Cinta Dan Kenangan Terakhir

Cinta Dan Kenangan Terakhir
Chapter 62 : Terpanah kembali


__ADS_3

Motor tua yang mereka naiki itu telah diberhentikan kembali oleh Sultan di sana, yang di mana tujuan mereka untuk pergi ke stasiun Sukabumi pun telah tiba. Rere pun lalu turun dari motor tua itu sembari memperhatikan Sultan yang tengah memarkirkan motornya tersebut itu diparkiran stasiun sana.


"Udah sampai Re, kamu masuk duluan aja ke dalam, entar gue nyusul ke sana."


"Elu mau ke mana dulu Tan?".


"Gue cuma mau parkirin motor dulu aja Re."


"Dih, gue kira elu mau kemana, yaudah lah Tan, bareng aja masuknya, gue tungguin kok."


"Ini anak tahu aja dah kalau gue mau pergi ninggalinnya sendirian di sini, emang susah kalau dia engga mau pergi jauh dari gue, yang ada kalau gue nekat! Rere pasti bakalan nampar gue kembali," ucap Sultan dalam hati sembari melirik Rere dengan tatapan jahilnya itu.


Tak lama setelah Sultan memarkirkan motor tuanya itu di sana, mereka berdua pun lalu masuk ke dalam stasiun untuk menunggu Kondektris tiba, yang di mana kondektris itu adalah petugas wanita yang bertanggung jawab dalam melakukan pemeriksaan tiket keberangkatan kereta, namun yang sebenarnya tugas mereka bukan hanya itu saja, dan melainkan masih banyak lagi tugas yang harus mereka kerjakan selain tugas ini.


Dan setelah itu, Sultan bersama dengan Rere pun lalu duduk di kursi yang telah di sediakan di dalam stasiun sana sebelumnya. Mereka berdua pun lalu kembali berbincang dengan sangat lepas, sembari tersenyum-senyum akan pembahasan yang mereka bicarakan itu memang menyangkut pautkan urusan hati.


"Elu belum makan kan Re? dan seperti biasa, gue cuma bisa buatin elu makanan ini aja Re, engga apa-apa kan?" ucap Sultan sembari mengeluarkan makanan yang ia buat dari rumahnya itu tadi.


"Engga apa-apa lah Tan, gue suka kok, sama masakan kamu, dan lagian masakan kamu itu enak loh Tan," ucap Rere sembari menyuapi Sultan makan terlebih dahulu.


"Enak juga ya, Re, masakan gue ini."


"Lagi memuji diri lu sendiri lah tu, hehe."

__ADS_1


Sultan pun lalu menyuapi Rere makan di sana, dan dengan manisnya Rere menyantap makanan yang Sultan buat itu sembari tersenyum ke arahnya, yang di mana Sultan selalu bisa membuat Rere merasakan kembali arti dari kata bahagia itu seperti apalagi.


Walaupun kebahagiaan yang mereka buat-buat itu dibilang cukup sederhana, namun canda, tawa, dan mesra selalu mereka terima dengan setulus mungkin, dan bahkan senyuman itu selalu ada, walaupun diri mereka masing-masing di sana sedang tak dipertemukan kembali oleh Tuhan.


Dan seperti biasa, Rere pun menyantap makanan yang Sultan buat itu sampai habis, dikarenakan Rere memang sangat suka, bilamana prianya itu langsung yang menyuapinya makan di sana karena kelakuan Sultan terhadap dirinya itu, bisa dibilang cukup unik, dan bahkan ia menyuapi Rere seperti hal nya ia sedang menyuapi anak kecil yang sulit untuk disuruh makan.


"Satu suap lagi Re, buka mulutnya ya? kereta api mau masuk nih, tutt, tutt, tutt ... ," ucap Sultan sembari tersenyum ke arah Rere.


"Emangnya gue anak kecil apa Tan? ada-ada aja kelakuan pacar gue yang satu ini," ucap Rere sembari tertawa bersama dengan Sultan di sana.


Setelah mereka berdua lama menunggu di dalam stasiun tersebut itu di sana, dan akhirnya tempat untuk mereka berdua membeli tiket kereta pun telah dibuka. Sultan dan Rere pun lalu pergi untuk mengantri, dikarenakan setiap satu orang hanya bisa membeli lima tiket saja, dan terlebih anggota dari keluarga Rere, jumlahnya lebih dari lima orang, dan jadi Rere pun harus ikut mengantri dengan Sultan di sana juga.


