
Apa yang harus Sultan lakukan selama 4 hari ke depan ini, dari awal libur ia merasa sangat bosan, dan ia terus saja berdiam diri di dalam kontrakannya tanpa melakukan pekerjaan apa pun, apalagi sekarang sifat Rere begitu dingin seperti kulkas sepuluh pintu, Sultan sama sekali tak mengerti apa maksud dari Rere mendiamkannya.
Andai saja semua teman-temannya ada di sana, mungkin ia takan pernah merasa sesepi ini, dan andai saja mereka semua melupakan tanggal merahnya itu, mungkin sekarang mereka masih ada di dalam kontrakan.
Para guru sering menyebut anak sekolahan adalah siswa yang sangat rajin, dan juga tekun, di mana kerajinan serta ketekunan mereka itu dapat melebihi semua guru yang ada di Indonesia.
Bayangkan saja mereka semua rela menghitung hari di kalendernya sendiri tanpa sedikit pun mereka mau melewatkan tanggal merah di kalendernya itu, makanya kenapa para guru sering menyebut semua muridnya sebagai siswa paling tekun, dan alasannya adalah itu.
Namun, berbeda dengan teman-teman Sultan, selama mereka ada di Tangerang, mereka semua jadi melupakan kalendernya, bahkan mereka juga melupakan tanggal merah yang sering mereka nanti-nanti itu selain tanggal merah di hari Minggu.
"Kayaknya dia beneran engga akan ngabarin gue lagi dah di sini, sampai sekarang pun pesan Whatsapp gue juga masih belum dia balas-balas, mungkin pagi nanti setelah gue selesai melaksanakan salat subuh, gue mau mencoba menelepon dia lagi," ucap Sultan berbicara seorang diri di dalam ruangan kontrakan, yang di mana ia pun tak lupa untuk melihat setatus kontak Whatsapp Rere, dan ternyata dia off pada saat Sultan tengah melaksanakan ibadah salat magribnya di dalam mesjid.
Sultan menyimpan ponselnya di bawah lantai kontrakan, dan lalu setelah itu ia pun memejamkan matanya perlahan demi perlahan, dikarenakan bilamana ia menunggu Rere, sampai kapan pun dia takan pernah mau membalas pesan Whatsapp darinya.
Pada saat mata Sultan telah dipejamkan, tak lama kemudian di luar ruangan kontrakan terdengar ada suara wanita yang mengucapkan salam kepadanya.
__ADS_1
Sultan terbangun dari tidurnya, dia sempat terkejut ketika mendengar suara ucapan salam tersebut di luar sana. Sultan tak langsung pergi membukakan pintu kontrakan, dia terdiam sejenak hanya untuk memastikan suara yang tak asing baginya itu agak-agaknya seperti Aisyah.
"Aihh ... baru juga merem! itu siapa lagi, tapi kalau didengar dari suaranya, gue kayak mengenal dekat suara itu, apa mungkin itu Aisyah dan kawan-kawannya? lebih baik gue ke luar untuk memastikan siapa dia," ucap Sultan berbicara sambil menyandarkan tubuhnya itu di balik tembok kontrakan.
Sultan membuka pintu kontrakan sambil menjawab ucapan dari orang tersebut itu. Dan ternyata memang benar, itu adalah Aisyah, teman kenalannya di sana.
"Wa'alaikum Salam, tunggu sampai waktu telah menunjukan pukul dua belas malam ya, tetap diam di sana, Sultan akan segera tiba. Tuh kan, benar apa kata hati gue ini, ternyata tamu gue sekarang adalah Aisyah, apa yang membuat langkah kakimu melangkah jauh hingga sampai ke kontrakan gue ini Syah? teman-temanmu pada ke mana?" ucap Sultan menyambut tulus kedatangan Aisyah sambil memberikan senyumannya.
