
Pada saat Rere ke luar dari dalam mesjid, dengan seketika dia dibuat heran melihat Sultan sudah tidak ada lagi di tempat duduknya, dan yang ada di sana hanyalah teman-temannya saja, lantas dia pun pergi menghampiri mereka semua untuk menanyakan keberadaan Sultan sekarang ada di mana.
Padahal Sultan sama sekali tidak pergi dari tempat duduknya itu, ia hanya sedang dikerumuni oleh teman-teman Rere saja, makanya Rere tak dapat melihat Sultan dengan jelas.
"Kalian semua liat Sultan pergi ke mana engga? soalnya tadi dia juga lagi duduk di si ... ," pertanyaan Rere terpotong setelah dia melihat Sultan tengah berbincang bersama dengan semua teman wanitanya di tempat duduk yang masih sama dengan yang sebelumnya.
"Ini Sultan Re, dia engga ke mana-mana kok, dari tadi juga dia ada di sini nemenin kita curhat," ucap Elsa sembari menyuruh Rere duduk di samping Sultan, sementara dia duduk di samping Rere.
Sultan menyangkal ucapan Elsa dengan tatapan penuh kebingungan, sebenarnya itu semua memang bukan kemauan Sultan tersendiri, melainkan yang membuat dirinya terpojok dikerumunan mereka itu karena ulah mereka sendiri yang menyuruh Sultan untuk tetap diam di sana sampai Rere tiba.
"Bukannya kalian semua yang nyuruh gue untuk tetap diam di sini ya? tapi, kenapa alasan kalian semua tiba-tiba berbeda dari yang sebelumnya," ujar Sultan berbicara santai seperti biasanya.
"Kalian ini ya, emang suka kepo sama urusan orang lain! biarin dia pergi kek, sekali-sekali," ujar Rere yang sudah bisa membiarkan Sultan pergi.
"Lagian jalan-jalan seorang diri juga buat apa Re! lebih baik dia main sama kita-kita di sini, itung-itung kita semua jadi bisa melihat sikap asli Sultan itu seperti apa," ucap Putri masih saja menginginkan Sultan duduk di samping mereka semua, dikarenakan dia masih penasaran sejauh mana Sultan bisa membuat mereka semua terpanah dengan kata-kata manisnya itu.
Rere mengira Sultan memang ingin pergi menjauh darinya terlebih dahulu untuk menghisap beberapa batang rokok yang sengaja Sultan bawa dari rumah.
__ADS_1
Baru kali ini Rere mengizinkan Sultan merokok, dan bahkan Sultan pun tak terlalu mempercayai ucapan yang sudah Rere berikan kepadanya itu.
Apa mungkin ini hanya jebakan saja agar Sultan semakin terjerumus sehingga Rere dapat memarahinya nanti setelah mereka semua pulang dari sana.
"Kalian kayak engga tahu tongkrongan cowok aja, Sultan itu tipe cowok perokok berat loh, dia mana mungkin bisa menahan rasa ingin merokoknya di sini, hanya saja dia takut untuk merokok langsung di hadapan cewenya," ucap Rere membuat Sultan tersenyum, namun tuduhannya itu sama sekali tidak benar, dan malahan Sultan bukan cowok yang Rere sebut-sebut sebagai perokok berat.
"Sampai kaget gue dengernya Re, dan terlebih tuduhanmu itu engga benar! gue bukan perokok berat, gue hanya sekedar suka, bukan melainkan menyukai rokok itu sepenuhnya," ujar Sultan, di mana ia pun lalu mengambil tas slempangnya dan langsung pergi meninggalkan Rere serta teman-temannya juga di sana.
Tak lama setelah kepergian Sultan, Elsa pun bertanya-tanya kepada Rere, ternyata pacarnya itu hebat dalam menuliskan sajak-sajak yang indah.
Bukan hanya Elsa saja, melainkan semua temannya pun penasaran seperti apa sikap Sultan, apakah Sultan dapat bersikap manis melebihi sikap manis tersebut.
