Cinta Dan Kenangan Terakhir

Cinta Dan Kenangan Terakhir
Chapter 242 : Sebuah candaan


__ADS_3

Pagi itu Sultan kembali berdiam diri di depan teras rumah sambil memanaskan motor tuanya juga. Ia menyeruput susu hangat buatan tangan ibunya dengan perasaan yang tak asing lagi bilamana ia merasakannya.


Berat hati, dan memang itu adalah perasaan yang tengah ia rasakan sekarang, Sultan tak bisa mengabaikan tugasnya begitu saja hanya gegara sebuah rindu saja.


Tak lama kemudian ibunya menghampiri Sultan, di mana beliau bertanya apakah benar Sultan akan berangkat sepagi ini tanpa mau berpamitan dulu dengan Rere.


"Tan, kamu udah bilang sama Rere belum kalau kamu mau berangkat pagi ini? lebih baik kamu mampir dulu sebentar aja, siapa tahu pacarmu lagi nunggu kamu di dalam rumahnya," tanya beliau sambil membawakan tas slempang Sultan yang belum sempat ia ambil di dalam kamarnya, dikarenakan ia harus memanaskan mesin motornya itu terlebih dahulu.


"Kalau untuk sekarang kayaknya engga dulu deh Mah, mungkin nanti iya, soalnya pagi ini dia harus mengantarkan adiknya pergi ke rumah gurunya, dia bilang adiknya mau ngasih buku tugasnya," ucap Sultan sambil memakai jaketnya.


"Yaudah kalau emang kamu udah bilang sama Rere mah, hati-hati di jalan, dan ingat! jangan lupa berdoa sebelum berangkat ke Tangerang."


"Siap Mah, Sultan pamit ya, assalamu'alaikum."


Sebelum Sultan pergi meninggalkannya, ia pun memberikan rasa hormatnya kepada beliau, lalu setelah itu ia mengecup tangan beliau dengan waktu yang cukup lama.


Sultan berdoa di dalam hatinya dengan sangat khusyuk sambil menaruh keningnya di atas tangan ibunya. Setelah ia selesai melantukan beberapa doanya itu, ia pun baru bisa pergi meninggalkannya di sana.


Seperti biasa mereka akan berkumpul di rumah Alamsyah, berhubung rumah dia sejalur dengan arah jalanan yang akan mereka lalui, maka dari itu hanya rumah dialah yang tepat untuk dijadikan tempat berkumpul.


Pada saat Sultan tengah asik melajukan motor tuanya itu, temannya yang bernama Dimas memanggil namanya dengan sangat keras, ia berhenti di persimpangan jalan, dan tepatnya itu berada di sebuah jalan di mana rumah Dimas berada.

__ADS_1


Sultan kira mereka sudah berangkat lebih dulu, dan ternyata yang berangkat lebih dulu itu adalah Sultan seorang.


"Gue kira elu udah berangkat Dim, ternyata elu masih aja duduk-duduk santai di sini. Ngomong-ngomong kedua sahabat elu itu pada ke mana? biasanya mereka berdua udah pada datang lebih dulu dari gue," tanya Sultan terlihat bingung, tidak seperti biasanya kedua sahabatnya itu belum pada datang di rumah Dimas.


"Maksud elu Azmi, sama Wildan bukan Tan? katanya mereka berdua lagi pada berangkat ke sini, tapi dari tadi gue tungguin, ternyata mereka belum sampai juga," ucap Dimas sama bingungnya seperti Sultan.


Dimas menyuruh Sultan untuk menunggunya di depan sana, dikarenakan dia mau membuatkan Sultan susu hangat terlebih dahulu.


Dimas tak bertanya apa-apa lagi kepada Sultan bahwa dia ingin dibuatkan minuman apa olehnya, dan tanpa Sultan sadari dia harus meminum susu hangat yang kedua kalinya.


"Bego! kenapa elu engga bilang dulu sama gue sih kalau ternyata niat lu masuk ke dalam rumah itu cuma mau ngasih susu hangat buat gue, padahal sebelum gue berangkat ke sini, ibu gue juga udah membuatkan susu hangat untuk gue, yaudahlah, thanks Dim."


"Engga apa-apalah Tan, lagian mengkosumsi susu di pagi hari itu bagus untuk kesehatan elu, apalagi minuman ini sangat ampuh menghilangkan racun juga."


