Cinta Dan Kenangan Terakhir

Cinta Dan Kenangan Terakhir
Chapter 156 : Sosok guru


__ADS_3

Sultan pergi dari dalam ruangan sembari membawa satu bungkus rokok penuh digenggaman tangannya itu. Ia duduk terdiam seorang diri di depan teras sana dengan dinikmatinya angin pagi yang tak berubah sama sekali.


Angin pagi itu sama dinginnya seperti angin malam, namun kehangatannya tentu saja berbeda. Siapa yang dapat membedakannya? tentunya itu adalah bidadarinya.


Sultan membakar dan menghisap rokoknya sebelum dia menghubungi wanitanya di sana. Ia tak pernah menghubunginya sebelum rokoknya habis setengah, dikarenakan ia sadar bahwa Rere pasti masih sibuk dengan urusannya sendiri.


Kringg, kringg, kringg ....


Suara telepon Whatsapp Sultan berbunyi. Ia mengira bahwa panggilan suara itu berasal dari wanitanya di sana, bahkan tanpa Sultan melihatnya pun dia sudah mengetahuinya bahwa itu memang panggilan suara Whatsapp dari wanitanya.


Dengan senangnya ia mengucapkan kata manisnya, padahal dia sama sekali belum memastikan panggilan suara itu dari siapa, bisa jadi itu adalah panggilan suara dari gurunya.


"Assalamu'alaikum Be, jodoh emang engga ke mana ya," ucap Sultan dengan santainya tanpa mengetahui siapa yang meneleponnya itu.


Dengan seketika, nada suara kasar ke luar dari mulut seseorang, nampaknya suara tersebut bukan suara dari Rere, melainkan terdengar seperti suara dari gurunya, yaitu Pak Mukhsin.


"Wa'alaikum Salam. Siapa yang baru saja kamu sebut-sebut sebagai jodohmu itu hah? sebarangan aja kamu bilang kayak gitu sama gua, gurumu sendiri ini Tan!" ucap beliau yang memang sulit rasanya bagi Sultan membuat suatu candaan untuk diberikan kepadanya.


Sultan menelan ludah, dia merasa tak enak hati kepadanya, dan bahkan yang lebih parahnya lagi Sultan sengaja membuat speaker suara panggilannya itu agar bisa terdengar oleh semua temannya di sana.


Seluruh temannya dibuat bingung oleh Sultan, kenapa bisa gurunya itu memarahi Sultan, atau jangan-jangan dia membuat suatu kesalahan yang dapat membuat penyakit darah tingginya itu kumat kembali.

__ADS_1


Dimas yang tengah berdiri menunggu giliran untuk mandi itu pun, dengan cepatnya pergi ke luar dari dalam ruangan. Dia memang sengaja menghampirinya karena ingin mendengarkan pembicaraan mereka berdua, namun alangkah malangnya Dimas, hingga mana dia pun sama seperti Sultan, sama-sama dimarahi oleh beliau.


Salahnya lagi dia malah menanyakan ada masalah apa, apalagi Pak Mukhsin sangat tidak menyukai sebagian orang yang sering mengikut campuri urusan orang lain.


"Ada masalah apa Tan?" tanya Dimas penasaran.


Saking penasarannya Dimas, sampai dia tidak sadar bahwa sekarang dia baru saja ke luar dari dalam ruangan hanya berpakaian handuk yang di ikatkan untuk menutupi seluruh anggota bagian tubuh bawahnya saja.


"Ngapain elu nanya-nanya Mas? masuk sana!" suruh Pak Muh dengan nada tegasnya.


Dimas mengangguk takut, dia membiarkan Sultan menyelesaikan masalahnya itu bersama dengan beliau. Setelah Dimas masuk ke dalam ruangan kosan, dilanjutkan oleh Azmi yang baru saja selesai mandi.


Azmi pun sama seperti Dimas, yang di mana dia ke luar dari dalam ruangan kosan hanya menggunakan kain handuk yang sengaja dia ikat untuk menutupi seluruh anggota bagian tubuh bawahnya itu juga.


Saking eratnya persahabatan mereka, Azmi pun melontarkan kata-kata yang sama seperti Dimas. Tentunya hal itu membuat Pak Mukhsin semakin marah saja, habisnya ucapan dia tak ada bedanya dengan ucapan sahabatnya.


....


