Cinta Dan Kenangan Terakhir

Cinta Dan Kenangan Terakhir
Chapter 297 : Mengapresiasi rencana Sultan


__ADS_3

Suara sorakan itu membuat telinga Rere menjadi sakit saja, lantas Rere pun menyuruh mereka semua untuk diam sebelum dia mencabut perjanjiannya itu lagi. Dan dengan seketika mereka semua terdiam ketika Rere menyuruh semua teman Sultan untuk berhenti membunyikan suara soraknya itu di sana.


Rere hanya takut suara sorakan dari teman-teman Sultan itu dapat menganggu waktu tidur para warga di sana sampai hingga membuat para warga yang berada di sekitaran mereka pun memarahi mereka semua.


"Ihh ... berisik bego! elu engga lihat apa ini udah jam berapa hah? lagian engga ada manfaatnya berteriak sekeras itu, emangnya elu mau apa melihat gue mencabut perjanjian ini? gue bilangin juga lu ke Pak Mukhsin!".


"Janganlah Re, elu engga tahu sih betapa menyeramkannya wajah guru kita itu ketika dia lagi marah, jangankan ketika dia lagi marah, ketika dia lagi tersenyum pun seramnya tetap sama seperti dia lagi marah," ucap Alamsyah sambil sesekali membayangkan raut wajah gurunya itu ketika gurunya tengah marah.


Lagi-lagi mereka semua dibuat khawatir oleh Rere, untung saja di sana Sultan dapat menenangi hati pacarnya itu walaupun di sana Sultan tak berbuat apa-apa.


Sultan hanya bisa tersenyum saja, bahkan dia dibuat terdiam oleh semua temannya dikarenakan mereka tak mau sedikit pun membiarkan Sultan berbicara disebabkan teman-temannya di sana mengkhawatirkan sikap Sultan akan menyamakan sikap rese Rere juga.


"Bilangin aja Re, lagian gue masih dendam sama mereka, adai saja kamu tahu, mereka ninggalin gue di jalanan sepi sendirian dengan waktu yang cukup lama."


Ucapan Sultan yang tadi itu hanya menambah kegelisahan dihati teman-temannya saja, dan hal tersebut merupakan alasan mengapa mereka tidak mengizinkan Sultan berbicara bersama dengan Rere, dikarenakan sikap rese Sultan sewaktu-waktu dapat muncul tanpa mereka sadari dampaknya akan seperti ini.


"Udahlah Tan, lupain dendamnya, dekati persaudaraannya, lagian kita jugakan udah menjemput elu di sana, jadi udah ya, lupain masalah itu, dan gue harap sekarang elu mau berdiskusi bagaimana caranya agar kita bisa membalaskan dendam elu itu kepada mereka."


Saking khawatirnya mereka sampai suara Azmi pun terdengar agak sedikit patah-patah, bahkan bukan hanya dia, teman-temannya yang lain pun pastinya menyimpan perasaan khawatir yang sama seperti dengan Azmi.


"Sebenarnya dari awal setelah gue mengetahui semua problem yang terjadi kepada Sultan ini, gue sempat berpikiran, kayaknya gue harus memberitahu perselisihan yang telah terjadi kepada kalian ini kepada Pak Mukhsin."

__ADS_1


"Andai saja tadi itu Sultan mau berbaik hati dan dengan sukarela menyuruh gue untuk melaporkan semua perselisihan anak-anak asuhannya yang nakal ini kepada beliau, maka dari sejak itu juga gue akan melaporkannya secepat mungkin."


"Untung saja gue bukan tipe cewe yang seperti kalian kira, dan terlebih Sultan juga terlalu menyimpan banyak harapan kepada teman-temannya."


"Demi kebaikan Sultan di sana maka dari itu dengan sangat terpaksa gue mau merahasiakan semua perselisihan kalian ini dari Pak Mukhsin asalkan kalian berjanji sama gue untuk tidak mengulangi masalah ini lagi."


"Siap Re," ucap semua teman Sultan dengan serentak.


Setelah itu Rere pun pergi berpamitan kepada Sultan dikarenakan malam yang begitu panjang ini cukup menguras sedikit kesabarannya di sana.


Hingga pada akhirnya Rere tertidur dalam hitungan menit saja bahkan pesan Whatsapp dari Sultan pun tak sempat dia balas disebabkan waktu Rere untuk tertidur di sana sudah melebihi batasnya.


