Cinta Dan Kenangan Terakhir

Cinta Dan Kenangan Terakhir
Chapter 339 : Hujan kata-kata


__ADS_3

"Kamu engga tidur Tan?" ucap Rere kepada Sultan sembari menyandarkan kepalanya itu dibahu Sultan.


"Malam ini adalah malam terakhir Re, aku engga akan membiarkan malam ini pergi begitu saja, tanpa adanya salam perpisahan yang aku ucapkan dulu kepadamu dan kepada duniaku ini Re," ucap Sultan sembari memeluk Rere yang tengah menyandarkan kepalanya itu dibahu Sultan.


Malam itu, Rere menyandarkan kepalanya dengan damai dibahu Sultan, tanpa sedikit pun ia mengangkatnya. Sultan pun terus-menerus memeluk bahu Rere di sana sembari mengelus-ngelus kepalanya ketika mana ia berbicara sesuatu hal kepadanya.


Malam itu, tak ada yang bisa memberikan rasa cinta, kehangatan rasa cinta, dan kedamaian cinta selain mereka berdua lah yang membuat kisah cinta itu semakin dalam dan bertambah disetiap detik waktu berjalan.


Sebagian rekannya membiarkan mereka mengukir kisah cintanya itu di dalam sekolah sana. Tak ada yang bisa mengganggu dan tak ada yang bisa mengusik kebersamaannya itu di dalam sana.


Seluruh adik kelasnya pergi tertidur setelah mereka melaksanakan makan malam bersama para anggota TNI dan para pembimbingnya masing-masing di lapangan sana.


Malam itu Sultan bersama dengan Rere hengkang untuk tertidur, mereka berdua lebih memilih malam indah itu, menemaninya bersama, dengan kehangatan rasa cinta sembari disuguhkannya api unggun yang menerangi pandangan mereka berdua di lapangan parkiran itu.


"Hadirlah cinta, temanilah aku wahai cinta, dan peluklah diriku di malam yang indah ini cinta. Aku tak ingin pergi jauh dari dirimu karena kamu lah segala upayaku saat ini dan seterusnya, wahai engkau Rereku," ucap Sultan dalam hati.


"Berat mata hati aku memandangmu, tak bisa aku pergi jauh dari sisimu pujaan hatiku, hilang lah selamanya untuk aku kenang di sini, dan bersama lah bersamaku untuk mengisi semua kanangan hidupmu di sebuah kota kecil ini, dan di negri ini," ucap Rere kepada Sultan malam itu.


"Kata-kata siapa itu? gue engga yakin itu ciptaan elu sendiri," ucap Sultan sembari mengelus-elus hijab yang melekat di kepalanya itu.


"Ciptaan Sultan Baehakki."

__ADS_1


"Begitu banyak kisah ini untukku tulis, namun aku enggan untuk menceritakannya karena para pembaca hanya bisa membaca, tanpa melihat kebersamaan kita di sini," ucap Sultan membalas kata-kata yang tadi Rere berikan kepadanya.


"Bila aku bisa memilih untuk hidup bersama kamu di sini, ataupun hidup kembali bersama Tuhan di sana, aku lebih memilih hidup bersama Tuhan, karena di sana lah aku yang akan menunggumu sebagai 7 bidadari yang menjadi satu untukmu," ucap Rere malam itu yang tak mau kalah dengan Sultan.


"Sebagaimana rupamu di sana, aku takan pernah berpaling kelain 7 bidadari itu, karena kamu lebih dari mereka untuk saat ini dan seterusnya. Pilihanku takan pernah salah, dan Tuhan ... izinkan lah aku memilikinya, dan janganlah engaku membandinginya dengan ke 7 bidadari itu, karena dia segalanya untukku. Di sini aku takan meminta lebih dari dirimu Tuhan ... cukup dia yang aku pilih untuk selama ini karena dia adalah kekasih satu hatiku," ucap Sultan yang membuat Rere terdiam di malam hari itu.


Mata Rere menolak untuk tidak memandangi Sultan di lapangan parkiran sana, dan pipi Rere pun menolak untuk tidak memerah disaat Sultan berbicara seperti itu kepadanya tadi.


Rere memeluk Sultan begitu kencang, dan Sultan pun di sana menerima pelukannya itu dengan penuh lapang dada. Ia sama sekali tak merasa keberatan dan malah merasa semakin enggan untuk pergi jauh meninggalkannya kembali.


