
Waktu itu ketika mana Dimas tak sengaja mendengar sebuah seruan dari kekasih Sultan, dengan seketika dia pun dibuat tercengang oleh seorang Rere, dan tentunya hal yang membingungkan ini tak hanya diam sampai di situ saja, dan kebingungan Dimas malah dibuat semakin bertambah ketika mana dia mendengar ucapan Rere tak sama dengan apa yang tengah dia pikirkan sekarang ini.
Tadi itu Dimas berpikir bahwa Rere akan memarahi Sultan sampai mana Sultan dibuat terdiam olehnya di sana, tapi ternyata Rere malah menyuruh Sultan untuk melawan para brandalan itu hingga Sultan benar-benar mengalahkan semua musuhnya.
Dimas tak mengetahui isi dalam pikiran Rere dikarenakan yang mengetahui isi dalam pikirannya hanyalah Sultan seorang.
Dimas mengira ucapan Rere itu adalah sebuah perintah dan peringatan yang digumamkan secara halus olehnya, namun sebagaimana sikap seorang Dimas, tentunya hal yang sekarang tengah dia dengarkan akan menjadi sebuah tanda tanya besar baginya.
"Aihh ... sebenarnya apa yang lagi elu pikirkan sih Re, gue bingung sama pemikiran elu itu dah, seharusnya elu tegasin pacar elu kek, agar dia tetap diam di dalam kontrakan untuk sementara waktu ini sampai kondisinya benar-benar pulih seutuhnya," ucap Dimas dalam hati, di mana setelah itu Dimas pun lalu menggeleng-gelengkan kepalanya dikarenakan dia merasa bingung dengan tingkah laku yang sekarang tengah mereka perlihatkan kepada Dimas.
Pada saat Rere mengetahui kondisi Sultan separah apa di sana, dia pun bertekad menunda waktu tidurnya hanya untuk menemani Sultan, dan bilamama dia bisa menghibur sosok Sultan di waktu yang cukup singkat ini, di mana Rere pun ingin melakukannya meskipun pada dasarnya Sultan tidak meminta dia untuk melakukan hal tersebut kepadanya.
"Menurut gue rasanya berat juga ya, Tan, bilamana gue dipaksa acuh tak acuh oleh perasaan yang tengah gue rasakan saat ini di sini sendirian? padahal disuatu sisi pacar gue di sana terlihat seperti orang sehat biasa saja, tapi ternyata pacar gue tengah terluka berat, sementara di sini gue hanya bisa tertawa lepas dikarenakan sebab sosok Sultan selalu mementingkan perasaan orang lain terlebih dahulu daripada dia mementingkan perasaan dirinya sendiri."
"Maafin gue ya, Be, dan seharusnya sekarang itu gue ada di dekatmu untuk sementara waktu ini, namun ternyata semangat gue dan tekad yang gue miliki ini tak sebesar dengan apa yang elu miliki."
Rere menundukan kepalanya kembali, dan sekarang Rere tak dapat menemui Sultan selain menemaninya dengan cara berteleponan seperti ini saja.
Malam itu Rere tengah asik-asiknya duduk di kursi sofa ruang tamu sembari tersenyum-senyum sendiri, namun senyuman itu tak lama hadir ketika Sultan mengungkapkan hal yang tak ingin Rere dengarkan.
__ADS_1
Tak lama kemudian Rere meminta Sultan untuk diam dikarenakan ibunya itu menghampirinya hingga ke ruang tamu.
"Jangan dulu ngomong ya, Be, soalnya mamah gue tiba-tiba aja datang menghampiri gue di sini," ucap Rere, di mana dia pun mulai merendahkan nada suaranya itu.
"Gue matiin aja dah teleponnya ya, bolehkan Be? pokoknya besok pagi setelah selesai melaksanakan salat subuh di dalam mesjid, gue janji bakalan telepon elu lagi secepat yang elu inginkan," ucap Sultan dengan lantangnya, di mana sekarang dia tak sadar bahwa Rere sedang menatap tajam raut wajah Sultan di sana.
....