Pak Mukhsin melontarkan ucapan yang sama juga, beliau memarahi Azmi seperti dia memarahi Dimas, lagipula seorang guru tegas pasti akan selalu memberikan tegasan yang sama kepada semua muridnya.


Bisa disatu sisikan dengan sebuah pelajaran, mereka semua pasti akan mendengarkan teori yang sama dari mulutnya, kurang lebihnya agar mereka dapat memahami apa yang dimaksud dengan penjelasan tersebut, maka tak heran kenapa beliau sering kali memberikan pemahaman yang sama kepada mereka semua, dan intinya beliau hanya ingin melihat semua murid asuhannya peka.

__ADS_1


Sultan tertunduk, ia berharap Pak Mukhsin akan segera mengakhiri panggilan suara telepon ini, walaupun sebenarnya Sultan sangat ingin membuat alasannya yang lain agar gurunya itu bisa berhenti memarahinya.


Namun, waktunya memang belum tepat, bahkan bila Sultan beralasan pun beliau takan pernah mau mendengarkan ucapan dusta dari mulut Sultan itu.


"Langsung keintinya saja, bapak mengizinkan kalian untuk pergi pulang sebentar ke Sukabumi, tapi kalian harus mengingat kata-kata bapak ini dengan sebaik mungkin! hanya sebentar saja, dan tak boleh lama-lama," ucap beliau mulai menurunkan nada suara tingginya itu.


"Siap Pak, terima kasih, dan sebelumnya saya juga mau minta maaf soal masalah yang tadi," ucap Sultan dengan lantangnya menghilangkan rasa takutnya itu.


"Bapak engga mau ikut campur Tan, tapi bapak berharap kamu akan tetap menjaga, serta menunjukan sikap profesionalmu tersebut kepada bapak di sini," ucap beliau dengan harapan, bahwa dia kali ini benar-benar tidak salah dalam memilih Sultan sebagai penanggung jawab semua teman-temannya di sana.


"Sikap yang bapak sebut-sebutkan itu takan pernah pudar dalam diri saya Pak, karena itu sudah menjadi keyakinan tersendiri bagi saya untuk membuktikannya kepada bapak."


Pak Mukhsin mulai sedikit tercengang kagum, dan kebetulan ucapan Sultan memang terdengar lantang tanpa adanya keraguan di dalam dirinya, namun hal ini hanya sebagian saja, dan Sultan merasa bahwa ucapannya ini takan berhenti sampai di sini saja.


"Bapak senang dapat mendengarkan ucapanmu itu Tan, semoga saja kamu bisa dan sanggup untuk membuktikannya kepada bapak secepat mungkin," ucapan sesederhana itu bisa membuat Sultan merasa sangat yakin, bahwa gurunya masih belum bisa melupakan ucapan Sultan itu tadi.


Sultan belum berhenti melontarkan ucapan yang dapat membuat gurunya itu tercengang kagum kepadanya. Sultan berbicara mewakili semua temannya, dikarenakan tanpa mereka, mungkin dia takan pernah bisa merasakan ikatan persaudaraan seerat ini.


"Engga akan lama lagi Pak, kita pasti akan membuktikannya secepat yang bapak inginkan di sana," Sultan menjeda ucapannya.


Sultan menghela napas, ia pun sempat bingung akan melontarkan kata-kata apa lagi untuk dia berikan kepada beliau, soalnya beliau pun tengah menunggu ucapan rumpang yang selanjutnya akan ia gabungkan menjadi satu kembali.

__ADS_1


"Mungkin bapak akan mendengarkannya langsung dari mulut pimpinan di Perusahaan ini, dan bapak akan mengetahui lebih seberapa rajin kita semua bekerja di sini, itu semua kita lakukan untuk bapak," ucap Sultan yang sengaja tak menyebutkan nama sekolahnya, dikarenekan sekolah hanya mempertemukan mereka, bukan mengajarkan mereka.


Pak Mukhsin sudah mengetahui kenapa Sultan tak menyebutkan nama sekolahannya itu, tentunya pemikiran beliau sama seperti Sultan, yang di mana sekolah memang hanya mempertemukan mereka saja, dan apa pun itu pasilitas di dalamnya hanya sebagai benda, bukan sebagai otak yang dapat mengajarinya dengan sedirinya tanpa adanya bantuan dari sosok guru seperti dia.


__ADS_2