Cinta Dan Kenangan Terakhir

Cinta Dan Kenangan Terakhir
Chapter 96 : Rasa sayang yang tumbuh


__ADS_3

Masih berada di tempat kediaman Rere, yang di mana tempat itu merupakan tempat Rere melaksanakan tugas terakhirnya itu di sekolah.


Dan tugas terakhirnya itu berjalan dikala semua siswa telah menginjakan kakinya itu di kelas 11, bukan melainkan di kelas 12, dan tentunya tugas yang akan mereka hadapi di kelas 12 nanti, akan jauh terasa lebih berat lagi, dikarenakan mereka semua harus membahas kegiatan yang mereka lakukan di Perusahaan itu dengan sejelas mungkin kepada guru pendamping, dan juga guru pengujian Sidang Prakerin, serta mereka juga akan menjelaskannya di depan siswa lain, dan tentunya siswa itu merupakan siswa yang berbeda-beda kelas.


"Udah ini gue mau pergi ke Pondok Halimun lagi ya, Re, dan tentunya absensi di sekolah udah engga berlaku lagi bagi gue, dikarenakan sebagian siswa di kelas gue udah ada yang berangkat PKL lebih dulu," ucap Sultan sembari menatap wajah Rere, yang di mana waktu itu Rere sangat ingin pergi bolos bersama dengan Sultan, namun absensi kehadiran PKL jauh lebih penting daripada dibandingkan dengan absensi kehadiran di sekolahnya itu.


"Pengen ikut Tan! pliss," ucap Rere sembari memegang tangan Sultan.


"Kagak boleh! elu kan lagi PKL, kalau misalnya elu engga ngambil jadwal PKL lebih dulu, mungkin gue bisa ngajak elu pergi ke sana kembali, namun absensi kehadiranmu di Perusahaan ini, jauh lebih berharga bila hanya dibandingkan dengan absensi kehadiranmu di sekolah."


"Kamu curang Tan! pokonya aku pengen ikut!".


"Kagak boleh!".


"Ikut!".


"Kalau gue bilang kagak! ya, kagak! jangan bandel bisa kagak sih Be? bukannya dulu elu selalu ngingetin gue untuk selalu berjalan ke arah jalan yang benar ya? tapi kenapa sekarang sikap nakal gue itu bisa nular ke pacar gue sendiri di sini," ucap Sultan sembari menggeleng-gelengkan kepalanya itu, dikarenakan ia merasa sangat bingung! ketika mana dirinya melihat sikap Rere begitu berisikeras ingin tetap ikut bersama denganya.


Wajah manjanya itu, dengan seketika Rere berikan kepada Sultan, yang di mana Rere hanya ingin membuat prianya itu kebingungan, dan hingga mana Sultan pun akan merubah kata tidak mengizinkannya itu, menjadi kata mengizinkannya untuk ikut pergi bersama dengan dirinya.


Sultan pun di sana sedang berusaha untuk tidak menatap raut wajah Rere itu secara langsung, dikarenakan ia hanya takut terhipnotis oleh rencana yang tengah dibuat olehnya untuk prianya itu seperti apa nantinya di sana.


Dan ya, Rere pun marah kepadanya, namun tentunya Sultan takan pernah lama membuat tingkat kemarahannya itu semakin bertambah, melainkan di sana ia akan membuat wanitanya itu tersenyum kembali kepadanya dengan waktu yang cukup lama.


Yang di mana pastinya, Sultan takan banyak memikirkan sebuah rencana, dikarenakan dia adalah seorang penulis, dan tentunya penulis takan pernah kehabisan kata-katanya itu, meskipun terkadang rasa bingung selalu datang menghampirinya.


Dengan seketika, Sultan pun lalu memandangi kembali raut wajah wanitanya itu di sana dengan manis sembari tersenyum tipis kepadanya.

__ADS_1


Dan tentunya hal itu lah yang dapat membuat Rere kembali merasakan, apa itu arti dari kata tersenyum lebar dengan hanya melakukan cara yang sederhana, bukan karena harta, melainkan itu karena rasa cinta yang tak bisa dipandang dengan sebelah mata.


"Waktu telah lama menunggu, dan rindu pun sudah lama membelenggu, tidak akan ada akar yang tumbuh tanpa tanah, tidak akan ada tanah longsor bila kita tidak menebang paru-parunya, yang di mana begitupun cinta, cinta takan pernah tumbuh tanpa adanya rasa sayang, dan cinta itu takan pernah terjatuh bilamana kita tidak membuang rasa sayang itu," ucap Sultan sembari duduk kembali di samping kekasihnya itu.


....


