Cinta Dan Kenangan Terakhir

Cinta Dan Kenangan Terakhir
Chapter 218 : Keraguan yang hilang


__ADS_3

Sementara itu di Sukabumi, yang di mana terlihat Rere tengah menunggu panggilan telepon suara dari kekasihnya, yaitu Sultan.


Rere menunggu kabar dari Sultan di dalam kamar sambil membaringkan tubuhnya serta memeluk boneka pemberian dari Sultan juga.


Tak hanya itu saja, Rere pun memutar sebuah lagu, dan lagu tersebut ternyata adalah lagu ciptaan Sultan sendiri. Earphonenya kini terpasang jelas dikedua telinganya, sampai-sampai dia tak mau membocorkan siapa yang menyanyikan lagu itu, dan siapa penciptanya juga.


Entah berapa kali Rere memutar ulang lagu tersebut, hingga mana dia pun ikut menyanyikan lagu ciptaan Sultan itu di dalam kamarnya seorang diri.


"Sebenarnya elu itu ke mana dulu sih Tan! dari tadi gue nungguin kabar dari elu juga, tapi kenapa sampai sekarang elu masih belum ngabarin gue di sini, elu baik-baik ajakan di sana?" tanya Rere seorang diri sambil sesekali melihat foto kenangan mereka berdua di dalam galeri handphone miliknya itu.


Tak lama kemudian ibu Rere memanggil nama anaknya di luar ruangan kamar Rere, namun panggilan dari ibunya itu dia abaikan sebab nada suara beliau tak terdengar ditelinga Rere, dan terlebih dia sekarang tengah menggunakan earphone untuk mendengarkan lagu ciptaan Sultan itu.


Beliau nampak curiga! apa jangan-jangan Rere ke luar dari rumah tanpa sepengetahuannya, lantas beliau pun masuk ke dalam kamar Rere, dan ternyata alasan Rere tak menyaut itu, dikarenakan eraphonenya kini menjadi penghalang bagi beliau untuk berinteraksi dengan anaknya sendiri.


Beliau pun lalu pergi ke dapur untuk mengambil setengah air mineral di dalam gelas, tujuannya untuk menyiramkan air tersebut kewajah Rere agar dia sadar bahwa beliau memanggil namanya.

__ADS_1


"Pantas saja kenapa kamu engga nyaut-nyaut pada saat mamah manggil nama kamu di luar sana, ternyata kamu lagi dengerin musik," ucap beliau sambil menyipratkan sedikit air diwajah Rere.


"Ihh ... mamah! sebenarnya mamah itu punya masalah apasih sama anak sendiri! kok, sikap mamah ini semakin lama Rere diemin malah semakin nyebelin aja! padahalkan apa susahnya coba mamah tinggal masuk ke dalam kamar Rere," ucap Rere nampak terkejut, di mana dia pun lalu melepaskan earphone ditelinganya itu sembari mengusap cipratan air diwajahnya juga.


"Serius amat sih Re, negliatin handphonenya! emang kamu engga denger apa kalau mamah dari tadi manggil nama kamu di luar sana?" tanya beliau sambil meletakan gelas tersebut di atas meja belajar milik Rere.


Beliau hanya bisa tertawa tipis melihat Rere seterkejut itu di dalam sana. Beliau pun lalu duduk di samping Rere sambil memberikan kembali foto album Sultan yang sempat beliau pinjam.


"Mamah cuma mau ngembaliin foto kesayangan kamu ini aja Re, rasanya emang benar ya, di lihat dari sisi mana pun Sultan lebih lucu dari kamu," ujar beliau membadingkan wajah Sultan dengan wajah Rere pada saat mereka berdua masih di usia dininya.


"Aduhh ... hati Rere sakit Mah, perasaan mamah jahat banget sih sama anak sendiri! tapi emang iya sih Mah, wajah si Sultan bolot ini lebih lucu bila dibandingkan dengan wajah Rere di waktu itu, namun tetap saja Rere lebih unggul dan jauh lebih pintar dari Sultan," ujar Rere tak mau kalah, akan tetapi beliau tetap mendukung Sultan bahwa dia pasti bisa melampaui kecerdasan anaknya itu sendiri.