"Oke, jadi begini rekan-rekan gue sekalian berhubung sekarang ini waktunya tak cukup maksimal, jadi gue hanya akan membahas sedikit saja perencanaan yang akan kita jalankan nantinya."


"Sebelumnya gue ingin menelusuri jalanan serta tempat yang sering brandalan-brandalan itu kunjungi, dan tentunya gue engga akan bergerak sendiri, pastinya gue akan membutuhkan bantuan dari Dimas."


"Berhubung kita belum cukup lama bersinggah di tempat ini, jadi gue juga akan meminta bantuan dari teman gue yang lain, yaitu Aisyah."


Aisyah merupakan orang yang tepat untuk dimintai bantuan, maka dari itu Sultan akan meminta bantuan darinya saja dikarenakan Aisyah adalah orang yang lebih dulu mengenal Kota Tangerang daripada Sultan.


Mereka semua setuju dengan usul Sultan, apalagi rencana yang sekarang tengah dibahas ini adalah rencana Sultan sendiri, jadi mereka hanya bisa menuruti serta mengikuti apa ucapan yang Sultan bicarakan.

__ADS_1


Alamsyah meyuruh Sultan untuk menjelaskan rencana yang tengah dia buat sesingkat mungkin, apakah rencana tersebut merupakan rencana penyergapan ataupun rencana penyerangan.


"Tan, sorry nih gue menyela sedikit engga apa-apakan, jadi begini ya, Tan, sebenarnya rencana yang tengah elu buat sekarang ini merupakan rencana penyerangan atau rencana penyergapan?" tanya Alam begitu penasaran, di mana setelah itu Alamsayah pun membakar rokok terakhirnya agar pembahasan yang tengah Sultan bicarakan itu dapat dia rasakan selepas mungkin.


"Oke, jadi begini ya, Lam, rencana ini merupakan rencana penyergapan, maka dari itu kenapa gue ingin menelusuri tempat yang sering brandalan itu singgahi dikarenakan gue engga rencana balas dendam ini menyebankan perkelahian yang engga ada habisnya lagi."


"Pokoknya sebisa mungkin kita harus bisa menghindari hal tersebut walaupun pada dasarnya hal itu engga akan pernah mungkin terjadi."


Mereka berpikir rencana yang Sultan buat itu merupakan rencana yang sangat membosankan, namun mereka juga sadar bahwa rencana tersebut merupakan rencana terbaik yang Sultan buat agar suatu hal yang tak Sultan harapkan sebelumnya takan pernah terjadi kepada rekan-rekannya.


"Entah ini akan terlihat begitu mengasikan, ataupun ini akan terlihat begitu membosankan, kita tetap harus patuh terhadap rencana Sultan," ucap Azmi yang hanya bisa tersenyum ketika dia mendengar rencana ini merupakan sebuah rencana penyergapan saja.


"Ketika Sultan sudah berbuat, maka kita semua harus bisa sepenuhnya mematuhi rencananya ini, gue tahu sikap pemimpin kita itu seperti apa, jadi sekarang kita engga boleh menganggap simpel rencananya ini dikarenakan hal apa pun bisa terjadi setelah amarahnya tak dapat terkendali lagi," ucap Wildan membuat semua temannya tercemgang dikarenakan baru kali ini mereka melihat dia benar-benar mengakui kebolehan Sultan.


Ternyata di sana bukan hanya rekan-rekan Sultan yang itu-itu saja yang ingin mengapresiasikan usul dari pemimpinnya yang sekarang ini, dan justru di sana Ujeng pun ikut serta dalam mengapresiasikan usul dari Sultan itu juga.


"Gue tahu semua usulnya itu pasti ada alasannya juga, dan alasannya dikarenakan dia ingin melihat semua rekan-rekannya yang ada di sini tak dapat mengalami hal yang sama seperti sebuah hal yang telah dia alami sekarang ini."


"Sebenarnya gua bingung dengan usul Sultan, coba elu bayangin disaat dia sedang terluka seperti ini dia masih saja mengkhawatirkan kondisi rekan-rekannya, masa kita sebagai temannya engga bisa."


Ucapan Ujeng yang tadi itu dengan seketika membangkitkan semangat teman-temannya. Dan kini mereka semua ikut berpartisipasi dalam memeriahkan rencana yang Sultan buat tanpa mereka memikirkan dan mengharapkan perkelahian itu akan terjadi atau tidak.

__ADS_1


__ADS_2