"Hmm, tunggu sebentar kenapa sih bego! gue juga engga akan lama kok, pokoknya jangan dulu dimatiin teleponnya sebelum gue yang matiin teleponnya lebih dulu."
"Asalkan elu tahu aja ya, Tan, jangankan hubungan kita yang mati, bila perlu sekalian elu gue matiin juga Tan."
Kali ini Sultan dibuat mengalah oleh Rere sampai dia tak diberi kesempatan untuk dia berbicara panjang kepada wanitanya, dan terlebih sekarang ini bukan waktu yang tepat bagi Sultan memberikan sifat resenya dikarenakan bila dia melakukan hal tersebut kepada Rere, maka Rere akan mendiamkan Sultan dengan waktu yang cukup lama.
Bila Sultan mengingat mod Rere yang sering kali berubah-rubah dengan sendirinya itu, jadi Sultan pun sudah tak terlalu mengherankan hal tersebut dikarenakan dia tahu bahwa seorang wanita hanya ingin merasakan arti dari rasa diperlakukan dengan sebaik mungkin oleh pacarnya sendiri, dan tentunya itu sama dengan Rere.
Tapp, tapp, tapp ....
Suara langkah kaki ibu Rere sekarang terdengar jelas ditelinga Sultan, namun sangat disayangkan sekali, di mana dia hanya bisa mendengar suara itu saja, sementara suara percakapan mereka terdengar samar-samar.
__ADS_1
"Hayoo ... lagi ngapain kamu Re, kenapa jam segini belum tidur hah! jangan dibiasain tidur terlalu larut malam Re, itu tuh engga baik bagi dirimu dan juga kesehatanmu."
"Lagian kamu ini kenapa sih Re? engga biasanya jam segini belum tidur, atau jangan-jangan kamu lagi mikirin pacarmu yang nyebelin itu ya."
"Ciee, mendingan sekarang kamu jujur aja sama mamah, soalnya mamah belum pernah melihat anak wanitanya bergadang seperti ini, biasanyakan jam segini kamu udah tidur di dalam kamarmu sambil mendengkur lagi."
Ucapan beliau benar-benar membuat Rere malu, untung saja Sultan tak mendengarkan pembicaraan kedua wanita itu di sana, andai saja Sultan dapat mendengarkan pembicaraan mereka, mungkin Sultan akan meledek Rere.
"Ihhh ... tahu ah, mamah ini rese ya, udah sama resenya seperti Sultan tahu ga! lagian mamah mau apa sih ke sini, bukannya tadi itu mamah lagi tidur sama si adek ya, yaudah sana, lebih baik mamah tidur lagi aja."
"Makanya Re, kalau punya pacar yang baik itu seharusnya dijaga, diperhatiin, dilembutin bukannya malah didiemin, dikasarin, sampai direpotin, jadinyakan sekarang Sultan pergi menjauh tuh dari kamu dikarenakan pacarnya terlalu agresif kepadanya," ledek ibu Rere, di mana setelah itu beliau pun menghampiri anaknya dan lalu beliau ikut duduk di kursi sofa itu juga.
"Apakah Rere salah ya, Mah, bilamana Rere memperlakukan dia bukan seperti pacar sendiri? menurut mamah Rere harus bagaimana agar dia mau menerima sikap aneh yang selama ini sering Rere anggap sebagai sikap keras kepala."
"Sultan apa kamu? jangan bilang orang yang kamu maksud itu bukan kamu lagi, melainkan Sultan, pacarmu itu."
"Rere sendirilah Mah, yang bilangnya, ini semua engga ada hubungannya dengan Sultan."
"Berarti kamu yang salah Re."
__ADS_1
Setelah ibu Rere duduk di dekat anaknya, dan hingga pada akhirnya Sultan pun dapat mendengarkan semua obrolan yang tengah mereka bicarakan di sana.
Sultan merasa bahwa dia juga harus ikut meramaikan obrolan mereka berdua di sana, tidak lain agar kedua wanita cantik itu dapat mengetahui sisi baik dan sisi buruk seorang Sultan seperti apa.