Cinta Dan Kenangan Terakhir

Cinta Dan Kenangan Terakhir
Chapter 287 : Sebuah rencana


__ADS_3

Azmi menyuruh Wildan untuk memperbaiki motor Sultan yang mogok itu sesegera mungkin, sementara Sultan hanya perlu memberitahu Wildan hal apa saja hal yang harus dia benarkan agar motornya bisa kembali menyala.


Sultan pun setuju dengan usul Azmi, berhubung hujan rintik sudah mulai berhenti dan jadi Wildan dapat memulai pekerjaannya sesegera mungkin di sana.


"Mendingan elu diam aja Tan, biar si Wildan aja yang benerin motor elu, dan elu tinggal kasih tahu dia bahwa dia harus memulai dari mana dulu," ujar Azmi dengan perlahan dia pun membantu Sultan untuk duduk di dekat Wildan.


Sultan mulai memberitahu Wildan bagian apa saja yang harus dia benarkan, sementara Azmi membantu memberikan cahaya penerangan dari senter handphonenya agar Wildan dan juga Sultan dapat melihat dengan jelas bagian-bagian yang harus mereka benarkan.


Tak lama kemudian Wildan mulai menyelah motor Sultan, dan akhirnya motor Sultan pun dapat menyala seperti biasanya lagi.


Grungg, grungg, grungg ....


Suara mesin motor Sultan menyala dengan sangat baik, lantas Wildan pun mulai mengendarai motor Sultan, sementara motornya dia berikan kepada Alamsyah agar dia yang mengendarai motornya untuk sementara waktu ini.


"Sudah sekian lama gue mengotak-ngatik motor elu ini, akhirnya bisa menyala juga Tan, yaudah mendingan sekarang kita kembali ke kontrakan sebelum para brandalan itu datang dan membuat ulah lagi sama kita," ucap Wildan sambil menaiki motor Sultan.


"Woii, ini motor elu Dan, motor Sultan biar gue aja yang bawanya," ucap Alam sambil menarik stang kemudi motor tua milik Sultan itu.


"Jangan Lam, nanti motor Sultan mati lagi, mendingan sekarang elu aja yang bawain motor gue untuk sementara waktu ini ya."


Wildan masih saja tak mau mengalah, hingga pada akhirnya di sana Azmi berusaha melerai mereka agar mereka berdua tak saling berebutan mengendarai motor Sultan, dikarenakan waktu telah menunjukan pukul delapan malam.

__ADS_1


"Yaelah ... kalian ini kenapa sih! jangan berebutan lah, elu engga lihat apa kondisi Sultan yang sekarang ini seperti apa! daripada kalian berdua bertengkar, mendingan kalian duduk berdua di motor Sultan aja, dan motor si Wildan biar gue yang bawa."


Setelah Azmi meleraikan kedua temannya itu di sana, lantas dia pun memastikan Sultan agar duduk di motor Dimas dalam posisi ternyamannya.


Berhubung kondisi Sultan belum sepenuhnya pulih, jadi Azmi tetap harus menuntun Sultan hingga mana kondisi Sultan benar-benar pulih seutuhnya.


Setelah itu mereka pun pergi meninggalkan tempat sepi tersebut, dan setelah tiba di dalam kontrakan mereka semua tak pergi lagi dari dalam ruangan kontrakan, dikarenakan malam ini Sultan ingin membahas salah satu problem yang bertuliskan surat ancaman.


"Ohh, iya Dim, lebih baik sekarang elu buatin dia air hangat untuk dia minum dan air hangat untuk dia mandi dulu sana, soalnya gue engga tahu udah berapa jam si Sultan terkena air hujan di luar sana, gue cuma takut kalau nanti dia akan jatuh sakit aja."


Pada saat itu Dimas sempat membuatkan Sultan susu jahe hangat terlebih dahulu sebelum dia merebus air hangat untuk Sultan pakai mandi.


Di sana mereka berlomba-lomba menjaga Sultan, dan terlebih Sultan pun sering melakukan hal tersebut kepada semua temannya.