....


Dan kemudian itu, Sultan bersama dengan Rere pun lalu pergi ke luar dari stasiun, dikarenakan mereka lebih memilih untuk memprioritaskan yang lebih tua untuk duduk di dalam sana.


"Elu masuk dulu aja Re, biar gue yang nunggu mamah di sini, dan bila nanti mamah elu udah sampai, tolong kasih tahu gue ya, entar biar gue yang menjemput mereka di depan gerbang stasiun."


"Engga Tan, ah, gue mau nemenin elu aja di sini, soalnya gue selalu ngerepotin elu mulu, jadi gue merasa engga enak hati sama elu Tan."


"Gue itu pacar elu Re, mau elu banting juga engga apa-apa, asalkan elu bisa tersenyum sama gue, dan terlebih elu juga yang udah merubah sikap gue menjadi seperti ini Re, dan gue hanya bingung Re, entah apa yang harus gue bayar ke elu sekarang ini."


Dengan seketika, Rere pun lalu masuk kembali ke dalam stasiun, dikarenakan ucapan Sultan itu bisa membuat Rere menjadi gila karena sikap manis yang Sultan berikan itu kepadanya, sungguh akan membuat Rere tersenyum-senyum sendiri tanpa henti.

__ADS_1


"Nah kan Re, akhirnya elu baper juga, gue pasti bakalan nungguin elu kembali ke sini lagi kok, tapi awas aja kalau elu tersenyum sama gue Re! entar gue bakalan karungin elu di sini," ucap Sultan dalam hati sembari melihat langkah Rere yang mulai masuk kembali ke dalam stasiun.


Tak lama setelah Rere berdiam diri di dalam sana, ibunya itu pun lalu menelepon Rere, bahwa beliau berserta keluarganya telah tiba di depan gerbang pintu masuk stasiun Sukabumi.


Dan lantas, Sultan pun lalu menghampiri mereka di depan sana, yang di mana mereka sedang menunggu salah satu dari Sultan dan Rere untuk menjemput mereka di depan gerbang pintu masuk stasiun tersebut itu di sana.


"Mah, ayo masuk? sebentar lagi kereta kita mau berangkat," ucap Sultan sambil mengecup kembali tangan ibu Rere itu.


"Mamah kelamaan engga Tan, datang ke sini nya?".


"Engga kok, Mah, malahan mamah datangnya tepat waktu, jadi mamah engga usah nunggu lama lagi."


"Calon menantumu ini baik Teh," ucap bibi Rere.


Sultan pun lalu tersenyum dan tertawa kembali, namun kali ini sungguh berbeda, yang di mana ia ditemani tertawa oleh keluarga Rere di sana. Itu adalah hari yang di mana sangat-sangat mewakili hati Sultan, dan ini adalah sebuah tulisan, yang di mana tulisan ini akan selalu ikut menceritakan kisahnya di sini, di kota ini, dan di negri yang begitu indah ini.


"Kita akan berpisah di sini ya, Tan, tapi sayangnya kamu engga mau ikut sama kita, padahalkan kalau kamu ikut pasti seru," ucap Rere.


"Iya Tan, kenapa kamu engga ikut sama kita aja, katanya kamu penulis kan? yaudah, ayo ikut kita Tan, biar nanti kamu bisa nulis cerita tentang kisah cinta kamu sama Rere di sana juga," ucap Teh, Fitri, yang di mana dia adalah pacar dari kakak Rere yang sedang bekerja di Jepang sana.


"Engga Teh, Sultan masih ada urusan sedikit, mungkin ... kapan-kapan Sultan bakalan ikut Teh."


"Yaudah kalau gitu Tan, kita duluan pergi ya, sebelumnya, teteh mau berterima kasih karena kamu udah mau bantuin Rere juga di sini ya."

__ADS_1


"Iya Teh, sama-sama, kalian hati-hati ya, kalau ada apa-apa? segera hubungi Sultan."


Rere pun dengan perlahan mengecup tangan Sultan, ketika mana Teh, Fitri masuk ke dalam gerbong yang akan mereka duduki itu di dalam sana. Dan lagi-lagi Sultan dibuat terpanah olehnya kembali, namun sekarang Sultan benar-benar telah siap dan telah menyadarinya lebih dulu, dan jadi ia tak begitu terkejut bila dibandingkan dengan hari yang lalu.


__ADS_2