Cinta Dan Kenangan Terakhir

Cinta Dan Kenangan Terakhir
Chapter 245 : Perkenalan yang tak diduga


__ADS_3

"Salam kenal ya, Kang, kita siswa dari SMK 2, dan kita adalah adik kelas akang saat ini, dan akan tetap menjadi adik kelas akang sampai kapan pun itu," ucap Salma, sang pengendara motor dengan lantangnya memanggil Sultan sebagai kakak kelasnya sekarang.


"Loh, kok, bisa gitu! emangnya kenapa?" tanya Sultan dengan reaksi terkejutnya.


"Karena umur akang lebih tua dari kita berdua, sedangkan akang sekarang kelas sebelas, sementara kita masih berada di kelas sepuluh, jadi akang adalah kakak kelas saya sekarang, salam kenal ya, Kang," ucap Amelia membuat Sultan sadar, ternyata apa yang mereka maksud itu adalah umur Sultan dan Dimas lebih tua dari mereka berdua.


Setelah Sultan mengetahui alasannya itu apa, ia pun tersenyum tipis di hadapan mereka berdua, dan ternyata seorang Dimas pun berani berbicara setelah dia melihat temannya begitu dekat dengan adik kelasnya itu di sana.


Padahal mereka semua baru saja berkenalan, dan itu pun hadir belum cukup lama juga, bahkan waktu yang dihabiskan belum mencapai angka 10 menitan, tapi mereka semua dapat mengenal satu sama lain secepat itu.


"Ohh, ternyata kalian ini siswa SMK 2, salam kenal ya, kita berdua siswa dari SMK 4, semoga kalian engga menyesal sedikit pun karena sudah berkenalan dengan kita disutuasi yang macet panjang seperti ini ya," ucap Dimas terdengar agak sedikit terhentak, dikarenakan dia bukan ahlinya dalam menangani hal yang seperti ini.


Sultan mengira yang mengajak mereka berdua berkenalan itu adalah dirinya, bukan melainkan kedua wanita itu, pantas saja mengapa Sultan membuang wajahnya karena dia merasa malu-malu sendiri melihat Dimas berbicara tergugup-gugup seperti itu di sana.


"Sebenarnya yang ngajakin mereka berdua kenalan itu gue bego! gue adalah orang pertama yang memperkenalkan diri gue sendiri," ucap Sultan membuat Dimas terdiam.


"Elu emang paling bisa membalikan fakta! lagian apa salahnya gue berbicara seperti itu kepada mereka," ujar Dimas yang tak mau kalah dengan Sultan dalam membela dirinya sendiri.


"Oke, jadi begini ya, Dim, bila elu membahas seberapa pandai gue dalam membalikan kata dari fakta yang sebenarnya itu, elu memang benar, gue adalah ahlinya, tapi bila elu bilang kalau mereka yang ngajakin kita berkenalan lebih dulu, berarti itu salah."

__ADS_1


Perdebatan mereka berdua membuat Salma dan Amelia tertawa lepas, ternyata mereka berdua adalah sosok cowok yang sangat lucu, dan asik juga tentunya, bahkan dalam situasi macet total seperti ini mereka berdua masih saja sempat-sempatnya membuat suana menjadi semakin asik saja untuk di lihat serta didengarkan juga.


Hanya saja waktu itu mudah berlalu, apa yang kita temukan sekarang akan menghilang bila waktunya telah ditentukan memang sudah sampai di situ.


Untung saja macet belum terleraikan juga, jadi mereka dapat memanfaatkan waktu tersebut untuk berbincang bersama-sama di jalanan yang sama.


"Kalian butuh pengawalan engga? kalau misalnya kalian butuh pengawalan, kita bisa mengawal kalian hingga sampai tempat tujuan, walaupun engga sampai puncak, tapi seengganya kita sudah mengawal kalian hingga titik pemberhentian terakhir," ucapan Dimas membuat Sultan terdiam, apa saran Dimas itu tepat, lagipula ucapan dia bisa dibilang benar, semua temannya bisa mengambil jalur sesuka mereka asalkan mereka bisa sampai di Tangerang.