Sultan terlihat tak begitu mengejutkan kedatangan Aisyah, lagipula ia sudah tahu kalau orang itu adalah temannya yang bernama Aisyah.
....
"Untung teman-teman aku lagi pada pulang ke Sukabumi, kalau ada pastinya mereka akan cemburu melihat kamu hanya memberikan makanan lezat ini untuk aku saja Syah, terima kasih ya," ucap Sultan, di mana dia pun lalu mengambil kotak makanan tersebut dan lalu menyimpannya di dalam ruangan kontrakan.
"Seharusnya aku yang bilang terima kasih sama kamu Tan, soalnya karena kamu wawasan aku bertambah, semoga suatu hari nanti kita bisa bertemu di tempat yang berbeda tentunya ya," ucap Aisyah membuat Sultan tersenyum, dan tak lama setelah itu dia pun meminta izin kepada Sultan untuk kembali ke kontrakannya lagi.
__ADS_1
Sultan pun lalu masuk ke dalam kontrakan, dikarenakan dia akan mengambil jaketnya di dalam sana terlebih dahulu, dan sekaligus dia juga ingin mengantarkan Aisyah hingga sampai ke kontrakannya.
Tak lama setelah itu Sultan pun ke luar dari dalam ruangan, mereka berdua mulai melangkahkan kakinya itu dengan perlahan-lahan.
Mereka terdiam dari awal melangkahkan kakinya di sana, entah kenapa Sultan menyuruh Aisyah untuk diam, mungkin saja dia merasa tak enak hati kepada semua orang yang ada disekitarnya.
Setelah ke luar dari gang kontrakan Sultan, dan di sana dia membolehkan Aisyah kembali berbicara, namun Aisyah pun bingung harus memulai pembicaraan dari mana.
"Ohh, iya Syah, teman-teman bawelmu itu pada ke mana? padahal gue mau minta mereka semua untuk nemenin gue di sini, abisnya sekarang Tangerang jadi sepi setelah teman-teman gue pulang ke Sukabumi," canda Sultan, di mana baru pertama kali Aisyah melihat dia merasa kehilangan seperti itu di sana.
"Sebenarnya sebelum gue berangkat ke kontrakanmu, mereka semua sempat ingin ikut Tan, tapi gue lebih memilih untuk jalan sendirian aja, dikarenakan mereka itu memang cewe-cewe seperti yang kamu sebutin itu tadi, bawel," ucap Aisyah sambil sesekali menatap raut wajah Sultan yang tengah fokus menatapi jalanan di malam hari itu.
Tangerang adalah Kota yang sangat ramai, disetiap sore, dan bahkan sampai malam datang pun semua orang-orang dari berbagai komplek pada berdatangan ke tempat tersebut.
Apalagi kalau malam Minggu, tempat tersebut pastinya akan dipenuhi oleh para pedagang, serta orang-orang yang bermain juga.
__ADS_1
"Tangerang sangat ramai ya, Syah, berhubung kamu adalah orang paling lama tinggal di sini, gue mau nanya lagi nih sama elu, tapi pertanyaan ini engga terlalu penting juga sih, jadi udahlah engga usah dibahas," canda Sultan kali ini membuat Aisyah benar-benar geram, lantas dia mencubit lengan Sultan sekeras melebihi kerasnya cubitan Dimas.
"Ternyata kamu bisa juga ya, jadi orang rese! jangan gitulah, ayo sini curhat yang banyak sama gue, mau masalah apa pun pokonya kalau udah jatuh ditangan ahlinya, semua pasti beres," ucapan Aisyah membuat Sultan berpikir, ternyata dia adalah orang yang sama dengan dirinya sendiri, di mana Aisyah dan Sultan adalah pemuda-pemudi yang sangat perduli dengan perasaan orang lain, apalagi bila soal menangani teman-temannya yang memang tengah curhat kepadanya, dan tentunya Sultan selalu berdiri dibarisan paling depan untuk mereka semua.