Cinta Dan Kenangan Terakhir

Cinta Dan Kenangan Terakhir
Chapter 159 : Rasa sayang


__ADS_3

"Suara gue habis nih Re! elu mah kagak ada kesian-kesiannya amat dah sama pacar sendiri," ucap Sultan dengan nada suara seraknya.


"Baru aja lima puteran lagu Tan, masa suaramu udah serak kayak begitu," ucap Rere pun sama, tapi dia mengira suara serak itu bukan disebabkan karena dia bernyanyi untuknya.


"Lima puluh puteran lagu Re, untungnya gue sayang sama lu, coba kalau gue engga sayang, mungkin elu udah gue buang ke sungai."


"Untung sayang ya, Tan, soalnya gue pun sama, tapi gue mau bilang sama lu Tan, bisa engga setiap hari elu bersikap seperti ini terus sama gue?" tanya Rere penuh harapan.


Sultan mendengar harapan itu dengan diiringinya senyuman manis yang ia berikan kepada Rere. Mungkin ia berpikir hal yang sama untuk tidak terlalu bersikap menyebalkan kepadanya.


Sultan menggangguk dan menyetujui apa ucapan yang Rere berikan kepadanya. Sementara Dimas di sana tengah duduk di sampingnya dan merasa, apakah dia pun harus menjadi seperti Sultan, untuk selalu setia kepada pasangannya sendiri.


Lantas Dimas pun sempat bertanya kepada Sultan, dan pertanyaannya itu berunsur ingin menuruti dan ingin memliki sifat asik seperti Sultan.


Namun, Sultan beranggapan hal itu salah! dikarenakan Dimas cukup menjadi dirinya sendiri saja, tanpa harus mengikuti gayanya di sana.


Sultan berbicara kepada Rere untuk diam terlebih dahulu, soalnya Dimas ingin memberikan suatu pertanyaan yang dapat dia dengarkan juga.


"Gue senang bisa melihat sikap asikmu seperti ini Tan, dan gue mau nanya sama elu, apa mungkin gue harus bersikap sama seperti lu?" tanya Dimas sembari menghisap rokoknya.


"Saran gue mungkin akan berbeda dengan apa yang elu inginkan sekarang Dim, dan saran gue elu harus tetap menjadi seperti ini, yakni menjadi diri lu sendiri," Sultan menjeda ucapannya sembari mematikan rokok yang belum ia hisap sama sekali setelah Rere mengubah panggilan telepon suara, menjadi panggilan video.


"Kenapa gue bilang seperti itu? karena gue ingin melihat semua orang merasa percaya diri dengan apa yang sekarang dia miliki."


"Semua orang engga bisa menjadi gue, dan bahkan gue pun engga bisa menjadi mereka, namun bilamana kesadaran datang kepada hati kita sendiri, mungkin kita akan mengerti, betapa harus kita memiliki sifat ataupun sikap yang seperti itu."

__ADS_1


Sultan merangkul bahu Dimas sambil sesekali memijat-mijat bahunya itu. Dimas mengangguk paham, dan sekarang dia memiliki banyak inspirasi dalam diri Sultan.


Dimas berpikir dia memang harus bisa menjadi dirinya sendiri, dikarenakan sifat serta sikap Sultan pun takan selamanya seperti itu, dan jadi dia hanya bisa mengambil sisi baik Sultan saja, bukan melainkan mengambil semua apa yang Sultan miliki sekarang.


"Pantas saja kenapa lu sering dibutuhkan di mana pun itu tempat singgahnya ya, mungkin karena ini kan Tan? sebenarnya gue udah lama sadar," ucapan Rere terpotong, dia tidak mau banyak berkata lebih sebelum Sultan dibuat bingung olehnya.


"Maksudnya apa Re? gue kagak paham dan buta sama sekali untuk memahaminya," Sultan menatap tajam mata wanitanya itu.


"Banyaknya cowok dan banyaknya cewe yang sering datang kepadamu, bukan berarti tandannya mereka suka, melainkan mereka ingin mendengarkan penjelasan yang lebih jelas dari elu dengan istilahnya curhat," ucapan Rere terlalu berbelit-belit, namun dia sadar bahwa Sultan akan dengan mudahnya memahami ucapanya tersebut.


....