....


Sultan mengeluarkan lembaran surat ancaman dari para brandalan itu agar semua temannya dapat melihat rencana apa yang akan mereka buat untuk mengalahkan semua teman Sultan di sana.


Namun, semua temannya malah tertawa melihat begitu buruk tulisan yang mereka tulis disurat itu. Mereka sama sekali tak terlihat takut, dan bahkan mereka malah semakin tidak sabar menunggu waktunya tiba.


"Udah kayak budak cinta aja! dasar para brandalan gila! padahal kalau mereka ingin berkelahi dengan orang-orang seperti kita ini apa susahnya tinggal langsung datang ke hadapan kita aja iya ga, engga perlu tuh mereka menulis surat yang kayak beginian," ucap Alamsyah membuat semua temannya tertawa lepas.

__ADS_1


"Sebenarnya mereka bukan level kita Lam, gue tahu bahwa seorang Sultan lebih pandai membuat strategi daripada para brandalan itu, makanya kenapa mereka menyerang teman kita ini secara bersamaan ya, dikarenakan mereka semua takut sama si Sultan," ucap Azmi membuat Sultan tersadar, apakah para brandalan itu takut dengan ancamannya yang sebelumnya sempat dia ucapkan kepada para brandalan itu tadi.


Sultan berpikir apakah ancaman darinya itu merupakan sebuah hal yang membuat para brandalan gila tersebut itu berhenti memukulinya.


"Kayaknya ucapan lu ada benarnya juga Mi, waktu itu setelah mereka memukuli seluruh badan gue habis-habisan di sana tadi, gue sempat mengancam mereka bahwa seorang serigala takan pernah kalah melawan mangsanya sendiri, apa mungkin itu sebabnya mereka berhenti memukuli gue dikarenakan mereka takut dengan ancaman gue itu."


Ucapan Sultan itu tak terdengar asing ditelinga semua rekan-rekannya, apalagi sosok seperti Sultan memang selalu tahu dan selalu mengerti apa yang harus dia lakukan agar semua musuhnya terlihat takut kepadanya.


"Hal biasa itu mah Tan, lagipula gue juga udah tahu kalau elu engga akan pernah tinggal diam bila harga diri elu diinjak-injak seperti itu oleh mereka, bahkan gue juga tahu Tan, kalau elu bukan orang lemah, lagian mereka aja yang salah pilih lawan, udah tahu lawan mereka bukan orang lemah, iya engga Bre," ucap Wildan membuat Sultan tertawa.


"Wildan benar Tan, ucapan elu itu pasti akan terus datang hingga terngiang-ngiang di alam pikiran mereka semua," ucap Rizki sambil menyeruput air kopinya.


"Bisa jadi sampai menghantui alam pikiran mereka Ki, pokoknya malam ini biarin mereka semua merasa puas dengan apa yang sudah mereka perbuat kepada Sultan untuk sementara waktu ini."


"Mendingan sekarang kita membahas rencana selanjutnya aja, siapa tahu rekan-rekan gue ini ada yang memiliki rencana lain selain rencana Sultan."


Ucapan Azmi membuat semua temannya terdiam dalam waktu yang bersamaan. Bilamana mereka mendengar satu saja kalimat yang menyangkut pautkan dengan alam pikirannya untuk saat ini, maka otak mereka akan dibuat semakin bingung saja.


"Pada diem lu! emangnya elu semua engga ada yang punya usul lain apa? masa iya kita harus mengandalkan semua usul dari Sultan," ucap Dimas membuat semua temannya lebih terdiam lagi.


Tapi sekarang sosok Sultan yang membuat Dimas terdiam tanpa suara, bahkan bila dia membandingkannya dengan satu buah batu dan kakunya akan melebihi dari kakunya batu tersebut itu.

__ADS_1


"Emangnya elu sendiri punya saran Dim? kalau ada coba sekarang elu kasih tahu semua rekan elu di sini," tanya Sultan membuat Dimas terdiam kaku.


__ADS_2