Dan lantas apa reaksi Rere ketika mendengar ucapan yang prianya itu berikan tadi kepadanya? dan ya, dia tersenyum tanpa henti, dan tentu saja Rere pun berpaling dari pandangannya, entah itu karena malu, dan entah itu karena pilu, namun tentunya yang Sultan harapkan hanyalah melihat dia tetap tersenyum seperti itu kepadanya.


"Malu kan elu Re? kalau gitu gue pamit dulu, dan nanti gue bakalan jemput elu lagi ke sini, dan tentunya gue cuma mau memastikan senyumanmu itu bertahan lama ataupun tidak," ucap Sultan sembari mencubit dengan pelannya pipi Rere itu di sana.


"Hati-hati Tan? soalnya elu lagi pake seragam sekolah, dan elu harus ingat! jangan pernah mencari-cari masalah dengan orang lain," ucap Rere sembari mengecup tangan Sultan yang kedua kalinya.


"Selagi mereka masih menjadi manusia, apa yang perlu gue takuti Re, dan tentunya gue engga akan pernah takut bila melawan manusia lagi, selain melawan orang tua gue sendiri di bumi ini."


Grungg, grungg, grungg ....


Dan tentunya seseorang itu adalah karyawan yang berkerja di Perusahaan itu di sana, dan yang di mana tepatnya karyawan itu juga adalah seorang wanita.


Tak silam beberapa menit waktu berjalan, dan dengan seketika Sultan pun melihat Robby, yang di mana dia pun sama-sama tengah menggunakan seragam sekolah seperti Sultan, dan lantas ia pun lalu memberhentikan laju motor tua yang tengah dikendarai oleh Robby itu.


"Stop Bro! turun lu!" ucap Sultan, yang di mana Robby pun sempat terkejut ketika mana temannya itu memberhentikan motornya di tengah jalan.


"Ada apa ni? mau nyari ribut bukan elu Bro! ayo sini! gue tampung badan lu Bro!" ucap Robby yang sudah siap dengan sikapnya itu.


Bakk, Bukk ....


Suara pukulan yang Sultan berikan kepada Robby itu, dengan seketika menumbangkan tubuhnya, yang di mana Robby pun sama pandainya dalam hal bertarung seperti ini, namun tentunya Sultan lebih mengungguli dan lebih mendalami untuk hal semacam ini.

__ADS_1


"Segitu aja kemampuan elu Bro? lemah lu!" ucap Sultan sembari membuka helm, yang di mana waktu itu Robby tidak bisa menatap wajah Sultan secara langsung, dikarenakan helm yang tengah digunakan oleh Sultan itu adalah helm costume dari helm cargloss yang ditambah dengan kacamata google full masker.


Namun, pada saat itu Danar dan Agung pun datang dengan seketika cepatnya, yang di mana ketika Sultan mau membuka helmnya itu di sana, dan tiba-tiba Danar pun lalu menendang tubuh Sultan dari arah belakang.


"Woii, sini lawan gue!" ucap Danar.


"Elu engga apa-apa Rob? ayo bangun," ucap Agung sembari mendirikan tubuh temannya itu yang terbaring di suatu jalan yang memang sepi penduduk.


Danar, Agung, dan Robby masih belum sempat melihat wajah Sultan di jalan sana, dikarenakan siapa yang tidak tega ketika mana mereka melihat kawannya itu dihajar habis-habisan oleh orang lain.


Dan dengan lihainya Sultan menghindari pukulan dari sahabat baiknya itu, dan lalu kemudian Sultan pun terkepung juga akhirnya oleh mereka bertiga.


"Mau kemana lu! elu udah engga bisa lari," ucap Agung berbicara kepadanya dengan nada yang agak sedikit tinggi karena dia sudah terlanjur terbawa emosi.


"Sini maju! gua kagak takut!" ucap Sultan yang masih mempertahankan sikap berkelahinya itu.


Wushh ....


Suara angin membantu Sultan, yang di mana pukulan Agung dari arah belakang tidak mengenai anggota tubuh Sultan sedikit pun.


Brukk ....


Ketiga tubuh kawannya itu terjatuh, dan di sana adalah waktu yang tepat bagi Sultan untuk membuka helmnya itu agar supaya semua kawannya itu mengetahui, siapa orang di balik topeng itu.


"Gue sama sekali belum berkeringat ni Bro, dan kalian malah ambruk duluan, padahal kan gue kagak sehebat yang kalian semua pikirkan di sini," ucap Sultan sembari perlahan melepaskan helmnya itu di sana.


Ketiga kawannya itu tersenyum, dan tubuh mereka pun dibaringkan dengan lepasnya sembari tertawa bersama-sama, dikarenakan mereka berpikir bahwa Sultan sekarang jauh lebih kuat bila dibandingkan dengan dia yang dulu.

__ADS_1


__ADS_2