"Kalau misalkan tangan elu digigit sama ular kobra, berarti susu ini juga bisa dong menghilangkan racun tersebut itu? tapi masa iya sih susu bisa menghilangkan racun gigitan ular kobra! kayaknya sih bisa, mendingan sekarang elu pastiin dulu dah, apakah air susu memang sangat ampuh dalam segi menghilangkan racun dari gigitan ular kobra," canda Sultan sambil menyeruput susu hangat buatan temannya itu di sana.


"Udah gila lu ya! sebenarnya elu punya dendam pribadi apa sih Tan, sama gue? perasaan dari dulu hingga sampai sekarang, elu niat beut dah mau bunuh gue dengan cara buruk elu itu," ucap Dimas tak habis pikir dengan niat jahat Sultan itu kepadanya.


Sultan tertawa, tapi Dimas hanya bisa menggeleng-gelengkan kepalanya saja, dikarenakan ia takut juga bila teman gilanya itu akan melakukan hal tersebut kepadanya, dan terlebih Sultan adalah tipe pria yang suka bermain dengan ular.


"Masa iya elu takut sama ular Dim? badan doang lu gede, tapi ternyata mentalnya tempe! kalah lu sama Iman, walaupun tubuh dia kecil, tapi mentalnya beuh ... udah sama seperti pensil," ucap Sultan dengan seketika membuat Dimas bingung kembali.

__ADS_1


"Apa hubungannya badan sama pensil bego!".


"Walaupun pensil itu kecil, tapi dia sudah banyak menolong nyawa para siswa dalam mengisi jawaban ujian sekolah."


Ternyata itu alasan Sultan, bisa dibilang kata tersebut cukup nyambung, tapi Dimas masih saja mengelak dan sama sekali tak mau membenarkan ucapan Sultan itu.


"Bisa ae lu kambing! tapi tetap saja engga ada hubungannya pensil dengan tubuh gue yang subur ini."


"Punya badan kayak ikan buntal aja bangga lu! ketika disuruh praktekin gaya Pull Up sama guru olahraga aja elu sering nolak," ucap Sultan dengan seketika membuat Dimas tertawa, lantaran apa yang dia ucapkan itu memang benar.


"Sulit bagi gue Tan, mengangkat tubuh gue ini hanya bermodalan tenaga gue sendiri, rasanya bisa mendapatkan satu point pun senengnya minta ampun, apalagi gue bisa ngelakoninya sampai menghasilkan seratus point layaknya gue merasa bangga sama diri gue ini Tan."


"Jangan bercanda deh elu Dim, seratus point buat gue itu terlalu berat! kayaknya lu beneran pengen mati kayang dah, kalau emang mau silahkan, gue engga akan melarangnya."


Mereka berdua tertawa lepas di sana, sampai-sampai ibu Dimas mendengarkan suara tawa anaknya itu dari dalam ruangan rumah. Lantas beliau pun ke luar dari dalam rumah, dan ternyata anaknya lagi tertawa bersama dengan Sultan saja.


Beliau juga sempat heran, ke mana Wildan dan Azmi, biasanya mereka berdua yang selalu menamani anaknya itu di sana, tapi sekarang mereka berdua tak terlihat ada di sekitaran area rumahnya.


"Ehh, ada Sultan, mamah kirain di luar sini Dimas lagi ngobrol sama Wildan ataupun sama Azmi, tapi ternyata bukan, mamah salah kira, yaudah kalau gitu, mamah masuk lagi ya, kalau Sultan belum sarapan pagi, mamah udah siapin masakan untuk Sultan makan," ucap beliau begitu lembutnya menawarkan Sultan makanan lezat buatan tangan beliau sendiri.


"Iya Mah, engga usah repot-repot, lagian hanya dengan menikmati suguhan yang Dimas buatkan untuk Sultan ini, menurut Sultan pribadi ini udah lebih dari cukup," ucap Sultan sama lembutnya menjawab ucapan dari beliau.

__ADS_1


"Teman kamu yang satu ini memang beda dari yang lain ya, tapi mamah suka kok, direpotin, malahan setiap hari Dimas juga masih sering ngerepotin mamah, yaudah mamah tinggal dulu ya, kalau kalian udah mau berangkat, bilang dulu sama mamah oke."


Sultan dan Dimas merespon ucapan beliau hanya dengan anggukannya saja, bilamana Dimas membiarkan Sultan terus-menerus menjawab ucapan ibunya, sampai kapan pun ibunya takan mau meninggalkan mereka berdua, apalagi temannya yang bernama Sultan itu memang handal dalam segi mengambil hati seseorang.


__ADS_2