
"Ohh, iya gue baru inget, pokoknya untuk sementara waktu ini kalian jangan pergi jauh-jauh dari tempat singgah kita ya," ucap Dimas yang entah kenapa hari itu dia terlihat begitu gelisah sekali.
"Siap, lagian hari ini kita mau pinjem dapur kalian, bolehkan Boy?" tanya Aisya membuat semua temannya prianya tersenyum bahagia. Bagaimana tidak, Aisyah berbicara sambil mengeluarkan bahan masakan yang terlihat begitu familiar dimata mereka.
"Widihh ... , makan enak nih hari ini. Silahkan pakai sesuka kalian, anggap saja semua yang kalian lihat ini adalah dapur kalian," ucap Alamsyah terlihat begitu sumringah sekali.
Pada saat itu Sultan pergi meninggalkan mereka dengan alasan izin untuk membeli paketan data di konter depan tempat singgahnya.
Sultan hanya beralasan saja, dan sebenarnya alasan dia pergi meninggalkam mereka dikarenakan dia ingin berbincang bersama dengan Rere.
"Yaudah kalau begitu, gue mau keluar dulu sebentar ya. Seperti yang Dimas ucapkan, kalian santai aja ya, jangan pergi ke mana-mana dulu, soalnya sebentar lagi bakalan ada tamu dari Sukabumi," ucap Sultan dengan begitu tenangnya, sampai hingga mereka semua tak mencurigai gerak-geriknya sedikit pun di sana.
Mereka tidak mencurigai alasan Sultan, hanya saja sebagaimana layaknya seorang teman, mereka semua pasti akan selalu bertanya kepada dirinya bahwa dia akan pergi ke mana.
Maka dari itu Sultan beralasan bahwa sekarang dia akan pergi membeli paketan data di konter yang tidak jauh dari tempat singgah mereka.
"Mau pergi ke mana lu Tan?" tanya Dimas dengan perasaan khawatirnya dikarenakan dia takut hal yang sama akan terjadi untuk kedua kalinya kepada Sultan.
"Gue mau beli paketan data dulu Dut, tenang aja gue engga akan pergi jauh-jauh dari kontrakan kok, soalnya gue takut kehabisan makanan yang mereka hidangkan buat gue di sini."
"Awas kalau lama! pokoknya kalau udah beres elu harus segera pulang Tan," ucap Aisyah sambil menatap tajam raut wajah Sultan.
__ADS_1
"Engga akan lama-lama kok, Syah."
Sultan pergi tanpa kata, yang entah mengapa Sultan terlihat begitu gelisah sekali. Lantas Dimas tak hanya dia di situ saja, ia pun lalu mengikuti Sultan dari belakang.
Sultan berdiri tepat di depan gang tanpa mampir ke tempat mana pun. Sultan hanya menatap jalanan yang pada hari ini memang terlihat agak ramai.
Dimas berdiam diri di belakang tubuh Sultan dengan waktu yang cukup lama. Dimas tak menyapanya langsung dikarenakan dia penasaran hal apa yang akan dilakukan oleh Sultan nanti.
"Sebenarnya lu mau ke mana Tan! bilangnya lu mau beli paketan data, tapi kenapa elu malah diam aja di situ. Sebaiknya gue diemin aja, entah hal apa yang bakalan elu perbuat Tan," ucap Dimas penuh tatapan tajam yang di mana dia pun lalu membakar rokoknya sambil sesekali mengambil gambar Sultan untuk dia perlihatkan kepada teman-temannya nanti.
Pada saat itu Dimas melihat Sultan meninggalkan tempatnya. Lantas sejak itu juga Dimas mengikuti Sultan, namun tak silam beberapa langkah Dimas mengikuti Sultan, dengan seketika Sultan menghilang bagaikan angin yang mudah berlalu.
"Ahh, sial! gue kehilangan jejak si Sultan lagi. Sebenarnya si bego itu mau ke mana? gue harus secepat mungkin ngabarin kawan-kawan gue di sana."
