
Masih di hari yang sama, namun tentunya itu di menit yang berbeda, yang di mana Sultan pun takan pernah lupa untuk memperkenalkan kekasinya itu kepada ibu angkatnya di sana.
"Bun, kenalin ... dia Rere, dan tentunya Sultan engga perlu memberitahu bunda kalau dia itu siapa? dan pastinya bunda akan tahu segalanya," ucap Sultan, yang di mana ia pun lalu membawa Rere ke hadapan bunda angkatnya itu langsung.
"Muka kalian mirip ya? sini, biar bunda peluk," ucap bunda Nur, yang langsung memeluk tubuh Rere dengan erat.
Pelukan itu, beliau berikan kepada Rere, dikarenakan beliau hanya ingin mengucap kata terima kasih kepada dirinya karena selama ini dia sudah mau menjaga, serta menemani Sultan dengan sabar di Kota ini.
Rere pun terlihat begitu bahagia, dan semua itu dia rasakan karena bunda Nur, sungguh sosok ibu yang sangat penyayang, dan tentunya kita semua bisa melihatnya, seberapa baik beliau menerima Sultan menjadi sosok anak angkatnya di sana.
"Kapan-kapan main ke rumah bunda di Bandung ya, dan udah itu jangan malu-malu, anggap saja bunda itu adalah ibumu juga Re," ucap beliau kembali.
"Iya bunda insyaallah ya, nanti Rere main ke sana sama Sultan, tapi kayaknya tiga Bulan ke depan, Rere dan juga Sultan engga bisa datang ke sana dulu," ucap Rere dengan lembutnya di hadapan bunda.
"Kenapa emangnya?".
"Kita mau PKL bunda, dan maka dari itu kenapa Rere bilang seperti itu kepada bunda ya, karena hal ini, yang di mana Sultan juga akan segera berangkat ke Tanggerang," ucap Sultan, yang di mana ia menjelaskannya dengan singkat kepada bundanya itu.
"Jauh-jauhan dong kalian?".
__ADS_1
"Engga jauh kok, Bun, cuma agak sedikit jauh aja, dan tentunya itu membuat dia enggan, bilamana Sultan pergi jauh dari sisinya, padahal itu kan hanya sementara."
Ucapan Sultan itu, sungguh membuat Rere tak bisa menahan rasa ingin mencubit tubuh Sultan dengan sekeras mungkin di sana, namun tentunya Rere hanya bisa bersikap manis saja terlebih dahulu, ketika mana dirinya sedang berhadapan langsung dengan bunda angkatnya itu.
Namun, di sana Rere hanya bisa menggeretak dan memperingati Sultan saja terlebih dahulu, dan bilamana telah tiba waktunya bagi Rere untuk membuat Sultan terdiam, dan di sana lah dia akan benar-benar menghabisi prianya itu tanpa ampun.
Dan setelah itu, bunda Nur, sama sekali tak mau memberikan waktu kepada Sultan untuk mendekati kekasihnya itu terlebih dahulu, dikarenakan Rere memang tengah asik berbincang dengan bunda, dan hal itu sungguh membuat Sultan tidak ingin mengganggu perbincangannya itu di sana.
Namun, Sultan bukan lah pria bodoh! dan ia pun lebih memilih untuk menemani kakaknya yang sungguh menawan itu di sana, lantaran Robby tidak mau memberikan Stevia kepada sahabatnya itu begitu saja, dikarenakan Robby takut akan Stevia bisa dibuat kembali mencintai Sultan.
Sultan pun lalu mendekati Teh Mawar yang tengah duduk di sebuah gazebo sembari memakan satu batang coklat, dan tentunya makanan itu adalah makanan kesukaannya, yang di mana juga Sultan pun pernah memberikan sebuah coklat di hari ulang tahunnya dulu.
"Dari tadi makan coklat mulu dah! emangnya engga bosen apa ya, ngunyah makanan ini terus? mendingan temenin Sultan main aja yo," ucap Sultan yang lansung mengambil coklatnya itu sembari duduk di sampingnya.
....
