
Malam pun telah tiba, yang di mana malam itu adalah malam terakhir bagi Rere dan Sultan bertemu, serta bercerita kisah cintanya tersebut di dalam sekolah tercintanya itu.
Perpisahan itu takan pernah berlangsung lama karena mereka pasti akan bertemu kembali, dan membuat ceritanya itu menjadi semakin jauh lagi.
Malam itu udara di luar ruangan sana sangat menusuk masuk ke dalam tubuh mereka masing-masing. Kedinginan tiada henti, tiada kunjung hilang menemani mereka di dalam sekolah sana.
Seluruh siswa beserta para pebimbing pun keluar dan menetapi lapangan parkiran sekolah bersama-sama untuk mendengarkan renungan yang akan diberikan oleh guru pemandu keagamaan di lapangan parkiran sana.
Sebelum itu, seluruh siswa baru semuanya berjalan bersama-sama dengan menggunakan selembar kain hitam yang menutupi segala arah pandangan mereka.
Seluruh siswa baru di kumpulkan di lapangan parkiran sekolah sembari duduk melingkari bongkahan kayu yang di mana bongkahan kayu itu akan dijadikan api unggun untuk menghangatkan tubuh mereka di luar ruangan sana.
Mereka duduk terdiam menikmati keheningan malam yang penuh dengan hadirnya bintang-bintang dan rembulan malam. Renungan malam itu takan pernah bisa mereka lewatkan semua, tanpa adanya air mata yang jatuh dan menetes di bawah tanah, yang di mana kini sedang mereka pijaki sekarang.
Malam itu, Sultan menatap Rere yang tengah kedinginan sembari memeluk tubuhnya sendiri di lapangan parkiran sekolah. Lantas Sultan pun di sana meniup-niup tangan Rere sembari memegang tangannya dengan lembut.
"Elu kedinginan Re! kenapa elu engga pakai jaket?" ucap Sultan malam itu sembari memegang kedua tangan Rere dengan manis.
"Aku lupa bawa Tan, dan lagian kita engga boleh balik ke dalam kelas kan sebelum acaranya selesai," ucap Rere sembari menatap Sultan dengan manis.
Lantas Sultan pun di sana membuka jaketnya dan lalu memberikan jaketnya itu kepada Rere. Dengan manisnya ia mengenakan jaketnya itu kepada Rere sembari berkata dengan manis di hadapannya, "Pakai jaket gue Re, gue engga mau membiarkan elu jatuh sakit di sini begitu aja," ucap Sultan malam itu sembari memakaikan jaketnya itu kepada Rere di lapangan sana.
"Terus elu gimana Tan?".
__ADS_1
"Gue jauh dari kata masuk angin Re, dan terlebih kehangatan rasa cinta yang elu kasih ke gue lebih menghangatkan tubuh gue, bilamana dibandingkan dengan aku menggunakan jaket gunungku ini Re," ucap Sultan sembari memeluk bahu Rere di malam itu.
"Bukan gitu Tan! aku takut kamu sakit nanti, dan terus siapa lagi yang akan ngejagain aku di sini nanti."
"Aku itu kuat Re, aku engga akan mudah jatuh sakit begitu aja, dan bilamana aku sakit! aku engga perlu takut karena di sini kamu lah yang akan menjaga gue nantinya."
Rere pun tersenyum di sana, dan ia pun lantas menyandarkan kepalanya itu kepada bahu Sultan sembari memeluk tubuhnya sendiri di lapangan sana.
....
Kedinginan tiada menghilang karena seluruh siswa baru itu hanya mengenakan kaos oblong polos berwarna putih, tanpa sedikit pun mereka diperbolehkan untuk menggunakan jaket ataupun penghangat tubuh yang lainnya.
Api unggun pun masih belum dinyalakan karena perintah belum diucapkan oleh para anggota TNI di sana. Acara masih berlangsung, dan mereka pun masih terdiam kedinginan di lapangan sana, dan terlebih mereka semua tak dapat melihat ke segala arah karena mata mereka masih tertutupi oleh selembar kain hitam.
Semua siswa baru itu pun sontak berdiri dengan sekejap, ketika mana mereka mendengar arahan yang diberikan oleh para anggota TNI kepada mereka semua.
