
Malam itu, akan terasa sangat panjang karena bayangan wajah Rere selalu berputar, memutari seluruh alam pikiran Sultan, dikarenakan itu adalah pertama kalinya dia mengecup pipinya.
Sultan tidak tertidur malam itu, ia hanya tersenyum di dalam kamarnya tersebut itu di sana, dan ia hanya melihat kesatu arah saja, yaitu foto Rere.
Hatinya memang sudah lelah, keinginannya untuk beristirahat pun mulai tiba, namun ingatan itu masih saja mengganggunya untuk ia tertidur lepas di dalam kamarnya tersebut itu di sana.
"Malam ini akan menjadi malam yang panjang bagiku Re, dan terlepas dari semua itu, aku takan pernah bisa melupakannya begitu saja di sini, dan terlebih engkau bisa lebih jauh bersikap manis kepadaku, namun hanya saja engkau masih malu," ucap Sultan dalam hati sembari tersenyum ke arah foto Rere.
Entah berapa jam ia menunggu pagi itu hadir, dan matanya pun mulai memerah, namun waktu demi waktu terus berjalan tanpa henti, dan sehingga pagi pun mulai menyapanya kembali.
Handphone yang ia genggam semalam penuh itu, lalu ia gunakan untuk menelepon Rere karena pagi itu ia akan segera datang kembali menghampirinya di sana. Sultan sengaja ingin menjemputnya lebih awal lagi karena dua hari ini, ia tidak bisa bercanda tawa dengannya, dan maka dari itu hari ini adalah hari, yang di mana Sultan bisa mengajak Rere untuk tertawa bersama, walaupun itu hanya sesaat saja, namun akan tetapi perbicanganan ini bisa membuat suasana hati menjadi lebih baik, bila dibandingkan dengan hari sebelumnya.
Kringg, kringg, kringg ... seketika suara handphone Sultan menyala, yang di mana tadinya Sultan lah yang akan menelepon Rere lebih dulu, namun nyatanya, Rere lah yang lebih dulu menelepon Sultan di sana.
"Aku kira kamu belum bangun Tan, makanya aku telepon kamu duluan di sini."
"Semalam gue engga bisa tidur Re, gara-gara mikirin kejadian kemarin, pas waktu elu ngecup pipi gue. Pokonya elu harus tanggung jawab Re! karena elu! gue sulit untuk melelas rindu ini."
"Jadinya gimana nih? elu mau ninggalin gue, atau elu engga bakalan bisa ninggalin gue di sini?".
"Ohh, jadi malam itu, elu ngecup pipi gue karena elu engga mau gue tinggal pergi ke Tanggerang ya?".
__ADS_1
"Bisa jadi iya, dan bisa jadi engga Tan, tapi aku pengennya kamu tetap PKL di Sukabumi aja, jangan tinggalin gue jauh-jauh, walaupun 3 Bulan itu waktu yang cukup singkat, tapi sulit bagi aku untuk melepasmu Tan."
"Apa? pacar gue lemah? masa sih pacar gue lemah! siapa yang bilang pacar gue lemah? biar nanti gue hajar sampai habis masanya dia untuk berbicara."
"Tuh kan! kamu mah malah gitu Tan! aku nanya serius, tapi kamu mah nanggapinya malah main-main! aku tuh takut kamu kenapa-kenapa di sana, dan terlebih kamu itu orangnya pemarah, apapun bisa kamu hajar! asalkan pelampiasannya itu tepat dan terbayar."
"Seburuk itu kah gue Re, dimata elu? sedih banget gue dengernya Re, tapi kalau tanggapan elu tentang gue memang seperti itu ... ya, gue bisa apalagi, yang terpenting ini adalah masa gue untuk berubah, dan yang paling utama, gue harus bisa membuat elu makin sayang lagi sama gue di sini."
