu semuanya benar-benar terjadi kepada kita ya."
"Untuk sementara waktu ini yang gue ingat hanyalah itu Re, semuanya memang di luar dugaan ya, tapi gue tetap bersyukur, dikarenakan apa yang gue ucapkan itu benar-benar terjadi."
Tadinya alasan Rere memvideocall Sultan dikarenakan sebab dia hanya ingin mengetahui kondisi pacarnya itu saja, berhubung Sultan membicarakan masalah ini, dengan seketika Rere pun ingin menanyakan beberapa hal yang berhubungan tentang ucapan Sultan di tempo hari itu.
__ADS_1
"Apakah yang kamu ucapkan waktu itu memang benar datang dari lubuk hatimu yang paling dalam Tan? soalnya gue merasakan bahwa ucapanmu itu memang bukan suatu kesengajaan, melainkan kamu benar-benar tulus mengungkapkannya agar gue mengetahui isi hati elu yang sebenarnya itu seperti apa," pertanyaan dari Rere membuat sosok Sultan tersenyum lebar.
Sultan pun tak dapat mengiranya, bahkan dia pun tak mengetahui jelas apakah ucapan itu merupakan sebuah unsur dari kesengajaan ataupun memang benar-benar disengaja olehnya.
Sultan terdiam sekiranya ada 1 menitan. Di sana Rere pun tak mau menanyakan hal yang lain selain menanyakan ucapan Sultan di tempo hari itu.
"Entahlah Re, gue juga bingung, sebenarnya gue mencintai elu dari sejak lama, bisa jadi sebelum elu berpacaran dengan teman gue itu."
"Alasannya memang engga jelas, hanya saja gue mencintai elu karena gue merasakan bahwa elu dan gue memiliki beberapa kesamaan yang sama."
....
"Sebenarnya kita bisa mendeskripsikannya, dari matanya, dari wajahnya, dari bibirnya, mau pun itu dari sifat, serta sikapnya juga."
"Teman-teman gue semuanya membicarakan hal itu kepada gue, bahkan sampai karyawan pun benar-benar mendeskripsikan hal yang sama seperti yang gue pikirkan."
Bila Sultan menanyakan alasan mengapa Rere mencintainya, maka dari itu juga Rere akan menjawab hal yang sama dengan apa yang telah Sultan ungkapkan kepadanya itu.
Mereka berdua terdiam dengan diiringinya suara angin yang bergemuruh kencang. Tanpa terasa perbincangan itu telah menghabiskan banyak waktu, sehingga suara azan membuat mereka tersadar kembali.
"Udah azan Re, lebih baik sekarang kita salat dulu yu, dan gue juga tahu kalau sekarang elu pasti belum mandikan?" tanya Sultan membuat Rere malu.
"Elu sih Tan, makanya kalau mau cerita itu diharapkan menceritakan hal yang membosankan aja, jadinya gue lupa waktu gara-gara elu."
Ucapan Rere terdengar seperti sebuah alasan saja ditelinga seorang Sultan, bahkan bila Sultan melihat pipi Rere yang sekarang semerah apa, pastinya Sultan akan membuat Rere semakin kewalahan dalam menghadapi sikap menyebalkan yang Sultan miliki itu sekarang.
__ADS_1
"Alesan! bilang aja elu suka Be, dikarenakan kondisi pacarmu udah mulai membaik sekarang."
Dan akhirnya Rere tak perlu lagi menanyakan kondisi pacaranya yang sekarang seperti apa, lantaran Sultan telah memberitahukan kondisinya kepada Rere tanpa dia yang menanyakannya lebih dulu.
Setelah videocall dimatikan, Di sana Rere pun masih tersenyum-senyum sendiri atas dasar tanpa sengaja dia mendengar bahwa kondisi Sultan yang sekarang mulai membaik.
Sebenarnya Rere memang mengharapkan Sultan pulih secepat mungkin dikarenakan dia ingin sekali bertemu dan melihat Sultan seperti di mingu-minggu kemarin.
Sementara itu pada saat Sultan akan pergi ke mesjid, dengan seketika Dimas menahan langkah kaki Sultan. Dia sengaja menghentikannya karena dia ingin ikut pergi ke mesjid bersama dengannya.
"Eitss ... tunggu Tan! gue ikut," ucap Dimas sambil menggunakan sarungnya di depan teras kontrakan.
"Lama ah! gue tinggal juga lu Dim."
Sultan mengacuhkan ucapan dari Dimas. Dia lebih memilih berjalan lebih dulu, sementara dia membiarkan Dimas mengejarnya sampai hingga Sultan berharap Dimas akan terjatuh lagi.
Namun, sayangnya sekarang Dimas lebih memperhatikan langkahnya, sampai dia benar-benar berjalan sambil menjingkitkan kedua kakinya itu.
"Yaelahh ... elu udah kayak bocah abis disunat aja sih Dim, lagian elu bisakan jalan seperti biasanya aja, geli gue sumpah Dim, memperhatikannya," ucap Sultan sambil sesekali melemparkan satu buah batu kecil tepat mengenai tangan Dimas.
"Perhatiin aja jalan lu Tan, soalnya gue takut jatuh lagi, lagian baru kali ini gua mandi sampai yang kedua kalinya, dan itu semua gara-gara ulah elu."
Tak lama kemudian datanglah sosok orang tua, sekiranya umur beliau sama dengan umur ayah Dimas. Mengapa tidak membedakannya dengan umur ayah Sultan sendiri? ya, dikarenakan umur ayah Sultan jauh lebih tua bila dibandingkan dengan umur dari ayah Dimas.
"Kenapa Dek? abis disunat bukan?" tanya beliau membuat sosok Sultan tertawa lepas.
__ADS_1
"Gue bilang juga apa Dim, lagian elu sih engga mau dengerin ucapan gue tadi. Engga usah dipikirin pak, biasalah itunya lagi kesemutan gegara pagi ini dia mandi hingga sampai yang kedua kalinya," tukas Sultan membuat orang tua tersebut tertawa.