Cinta Dan Kenangan Terakhir

Cinta Dan Kenangan Terakhir
Chapter 249 : Nasib yang sama


__ADS_3

"Bener-bener temen kampret, kalau udah gini pasti susah dibujuknya, dia pasti akan tetap duduk di tahtanya, dan akan tetap membela kedudukannya yang sekarang, lagian gue juga yang salah sih! kenapa waktu sesi foto bersama dengan dede manis, malah handphone Sultan yang dipakai untuk mengambil gambarnya, andai saja itu handphone gue, dan mungkin dede manis bakalan minta Whatsapp gue," ucap Azmi dalam hati, di mana dia pun menggeleng-gelengkan kepalanya sambil menatap raut wajah Sultan yang sangat datar itu di depan teras sana.


Sementara Wildan ke luar dari dalam ruangan, dan dengan seketika semua temannya dibuat bingung olehnya, kenapa dia hanya membawa satu gelas yang berisikan air susu hangat untuk diberikan kepada Sultan itu saja, lantas kopi yang mereka pesan dia simpan di mana.


"Kopi kita mana Dan? kenapa elu cuma bawa susu hangat untuk Sultan aja," tanya Alamsyah singkat.


"Sabar bego! kopinya masih ada di dalam, tunggu sebentar, biar gue ambil dulu," ucap Wildan sambil masuk kembali ke dalam ruangan.


Dan tak lama kemudian Wildan pun ke luar dari dalam ruangan sambil membawa baki yang di atasnya ditaruh dengan beberapa gelas yang berisikan empat air kopi hitam untuk mereka nikmati di sore hari yang lumayan cukup dingin ini.


Seperti biasa nongkrong tanpa ditemani oleh rokok itu rasanya kayak ada yang kurang, maka dari itu sudah sekian jam mereka habiskan untuk cepat sampai di Tangerang, hingga mana mereka semua baru bisa merokok setelah tiba di dalam kontrakannya.


Sultan hanya sempat mengabari Rere lewat pesan singkatnya saja, mungkin malam nanti dia akan bersungguh-sungguh untuk menelepon Rere, dan sekaligus dia juga ingin menanyakan alasan mengapa dari pagi wanitanya itu tidak menjawab panggilan telepon darinya.


"Tan, gue pinjam gitar lu sebentar ya, gue mau nongkrong di luar sama mereka semua," ucap Azmi sambil memegang gitar akustik Sultan.


"Yaelah ... lu kayak ke siapa aja! pake acara minta izin segala lagi, yaudah ambil, jangan pulang malam-malam lu, besok kita semua harus kerja," ucap Sultan dengan santainya, di mana ia hanya melihat temannya itu seketika saja, dikarenakan Sultan tengah asik melihat Dimas yang tengah mencuci motornya di depan halaman kontrakan itu.


"Oyy, Dan, elu mau ikut kagak?" tanya Alamsyah mulai bergerak dari duduk terdiamnya.


"Oke, nanti gue nyusul Lam, gue mau mandi dulu sebentar, pokoknya elu tungguin gue aja di sana," ucap Wildan sembari mengangkat handuk yang belum dia ambil di atas jemuran kontrakan itu.

__ADS_1


Azmi dan teman-temannya pergi dari ruangan kontrakan, sementara Wildan masuk ke dalam ruangan setelah dia pergi ke luar untuk mengambil handuknya.


Sultan dan Dimas tetap diam di halaman kontrakan, sepertinya hari ini mereka berdua akan menghabiskan sisa waktu untuk berbincang bersama dengan kekasih hatinya saja di dalam sana.


"Oyy, Dut, lihat pesan Whatsapp gue," ucap Sultan singkat, di mana Dimas pun berhenti mencuci motornya karena dia sangat penasaran dengan pesan Whatsapp dari Sultan.


Dimas tersenyum, ternyata pesan darinya itu berupa sebuah kiriman kontak Whatsapp Salma dan Amel. Tanpa berlama-lama lagi dia pun segera menyimpan kontak tersebut, namun Dimas tak langsung mengabari kedua wanita itu, dan mungkin besok dia akan memberikan pesannya setelah pulang dari tempat kerjanya.


