
Salat subuh bersama di dalam mesjid pun telah usai dilaksanalan. Seperti biasa sebagaimana kebiasaan anak rantau, setelah mereka selesai melaksanakan urusannya sendiri di dalam sana, mereka pun lalu akan memasak makanan untuk mereka santap bersama.
Selepas makan bersama mereka pun lalu membakar satu bantang rokoknya untuk mereka nikmati di pagi hari ini juga. Pagi sekarang memang cukup cerah, bila dibandingkan dengan malam kemarin, tentunya hari sekarang jauh lebih baik bila dibandingkan dengan malam kemarin.
Pagi ini mereka bangun lebih awal, berhubung mereka masih harus menjemput teman-teman Aisyah, jadi dengan sangat terpaksa mereka harus siap untuk bangun tepat waktu seperti ini sampai mana situasi dan kondisinya benar-benar membaik.
Namun, sebelum mereka berangkat menuju tempat persinggahan Aisyah, mereka ingin membahas rencana yang semalam sudah mereka buat.
Tanpa berlama-lama lagi Sultan pun lalu menghubungi rekan-rekannya yang tengah berada jauh di dekatnya lewat panggilan grup video. Dan di sana Sultan mulai menghubungi teman terdekatnya, yaitu Iman, Rizal, Yogi, beserta juga dengan Akbar terlebih dahulu.
Sementara rekan Sultan yang lainnya berusaha menghubungi teman-temannya terdekat mereka di sana. Untung saja panggilan video grup begitu cepat terhubunng, jadi Sultan tak perlu lagi menghubungi teman-temannya yang lain hanya lewat handphone miliknya saja.
"Selamat pagi rekan-rekan tercinta, bagaimana kabar kalian semua di sana? semoga rekan-rekan semua baik-baik saja ya, berhubung panggilan video ini sudah terhubung, jadi saya mau mewakilkan suara dari para teman-teman gue yang berada di sini."
"Sebenarnya saya engga mau merepotkan kalian semua, namun berhubung dirapat kali ini saya mau menyampaikan bahwa pada dasarnya apakah kalian semua dapat menerimakannya bilamana kalian melihat salah satu diantara teman kalian ada yang mengalami musibah, dan musibah itu disebabkan bukan karena sakit ataupun kecelakanaan, melainkan dipukuli habis-habisan oleh brandalan jalanan."
Setelah Sultan membicarakan masalah ini, dengan seketika raut wajah mereka berubah, di mana yang tadinya mereka semua terlihat begitu santai sekali dalam merespon semua ucapan dari Sultan, namun setelah mereka mengetahui sebab akibatnya apa, mereka pun serentak mulai bertanya-tanya bahwa sebenarnya siapa yang telah dipukuli oleh para brandalan jalanan itu.
Di sana Iman menjadi penanya pertama, dan Sultan pun lalu menyuruh Alam menjelaskan semua masalah yang tengah mereka hadapi di sana sekarang.
"Ehh, yang bener lu Tan, jangan bercanda ah! gue engga suka mendengarkan candaan elu ini. Emangnya siapa yang udah dipukulin sama para brandalan jalanan itu? masa iya elu sih Tan, dasar lemah!" tanya Iman mulai dilanda kebingungan sambil memberikan wajah gelisahnya.
__ADS_1
"Masalah ini biar Alam sendiri aja yang menjelaskannya, soalnya gue engga pede bila harus gue sendiri yang menjelaskannya langsung kepada kalian semua."
Sultan pun menyuruh Alam untuk duduk di hadapan kamera handphone milik teman-temannya itu di sana. Dengan perlahan Alam mulai memberitahukan semua masalah yang tengah mereka hadapi di sana.
"Waktu itu sempat terjadi kesalah pahaman diantara tongkrongan gue dan dintara tongkrongan para brandalan jalanan itu, sebenarnya masalah ini adalah masalah rekan-rekan gue, bukan melainkan masalah Sultan dan Dimas."
"Namun, dikarenakan Sultan dan Dimas sangat mengenal dekat wanita yang sedang didekati oleh salah satu dari brandalan jalanan itu, jadi dia pun ikut terbawa dampaknya."
Itu hanya sebagaian penjelasan yang Alam ucapkan kepada semua temannya. Alamsayah sengaja menjeda pembicaraanya lantaran dia ingin menghisap terlebih dahulu rokoknya.