"Menurut mamah Sultan jauh lebih cerdas dari kamu Re, bahkan dia bisa merubah sifat pemalumu ini secepat kedipan mata," ujar beliau membuat Rere terdiam, dan memang ucapan beliau ada benarnya juga, di mana Sultan dapat merubah sifat serta sikap milik Rere secepat itu.


Rere sekarang memang jauh berbeda, dan semua itu berkat Sultan hadir di sisinya, bahkan dia berani memperkenalkan Sultan sebagai pacarnya di hadapan beliau langsung, walaupun waktu itu dia masih terlihat malu-malu memperkenalkan Sultan, tapi sebagaimana sikap Sultan, hingga pada akhirnya dia pun mau seutuhnya menghilangkan semua keraguannya pada saat itu juga.

__ADS_1


"Yaudah kalau gitu, mendingan sekarang kamu makan dulu gih, emangnya kamu engga lapar apa, dari tadi pagi belum makan-makan nasi," suruh beliau dengan dielus-elusnya rambut lembut Rere itu di sana.


"Iya Mah, bentar lagi Rere makan, ini Rere lagi nunggu kabar dari anak mamah dulu, mamah tahu kan dia siapa? iya si Sultan," ucap Rere sambil meletakan buku album nostalgia Sultan di rak buku yang terpisah.


Panjang umur untuk Sultan, di mana setelah Rere menyebut namanya di dalam sana, hingga pada akhirnya Sultan pun menghubungi Rere walaupun itu panggilan suara yang cukup singkat.


"Assalamu'alaikum Be, maafin aku ya, kerena aku baru bisa ngabarin kamu sesore ini, abisnya teman-teman gue ngajakin gue main gitu aja, udah itu acaranya mendadak lagi, sampai-sampai gue juga belum menginjakan kaki gue ini di dalam kosan," ucap Sultan membuat Rere merasa sangat senang walaupun dia hanya mendengar suara singkatnya itu saja.


"Kayaknya gue udah engga penting lagi dihati elu ya, Tan! yaudah maafin gue kalau gue udah mengganggu urusan elu sama teman-teman elu di sana," ucap Rere, yang sebenarnya dia hanya tengah membercadai Sultan saja, bahkan candaan itu sama sekali tak berpengaruh lagi bagi Sultan.


"Apaan sih elu Re! engga jelas dah! masih untung gue mau ngabarin elu di sana, yaudah kalau elu mau marah sama gue pun terserah elu Re, silahkan! pokonya si Sultan bolot dan menyebalkan ini masih akan tetap sayang sama pacarnya sendiri titik, engga pakai koma, udah itu aja," ucap Sultan yang sama-sama tengah membercandai Rere, sampai mana dia pun tertawa kepada Sultan.


"Jangan mulai dah! udah tahu gue itu lagi rindu sama makhluk langka ini, ke mana aja sih elu bego? dari pagi gue teleponin sampai gue ketiduran."


"Gue lagi mencoba untuk melatih rindu ini agar dia semakin kuat Re, makanya elu harus bisa sabar dalam menyikapi hal tersebut itu, dan elu harus paham Re, gue mengabaikan elu bukan semata-mata gue engga perduli, melainkan gue perduli sama elu, lagipula makin ke sini elu semakin menemukan diri elu sendiri, di mana kuatnya elu, tegasnya elu, serta perhatian elu makin hari gue diamkan elu malah semakin sadar, dan gue hanya ingin berkata, bilang apa sama gue ini, laki-laki yang sering kamu anggap sebagai orang paling menyebalkan?".

__ADS_1


Ucapan Sultan membuat Rere semakin tersenyum, dia mengucurkan sedikit air matanya tanpa sepengetahuan Sultan, dan Sultan hanya bisa menebak kebahagiaan dia saja tanpa menyadari air mata Rere yang mengucur itu.


Mereka berdua terdiam, sampai mana Rere sadar bahwa dia baru saja meneteskan air matanya itu. Nada suara Rere pun mulai berubah, dan kini nada suaranya terdengar agak sedikit terhentak, dikarenakan mungkin isak tangisnya memang telah membuat nada suaranya menjadi seperti itu.


__ADS_2