....


"Widihh ... gue kira pesan apaan Tan, ternyata pesan ini, thanks Bro, tapi kenapa elu ngasih kontak mereka ke gue? sementara teman-teman lu yang lain kagak elu kasih," tanya Dimas mulai membasuh motornya itu kembali.


"Kalau dia bilang gitu, berarti elu pun sama Tan."


Setelah Sultan mendengar ucapan dari Dimas, dia pun ikut tertawa, namun tawanya tak selepas dengan suara tawa temannya itu di sana, Sultan hanya tertawa dan tersenyum tipis saja sambil menghisap rokoknya itu.


"Iya Dim, sebenarnya nasib kita berdua emang sama, tapi yang jelas Salma, maupun itu temannya Amel, mereka akan cepat jatuh hati sama gue, hanya saja gue engga bisa berbuat hal yang semacam itu sama pacar gue, pokoknya dari segi apa pun Rere tetap nomor satu," ucap Sultan sambil tertawa tipis.


"Ohh, iya Tan, kenapa elu engga nelepon Rere?".


"Niat gue yang sebenarnya emang mengarah ke situ Dim, tapi sekarang dia sama sekali belum ngabarin gue, bahkan pesan dari gue juga belum dia balas-balas, dari pagi hingga sampai sekarang masih belum ada hasilnya sama sekali."

__ADS_1


Dimas terdiam, ternyata Dimas pun mengalami hal yang sama seperti Sultan, di mana pacarnya itu juga masih belum mengabarinya sampai dia tiba di Tangerang.


Sultan menghembuskan asap rokoknya dengan lepas ke atas langit-langit sore, dan itu adalah hembusan asap rokok yang terakhir kalinya, sampai-sampai dia mematikan rokok tersebut dan lalu membuangnya ke tempat sampah.


Dimas menyuruh Sultan untuk mengambil kain lap di dalam dasbor motor Wildan, dan Sultan pun tidak mengetahui pasti bahwa kain lap tersebut baru saja Wildan gunakan untuk mengelap knalpotnya yang terdapat banyak oli.


"Tan, Tan, mata gue kecipratan air sabun, kalau engga salah di dalam dasbor motor Wildan ada kain lap, cepetan ambilin Tan! mata gue perih nih," ucap Dimas tanpa henti-henti memanggil nama Sultan dengan mengeluarkan nada suara yang agak sedikit keras sambil menutup matanya itu juga dengan menggunakan tangan kanannya.


"Lagian lu ada-ada aja Dim, ngebersihin mata pakai air sabun, udah tahu perih, tapi lu masih saja mempertahankan cara burul elu itu, lagian si Wildan nyimpan kain lapnya di sebelah mana sih Dim, kok, kagak ada di dalam dasbornya," ucap Sultan sambil mencari kesegala arah motor Wildan, tapi tetap saja di dalam dasbornya tidak ada kain lap yang dia sebut-sebut itu.


Tanpa sengaja dia melihat kain lap tersebut ada di bawah lantai teras kontrakan yang berpas-pasan dengan motor temannya itu Wildan.


Sultan tak tahu pasti bahwa kain lap itu milik Wildan, yang jelas ia pun langsung memberikan kain tersebut kepada Dimas, dikarenakan dia merasa tak tega meihat temannya di sana keperihan seperti itu.


"Kayaknya ini kain lapnya dah, tapi ... ," ucapan Sultan terpotong karena Dimas memanggil namanya lagi.


"Tan, lu ke mana! lama beut dah ah!" teriak Dimas singkat.


"Tunggu sebentar bego! lu kayak bocah aja dah, lagian itu baju baru juga bisa dipakai untuk mengusap air sabun yang terkena mata elu itu."


Sultan memberikan kain lap tersebut, entah kenapa perasaan dia tiba-tiba merasa tak enak saja, apa mungkin semua perasaan itu datangnya berasal dari kain lap yang dia berikan kepada Dimas itu di sana.

__ADS_1


__ADS_2