"Gue engga tahu kalau Sultan yang polos itu merokok juga Re, tapi sebenarnya gue engga terlalu mengherankannya sih, hanya saja gue bingung! dan ternyata pacarmu itu jago membuat sajak-sajak indah juga loh Re," ucapan Putri membuat Rere tersenyum, lantaran Sultan memang sering membuatkan puisi untuknya juga.
"Sultan memang sering merokok, tapi dia tahu asap rokok itu tidak baik buat gue, makanya kenapa sampai sekarang dia engga pernah berani merokok langsung di hadapan gue, bahkan orang lain yang sedang merokok di dekat gue pun sampai dia usir," ucapan Rere, di mana setelah itu dia pun lalu meminum minuman yang sempat Sultan belikan untuknya.
Rere menunggu sampai salah satu dari mereka ada yang bertanya kepadanya, kenapa Sultan dapat membuat sajak-sajak indah secepat kedipan mata.
__ADS_1
Tatapan mereka kini tertuju kepada Rere, dan sebenarnya dia pun malas membicarakan Sultan di pertemuannya yang sekarang ini, tapi mereka masih tetap ingin mendengarkan beberapa sikap baik Sultan lebih banyak lagi.
"Yaudah deh, gue ngalah, tapi kalian harus ingat kalau semua ini bukan kemauan gue maupun Sultan ya, melainkan ini adalah kemauan kalian semua," Rere menjeda ucapannya sembari menghela napas panjang.
"Sebenarnya gue engga pernah berubah, dan bahkan gue engga terlalu mencintai Sultan, tapi itu dulu pada saat gue mengenal Sultan untuk pertama kalinya."
"Lama-kelamaan rasa cinta itu mulai tumbuh dengan sendirinya semenjak gue membaca semua isi buku catatan harian milik Sultan, dan di dalam buku catatan tersebut semuanya berisikan tulisan yang berhubungan dengan kehidupan gue di sini, sikap gue, maupun itu sifat gue juga."
"Dia menyimpulkan semua kehidupan gue sehingga terbentuklah sebuah sajak indah yang berasal dari diri gue sendiri, dan di situ gue berpikir bahwa dia adalah pria manis yang selalu menganggap wanitanya sebagai inspirasinya sendiri."
Ucapan terakhir Rere membuat semua teman-temannya terdiam tanpa kata. Mereka menatap raut wajah Rere dengan tatapan kagumnya, dan sekarang mereka semua sadar bahwa hanya membaca tulisannya saja Rere dapat jatuh hati kepada Sultan, itu menandakan Sultan adalah sosok pria yang selalu menyayangi Rere setulus seperti dia menulis sajak untuk Rere.
Sementara Sultan duduk di tepi pantai sambil menghisap rokok pertamannya. Kaki kanannya lurus memanjang, sementara kaki kirinya ia tekukan dengan dibayang-bayangi oleh tangan kirinya yang diletakan di atas lututnya.
"Gue tahu kalau elu bukan jodoh gue Re, dan gue sadar sikap manis gue ini hanya akan mengubahnya menjadi pahit saja seperti mimpi buruk yang selalu membayang-bayangi kedamaian gue saat ini," ucap Sultan seorang diri yang masih menatap indahnya lautan biru di sana sembari menghembuskan asap rokoknya perlahan.
"Rasanya sungguh sulit bagi gue hanya ingin melihat tawa serta senyuman manismu itu Re, namun masalah dan juga persoalan yang sekarang ini membuat semuanya hilang dan kelam, dinginya angin malam takan pernah berhembus tepat di hadapan gue lagi, mimpi buruk itu telah membuat gue sadar bahwa aku bukan penenang rindumu."
__ADS_1
Sultan bangkit dari duduknya, ia berdiri sembari mematikan rokoknya dan lalu memasukan puntungnya ke dalam kotak rokok bekas agar dia tak mengotori alamnya lagi.
Sultan memasukan kedua tangannya ke dalam saku celana jeans hitamnya, dan setelah itu dia pun terlamun seorang diri.