Namun, tak silam beberapa detik, ketika mana mereka akan berdiri kembali, mereka pun lalu terjatuh kembali ke bawah tanah yang di mana kini mereka sedang injaki semuanya di lapangan sekolah sana.
Mereka berseru! karena mereka tak bisa merasakan kakinya itu menyentuh di bawah tanah. Mereka juga berseru! bahwa mereka semua merasakan pusing disekujur kepalanya karena adanya penghalang pandangan yang begitu kencang di ikat kan oleh para pembimbing supaya kain itu tak terjatuh ke bawah tanah.
Lantas, para anggota TNI pun memberikan arahan kepada mereka untuk berdiri bersamaan sembari memegang bahu kawannya yang berada di depan mereka semua.
Semua siswa pun berdiri bersamaan ketika mana mereka mendengarkan arahan yang diberikan oleh para abdi negara tersebut di lapangan parkiran sekolah sana.
__ADS_1
Api unggun pun mulai dinyalakan oleh panitia OSIS karena perintah sudah diucapkan oleh para anggota TNI. Semua siswa masih terdiam tanpa membuka kain hitam yang mengikat pandangan mereka semuanya itu.
Sebelum perintah belum diucapkan oleh anggota TNI, mereka belum bisa membuka kain hitam itu di sana. Namun, para abdi negara itu sudah melihat, bahwa semua siswa itu mulai merasakan apa yang namannya mati rasa.
Sekujur tubuh mereka bergetar dengan badan yang mengkaku seperti batu, semuanya berdiri tegak sembari takut menahanan rasa akan jatuh kembali ke bawah tanah.
"Untuk para pembimbing, silahkan kalian buka kembali ikatan kain yang sedang mereka kenakan itu," ucap salah satu anggota TNI.
Sultan dan Rere pun lalu menghampiri mereka di lapangan sana, dan dengan pelannya Sultan bersama Rere melepaskan ikatan kain itu dari mata mereka.
"Setelah Akang, dan Teh Rere membukakan ikatan ini, saya harap kalian jangan langsung membuka mata kalian ya, karena itu akan membuat kalian terjatuh kembali, dan ingat! tetap berpegangan kepada bahu teman kalian yang ada di depan kalian oke," ucap Sultan malam itu kepada kelompoknya.
"Oke, Kang," ucap seluruh kelompok Sultan seirama.
Malam itu takan ada yang bisa mengalahkan semangat kelompok Sultan di lapangan parkiran sana. Suara mereka bergemuruh! dengan dinyanyikannya sebuah yel-yel hasil ciptaan Sultan sendiri di hadapan para abdi negara, guru-guru, panitia OSIS, dan juga para siswa baru lainnya.
Mereka tak tertidur setelah acara itu selesai. Dan mereka pun di sana makan malam bersama dengan para pembimbing dan juga para anggota TNI.
Dengan senangnya mereka tertawa, dan tak memikirkan hari esok adalah hari terakhir bagi mereka, yang di mana hari paling sulit itu akan segera datang mengotori semua baju mereka, menguji mental mereka, dan menguji kedisiplinan mereka di dalam sekolah itu.
Mereka diajarkan sebagai mana kerasnya pendidikan para anggota TNI dimedan latihan sana. Mereka diajarkan menahan rasa lapar, menahan rasa lelah, menahan rasa sabar, dan menahan masa sulitnya ketika mana mereka diuji di dalam sekolah SMK itu.
Sultan takan pernah membiarkan malam itu pergi begitu saja tanpa adanya salam kata yang di keluarkan dari mulutnya itu kepada Rere, sang bidadari yang menemani hidupnya sekarang.
__ADS_1
"Di mana kakimu berpijak, di situlah aku yang akan melengkapinya, dan menemani hari-harimu di sini, di negri ini, dan di kota ini. Aku akan selalu menatapmu meski jarak yang memisahkan kita nanti, namun aku akan terus memberimu kabar di sana untuk selalu bisa melihatmu tersenyum karena kebahagiaanmu lah yang terpenting untukku sekarang karena kebahaggiaanku itu mudah untuk dicari, dan tepatnya kebahagiaanku itu ada pada dirimu seorang saja," ucap Sultan di dalam hati sembari menatap Rere dengan tajam, dan tanpa sedikit pun ia berpaling ke lain arah.