....
Huuhh ....
"Intinya semua masalah ini disebabkan karena kesalah pahaman saja, para brandalan itu mengira bahwa kita tengah mendahului mereka, tapi sebenarnya apa yang mereka kira memang benar adanya," ucap Alam sambil memberikan suara tawa gelinya.
"Oke, Lam, oke, sekarang gue paham dengan semua omongan yang elu maksud itu, tapi elu juga bisa engga jelasin sosok teman gue yang sudah dipukulin oleh para brandalan-brandalan jalanan itu," ucap Reffi yang sering dipanggil dengan sebutan Bodong.
Dia merupakan salah satu sosok teman yang sudah membantu Sultan dalam membuatkan jaket kulit pesanan teman-temannya semua di sana.
"Teman SMP elu Dong, si Sultan, tadi malam kita memang ceroboh ninggalin dia seorang diri di jalanan sepi."
__ADS_1
"Gue kira masalah waktu itu engga akan terjadi sekarang, namun sayangnya kita semua terlalu menganggap remeh cecunguk-cengunguk itu, sehingga Sultan harus mengorbankan dirinya demi membela semua temannya."
Sementara itu rekan-rekannya yang lain hanya bisa terdiam saja, dikarenakan sebab Sultan memang sengaja memerintahkan mereka hanya membunyikan satu suara saja, tidak lagi agar pembahasan di pagi hari yang singkat ini tersampaikan dengan sangat jelas.
Dan di sana Sultan hanya menunjuk Alamsyah saja sebagai narasumber di pagi hari ini, dan terlebih Alamsyah memang dapat diandalkan dalam segi beragumentasi seperti ini, bukan hanya dia lantang dalam segi bersuara, melainkan dia juga dapat menyesuaikan dirinya sendiri dengan sebaik mungkin di hadapan para teman-temannya itu sekarang.
Kali ini Alamsyah sengaja menjeda pembahasannya sampai mana teman-temannya ada yang mau bertanya tentang rencana selanjutkan akan berjalan seperti apa kepadanya.
"Huhh ... gue turut perihatin dengan apa musibah yang telah menimpa elu sekarang ini Tan, sebenarnya gue ingin sekali membantu elu di sana, tapi saat ini situasi gue berbeda Tan, gue engga bisa ke mana-mana selain di hari libur aja," ucap Iman seraya menghembuskan napasnya dengan perlahan.
"Lantas apa yang kita semua bisa lakukan untuk membalaskan dendam kalian semua kepada para cecunguk-cecunguk itu?" tanya Iman sambil menonjokan kepalan tangan kanannya ketangan kirinya.
"Tan, mau elu atau gue yang menjelaskanna? gue rasa ini adalah waktu yang tepat bagi elu untuk memberitahukan semua rencana kita kali" tanya Alam.
"Gue bukan tipikal cowok yang pedendam Lam, gue rasa cukup elu saja yang menjelaskannya."
Sultan masih terlihat rendah hati. Dia memang tak terlalu mempermasalahkan hal ini dikarenakan perkelahian semalam begitu tidak adil baginya.
Sultan kalah karena dia dikeroyok habis-habisan, bukan melainkan kalah satu lawan satu. Mungkin bila Sultan kalah duel dengan salah satu dari para brandalan itu, sosok Sultan pasti akan selalu mengingatnya sampai mana dia bisa mengalahkah sosok tersebut dengan kemampuannya sendiri.
Namun, dia mengira kekalahannya adalah hal yang lumrah, di mana musuh memang sengaja menyergapnya karena semua musuhnya tahu, bila mereka melawan Sultan satu-persatu, para brandalan itu pastinya akan kalah.
__ADS_1
Luka kekalahan karena dikeroyok oleh para brandalan itu hanya membekas dihati teman-temannya saja, sementara sosok Sultan tak menyimpan perasaan yang sama denga rekan-rekannya di sana.
Seperti yang pernah Sultan bilang, rasa sakit itu hanya akan datang ketika mana dia kalah satu lawan satu dengan siapa pun itu orangnya, dikarenakan alasannya, yaitu dia tidak ingin kalah hanya dengan satu orang, bila dia kalah dalam pertarungan seperti itu, maka dia akan merasa bahwa sekarang dirinya memang sudah mulai melemah.