"Kamu engga perlu berubah Tan, karena aku menyukai sikapmu yang seperti ini, dan terlebih aku hanya memiliki satu permintaan saja, yaitu aku hanya ingin kamu tetap setia bersamaku, meskipun di luaran sana banyak wanita yang mengejar cintamu, tetapi aku hanya ingin kamu menatapku saja seorang diri dengan tajam Tan, seperti hal nya aku menatapmu juga di sini."
....
"Huhh ... andai saja mimpi buruk ini tak hadir kala itu Re, dan maka dari itu aku akan lebih mudah untuk mencerna ucapan manismu ini Re, bukan melainkan aku tak memahami ucapanmu itu, namun ucapanmu itu terlalu tulus kamu berikan, dan sehingga nantinya kamu akan melihatnya sendiri Re, apakah mimpiku itu nyata, ataupun itu tidak nyata adanya Re," ucap Sultan dalam hati sembari menghembuskan nafasnya itu dengan lepas.
Rere pun sontak memanggilnya berkali-kali, namun pada saat itu Sultan tak menyadarinya karena pikirannya itu masih tertuju kepada titik, yang di mana titik itu merupakan suatu penentuan untuk dirinya, apakah kesunyian rasa itu akan benar-benar datang begitu saja tanpa permisi.
"Tan, kamu masih ada di sana kan?" ucap Rere yang berkali-kali menyebut namanya di sana.
"Iya Re, aku masih setia menunggumu di sini, aku hanya sedang merasakan lebih dalam lagi ucapanmu itu supaya aku bisa menulisnya ke dalam buku ku ini," ucap Sultan dengan tenang, yang di mana ia tidak mau membuat Rere merasakan hal yang sama dengan dirinya di sana.
Setelah lamunan itu hadir kembali kepada Sultan, dan akhirnya perbincangan itu pun telah usai, dikarenakan Sultan akan pergi berangkat untuk menjemput Rere di sana.
__ADS_1
Waktu itu, tepatnya pada jam empat pagi, yang di mana Sultan telah tiba di depan pintu rumah Rere. Ucap salam pun kembali Sultan berikan kepada orang rumah dengan sangat manis. Dan ya, ibu Rere lah yang membukakan pintunya itu kembali untuk Sultan.
"Asalamu'alaikum," ucap salam Sultan.
"Wa'alaikum Salam," ucap ibu Rere sembari membukakan pintu rumah, untuk Sultan masuk ke dalam.
"Masuk dulu sini Tan, biar mamah buatin kamu minuman hangat sama makanan dulu ya."
"Engga usah repot-repot Mah, Sultan mau langsung berangkat aja, soalnya Sultan takut kehabisan tiket kereta, dan terlebih ini adalah hari libur, pastinya banyak orang yang akan pergi juga ke sana."
"Yaudah Tan, ayo berangkat," ucap Rere yang tiba-tiba muncul begitu saja.
"Maaf ya, Tan, seharusnya kamu masih tidur jam segini, tapi kamu malah datang ke sini," ucap ibu Rere.
"Engga apa-apa kok, Mah, selagi Sultan masih ada di sini, mamah engga usah khawatir, Rere pasti aman kalau lagi sama Sultan."
Mereka berdua pun lalu pergi meninggalkan rumah setelah mana mereka berdua mengecup kedua tangan ibu dan ayahnya itu di sana.
Pagi yang dingin itu menyapa kembali, yang di mana arti kata dingin itu sebenarnya tidak ada karena hangatnya pelukan Rere, telah diberikan kepada Sultan dengan sangat erat, namun itu takan pernah membuat Sultan mati karena pelukan yang erat itu menandakan kesungguhan hati, yang tidak mau saling melukai, melainkan mereka hanya ingin saling melengkapi.
"Aku sayang kamu Tan," ucap Rere.
__ADS_1
Dan lagi-lagi, kata-kata itu diberikan kembali oleh Rere kepada Sultan di jalan sana. Sepi! ya, jalanan itu memang sepi, takut! tidak, untuk apa takut, selagi Rere merasa nyaman dengannya di sana.