Dimas menatap Sultan, ia sudah tahu pikiran Dimas apa, jadi Sultan hanya bisa mengangguk dan menawari ajakan yang sempat Dimas ucapkan kepada kedua wanita itu.


....


"Kayaknya engga ada salahnya juga tuh, dan sebenarnya akang juga sama-sama mau berhenti di Bogor untuk beristirahat sejenak di sana, walaupun berbeda tempat tujuan, tapi jalur yang akang lalui akan sama dengan jalur yang akan kalian lalui," ucap Sultan berpendapat yang sama dengan Dimas sekarang ini.


"Nanti kalian semua tetap melajukan lajuan motor kalian aja ya, jangan ada yang memberhentikan lajuan motornya sedikit pun oke," ujar Sultan membuat kedua adik kelasnya itu penasaran, sebenarnya apa yang tengah dia pikirkan di sana.


"Emangnya kenapa Kang?" tanya Salma singkat.


"Jangan pernah berhenti di pinggir jalan, dikarenakan itu akan mengakibatkan kemacetan di Kota orang, di sini kita adalah tamu, jadi kita harus bisa menjaga prilaku kita sesopan mungkin."

__ADS_1


"Siap Kang, kalau begitu saya jalan duluan ya, jangan PHP pokoknya, kita tunggu di depan sana," ucap Salma yang langsung meninggalkan Sultan dan Dimas sambil memberikan lambaian tangannya kepada mereka.


Sementara Sultan dan Dimas masih melajukan motornya dengan perlahan sampai semua temannya yang berada di belakang mengejarnya sampai ke depan.


Dan ternyata Wildan telah sampai, dia mengejar rombongannya sendiri tepat seperti dugaan Sultan dan Dimas yang sebelumya, di mana dia benar-benar bisa mengejar lajuan motor seluruh temannya itu sekarang di jalanan yang masih berada di Kabupaten Sukabumi.


Berhubung semua temannya menggunakan alat yang bernama Interkom, jadi mereka bisa saling berbincang satu sama lain tanpa harus menghentikan lajuan motornya.


"Di depan kita ada rombongan cewe, mereka mau pergi ke Puncak Bogor, berhubung kita mau pergi ke Bogor juga, jadi kita bisa mengawal mereka hingga sampai jalur pemisah antara kita dan mereka," ucap Sultan berbicara lewat Interkom sambil melajukan lajuan motornya lebih depan bersama dengan Dimas.


"Bagi menjadi tiga bagian, satu kelompok berisi tiga motor, dan gue akan melamukan motor dibarisan depan bersama dengan Sultan berdua," ucap Dimas lewat Interkom.


Sultan dengan Dimas bergerak dibarisan paling depan sekarang, sementara Azmi, Wildan, Rizki begerak dibarisan tengah, dan yang bergerak dibarisan paling belakang ada Ujeng, Utuy, serta Alamsyah.


Mereka bergerak sesuai instruksi, sampai-sampai kekompakan mereka membuat teman-teman Salma dan Amelia terkejut, sebenarnya mau apa mereka semua.


Untung saja para wanita itu juga telah mempersiapkan alat yang sama, yakni Interkom sebagai alat komunikasi mereka saat ini di sana.


"Tenang aja engga usah takut, mereka semua adalah pengawal kita, dan yang ada diantara barisan kalian itu semuanya adalah teman-teman dari kakak kelas kenalan gue di sini," ucap Salma berbicara lewat Interkom sembari tersenyum melihat kekompakan teman-teman Sultan di sana.

__ADS_1


"Izin ganti posisi, gue mau jalan dibarisan paling depan, sepertinya orang kepercayaan kamu lebih asik diajak bicara, gantianlah, kita juga mau kenalan sama akang yang ada di depan elu Alma," ucap salah satu teman Salma.


"Yang di depan orangnya agak sedikit rese! jadi serahin orang ini sama gue aja, gue masih bisa menghadapinya sendirian kok, lagian masih ada Amel, dia bisa nolongin gue juga di depan sini oke," canda Salma membuat semua temannya menyesal karena mereka tak sempat mengenal dari salah satu orang yang Salma anggap sebahai pria rese tersebut itu.


__ADS_2