....


Malam itu, adalah malam penuh dengan kata-kata manis, namun di sana Sultan tak ingin melihat wanitanya itu terus-menerus kedinginan karena Tuhan tak mengizinkan mereka sakit! dan sehingga mereka tak bisa mengukir kisahnya itu kembali di malam hari itu.


Sultan pun lalu mengantarkan Rere kembali ke ruangan UKS, dan di sana Sultan pun mulai merasa bahwa malam ini, adalah malam terakhir bagi mereka mengukir kisah indahnya ini.


Sebelum itu, Sultan menuliskan surat untuk diberikan kepada Rere, dan tentunya di dalam surat berisi tulisan yang nantinya akan membuat Rere tersenyum kembali karena ulah prianya itu.


Seketika Rere pun keluar dari ruangan UKS, dan ia teringat bahwa jaket Sultan masih ia kenakan di sana. Ia pun lalu keluar untuk menyusul Sultan, namun di sana Rere melihat ada selembaran kertas yang tergeletak di bawah teras ruangan UKS sekolah.


Rere pun membaca isi tulisan dalam kertas itu, dan ia pun lalu masuk kembali ke dalam UKS setelah ia membaca isi tulisan yang berada di dalam kertas itu.

__ADS_1


"Jangan sekali-kali kamu keluar dari ruangan UKS ya, Re, malam ini sungguh sangat dingin, dan tetap pakai jaketku ini ya, soalnya aku engga mau melihat kamu sakit," itulah isi tulisan yang berada di dalam kertas tersebut.


Sultan pun menatap Rere di sana karena ia belum sepenuhnya kembali ke sanggar Pramuka karena ia tahu, bahwa Rere pasti akan pergi menemuinya kembali.


Untungnya Rere langsung mengambil dan membaca tulisan yang berada di dalam selembaran kertas itu, dan maka dari itu ia tidak langsung menatap Sultan di depan ruangan kelas, yang jaraknya cukup dekat dengan ruangan UKS tersebut.


Setelah Sultan melihat Rere tersenyum kembali di sana, ia pun lalu seutuhnya pergi masuk ke dalam kelas, yang di mana kelompoknya itu semua sedang tertidur di dalam sana.


Sultan pun datang, dan lalu menghampiri kelompoknya karena dia ingin memastikan, bahwa mereka semuanya sudah tertidur di dalam kelas sana dengan damai.


Sultan pun tak tertidur malam itu, dan Sultan pun di sana berniat untuk membawa kelompoknya itu joging pagi karena hari terakhir ini akan lebih banyak mengucurkan derasnya keringat, yang berada di dalam tubuh mereka esok pagi nanti.


dua jam telah terlewati, dan di sana Sultan masih tetap segar bugar seperti layaknya ia baru terbangun dari tidurnya. Susu hangat dan juga foto Rere menemani pagi harinya itu di dalam sekolahnya tersebut.


Dengan seketika, Sultan melihat jam tangan yang tengah ia kenanakan itu, ia pun lalu bergegas membangunkan mereka karena waktu telah menunjukan pukul setengah empat pagi.


"Bangun Boy, kita joging pagi dulu, biar nanti kalian kuat karena udah pemanasan pagi ini," ucap Sultan yang seketika membangunkan kelompoknya itu semua.


"Emang engga ada ceramah pagi Kang?" ucap salah satu siswa dari kelompok Sultan.


"Malam itu adalah renungan terakhir buat kalian, dan jadi ceramah paginya engga ada," ucap Sultan kembali.

__ADS_1


"Woii, ayo bangun semua! ini adalah hari terakhir kita untuk mendapatkan baret penghormatan kita. Semangat ... ," ucap salah satu siswa dari kelompok Sultan penuh dengan semangat.


Seluruh siswa semua pergi kelapangan sekolah untuk melaksanakan joging pagi bersama dengan Sultan dan Rere. Rere pun di sana sudah tahu, pasti pagi itu ia akan pergi membangunkan kelompoknya tersebut. Dan maka dari itu, Rere menghampiri Sultan bersama dengan kedua adik kelas wanitanya itu ke depan pintu kelas kelompoknya tersebut.


__ADS_2