Dan tentunya, kakaknya itu pun lalu tersenyum ke arahnya, ketika mana Sultan mengambil dan menghabiskan coklatnya itu dengan sesegera mungkin, dan tentunya Sultan bersikap seperti itu bukan karena ia tidak bisa bersikap lebih sopan kepadanya, namun Sultan di sana hanya ingin menjaga kesehatan kakaknya itu dengan sebaik mungkin.
"Kebiasaan dah! kok, dihabisin sih?" ucap Teh Mawar yang langsung tersenyum manis di hadapan Sultan, sembari tertawa tipis di hadapannya.
__ADS_1
"Jangan keseringan makan ini mulu dah Teh! bukannya dulu engga suka sama coklat ya? kenapa sekarang kelihatannya suka banget," ucap Sultan sembari menatap wajah kakaknya yang begitu menawan itu.
"Ini semua gara-gara kamu Tan! andai saja kamu engga memberikan hadiah coklat di hari ulang tahun teteh, dan mungkin teteh engga akan pernah makan apa makanan yang engga teteh sukai dulu," ucap Teh Mawar, yang di mana dia pun sempat mencubit pipi Sultan hingga memerah.
Dan di sana, ia pun sempat tertawa, yang di mana Sultan pun tak menduganya, bahwa gara-gara hal itu, kakaknya jadi suka memakan makanan itu secara berlebih.
"Dihh, ternyata gara-gara hal itu teteh jadi sering makan coklat? engga jelas banget dah teteh gue! kalau gitu, kapan-kapan Sultan bawain teteh sayur wortel deh, biar mata teteh yang minus itu bisa sembuh dikit demi sedikit oke," ucap Sultan sembari tertawa lepas akan hal yang kakaknya itu tadi bicarakan kepada dirinya dengan sangat jujur.
"Yaudah, ayo main? ajakin teteh ke tempat yang emang tempat itu enak untuk di singgahi," ucap kakaknya itu sembari menarik tangan Sultan hingga pada akhirnya Sultan pun dibuat berdiri olehnya.
Sikap kakaknya itu, menandakan bahwa dia memang ingin bercerita banyak kepadanya, dan tentunya hal itu pasti akan menyangkut pautkan masalah hati, namun di sana memang dia lah satu-satunya yang bisa memahami isi hatinya itu seperti apa, dikarenakan Sultan adalah tempat pelampiasan terbaiknya untuk saat ini.
Dan sebelum itu, Sultan pun sempat menyuruh kakaknya itu memakai jaket terlebih dahulu, dan tentunya apalagi kalau bukan untuk menjaga aurat tubuhnya itu di tempat sana.
Lantas, apa jawaban yang kakaknya itu ucapkan kepada Sultan di sana? dan balasannya itu merupakan sebuah kata tolak! namun, bilamana Sultan telah berbicara seperti itu kepada kakaknya itu, dan tentunya ia takan pernah bisa menarik kata-katanya itu kembali begitu saja.
Ia pun lalu memaksa kakaknya itu untuk tetap memakai jaket terlebih dahulu, dan tentunya kakaknya itu hanya sengaja tidak ingin menuruti perkataan Sultan, dikarenakan dia hanya ingin memastikan apakah sikap kepekaan yang Sultan miliki itu masih ada.
"Jangan basa-basi! pakai ni jaket Sultan, yaudah cepet naik, dan jangan lirik kanan-kiri! karena cowok di sini semuanya pada genit!" ucap Sultan yang lansung membuka jaket gunungnya itu, serta ia pun langsung memakaikan jaketnya itu kepada kakaknya.
__ADS_1
Kembali lah kakaknya itu dibuat tertawa olehnya, lantaran Sultan begitu tidak ingin melihat kakaknya yang cantik itu menjadi bahan perbincangan yang buruk oleh orang-orang yang berada di sekitaran jalan sana.
Kebaikan sikap seorang Sultan itu, takan pernah hilang meskipun ditelan oleh keadaan, yang di mana ia selalu paham, dan dia selalu tahu, apa itu jalan yang baik untuk kakaknya itu pilih, dan apa itu jalan yang buruk untuk dia hindari, serta harus kakaknya itu jauhi.