"Gue bukan tempat curhat yang baik Re, dan sebenarnya Allah lah yang lebih baik dari segala apa pun itu," singkat, namun itu bisa membuat Rere paham, bahwa Sultan bukan tempat curhat terbaiknya, dan dia hanyalah sebatas relawan yang dapat mereka tinggalkan semau mereka.


"Kalau soal urusan dipuji, elu memang anti ya, Tan, gue salut sama lu, bahkan raut wajah lu engga terlihat terseyum sama sekali," ucap Rere sambil menatap wajah Sultan yang datar tanpa adanya reaksi apa pun pada saat dia memujinya.


Sebenarnya Sultan sempat menyuruh Rere untuk mematikan panggilan videonya, namun Rere tetap angkuh ingin mendengar aktivitas Sultan di sana, jadi dia mengubah panggilan video itu dengan panggilan telepon suara kembali.


Sultan mengangguk dan menyetujui hal itu. Lagian engga ada salahnya Rere mengintai Sultan sepenasaran itu di sana.


Ini bukan hal yang pertama kalinya, dan mungkin ini akan menjadi hal yang kedua bagi Sultan melakukan cara yang seperti ini, membiarkan panggilan telepon suaranya tetap menyala, tanpa ada yang mengetahuinya.


Sultan memasukan ponselnya ke dalam saku celana bahan hitamnya. Ia pun lalu menaiki angkutan umum bersama dengan semua temannya sembari berbicara sendiri seperti orang gila.


Angkutan umum berhenti, ia mulai memasuki kawasan industri yang berjajar dengan megahnya. Sultan menceritakan semua panorama tersebut kepada Rere lewat panggilan suara yang belum ia matikan itu.

__ADS_1


Earphone yang melekat ditelinganya itu, menjadikan suatu penghubung suara Rere dengan Sultan. Semua temannya sempat mengira bahwa Sultan sedang sakit, namun Dimas menyangkalnya dan memberitahukan penyebabnya bahwa Sultan sekarang tengah berbincang bersama Rere.


"Dari tadi dia jalan-jalan sendiri, bahkan berbicara pun sendiri, apa mungkin dia sakit ya?" tanya Alam kepada semua temannya.


"Sultan lagi teleponan sama Rere Lam," ucap Dimas yang menyangkal bahwa Sultan tidak sakit.


"Perduli banget Rere sama Sultan, gue jadi sirik sama dia, perasaan pacar gue di sana engga pernah melakukan cara seperti itu dah," ucap Azmi sambil berpikir bahwa dia pun ingin menuruti cara seperti Sultan itu juga.


Semua siswa dari kalangan sekolah SMK mana pun mulai berbaris mempersiapkan diri masing-masing untuk melaksanakan apel pagi di lapangan area Perusahaan.


Dan setelah itu dilanjut lagi dengan briefing pagi di dalam area Perusahaan bersama dengan para karyawan di dalam sana.


Sebelum masuk ke dalam area Perusahaan, Sultan memberikan sebuah syarat untuk Rere agar dia membisukan panggilan telepon suaranya sekarang.


Itu adalah suatu hal yang buruk untuknya, tapi selama Sultan mengenal semua karyawan di sana dengan baik, ia pun menjadi merasa aman atas perlindungan yang mereka berikan kepadanya.


Sultan berucap kepada Rere, bahwa dia boleh menyalakan bisuan panggilan suara itu ketika alarm istirahat sudah menyala.


Ia bekerja dengan sangat baik di sana, dan ia melakukan semua itu tidak lebih untuk memanjakan para mata-mata, yakni CCTV yang berada di dalam area Perusahaan.


Tapp, tapp, tapp ....


Suara langkah kaki dari Bang Boa terdengar jelas menghampiri Sultan. Dia duduk di samping Sultan bersama dengan temannya, dan siapa lagi kalau bukan Bang Falah.


Mereka berbincang dan bercanda sembari menunggu panggilan pengiriman barang selanjutnya. Bang Boa menunjukan sebuah tiket, yang di mana tiket itu adalah tiket lawas pendakian ke gunung Gede.

__ADS_1


Dia mengajak Sultan untuk pergi ke sana, berhubung Sultan pun juga sangat suka mendaki, jadi dia sekalian ingin mengajaknya mencari angin ribut di atas gunung tersebut.


__ADS_2