Dan sementara itu, di balik kegelisahan Dimas di sanalah Sultan bersembunyi di sebuah gang sempit dikarenakan sebab Sultan sudah mengetahui dari awal bahwa pada saat dia pergi dari kosan Sultan merasa dibuntuti oleh seseorang.
....
"Gue kira dia musuh gue, tapi ternyata si Dimas gendut. Untung aja gue sempat sadar bahwa orang yang ngikutin gue ternyata si gendut. Hmm, syukurlah ... , padahal tadi itu hampir aja hhe."
Sultan tertawa tipis, untung saja dia menyadari bahwa orang yang mengikutinya adalah Dimas. Mungkin bila Sultan terbawa perasaan sedikit saja wajah Dimas pasti sudah kena pukulan darinya.
__ADS_1
Sultan melanjutkan perjalanannya yang di mana hari itu dia akan pergi ke stasiun Serpong untuk menjemput rekan-rekannya yang takan lama lagi akan segera tiba di Tangerang.
Setelah tiba di jalan raya, Sultan pun lalu menyegat salah satu angkutan umum yang memang waktu itu angkot yang dia berhentikan kebetulan sedang kosong.
Tak menunggu waktu lama, hingga pada akhirnya Sultan telah tiba di stasiun Serpong. Dia pun lalu menunggu di depan pintu masuk stasiun sambil sesekali membakar satu batang rokok miliknya.
"Seharusnya mereka semua udah pada sampai nih, tapi kenapa mereka masih belum ngabarin gue juga ya. Yaudahlah ... , mungkin gue memang harus nunggu sebentar lagi aja, bila masih belum keluar juga, mungkin nanti gue akan masuk ke dalam setelah rokok ini habis," entah yang keberapa kalinya ia menatap jam tangannya itu, dan seharusnya kereta yang sekarang sedang ditumpangi oleh rekan-rekannya tidak lain seharusnya sudah tiba, namun sepertinya kereta tersebut berangkat lebih lambat dari hari biasanya.
20 menit telah berlalu, kini Sultan mulai dibuat bosan menunggu, dan akhirnya dia pun memutuskan untuk pergi masuk ke dalam stasiun sembari melihat-lihat di sekeliling arah yang siapa tahu dia dapat melihat rekan-rekannya di sana.
Dan ya, ternyata memang benar dugaan Sultan, akhirnya dia dapat menemukan semua rekannya yang tengah duduk di kursi tunggu stasiun Serpong.
"Udah gila kalian semua! gue nunggu di luar udah hampir tiga puluh menit, gue kira elu semua engga akan datang hari ini, tapi tahu-tahunya elu semua malah enak-enakan duduk di sini. Keluar cepat! tukang angkot udah nungguin lama bego," ucap Sultan yang terlihat begitu senang sekali ketika dia melihat semua rekannya berkumpul kembali.
"Widihh ... , gila lu Tan! gue kangen banget sama lu. Gimana kabar lu Tan, elu sehatkan di sini tanpa gue?" tanya Iman dengan dirangkulnya tubuh Sultan dikarenakan mereka semua sudah lama tak bertemu dan berkumpul seperti itu.
"Kagak ada kangen-kangennya gue sama kalian sumpah dah, tapi ya, harus bagaimana lagi, berhubung kalian semua udah mau direpotin sama gue dan udah rela datang jauh-jauh sampai ke sini jadi, gue paksain buat kangen sama kalian," ucap Sultan dengan candaan yang menjengkelkannya itu.
Mereka tertawa dengan begitu lepasnya ketika mereka dipertemukan kembali, walaupun pada dasar mereka bertemu bukan di tempat singgah aslinya, melainkan bertemu di Kota orang.
"Ke mana yang lain Tan? apa jangan-jangan lu ke sini sendirian," tanya Yogi dengan tatapan bingungnya.
__ADS_1
"Kalau gue ajakin mereka semua ujung-ujungnya pasti bakalan ngeribetin, jadi gue bagi tugas buat mereka, biar mereka nunggu di sana sekaligus nyiapin hidangan buat kalian."