
Setelah Sultan dan Dimas lama menunggu semua temannya di luar sana, mereka berdua sama sekali tidak melihat adanya tanda-tanda dari keberadaan para temannya-temannya itu di jalanan yang sekarang tengah Sultan singgahi tersebut.
Sultan mengajak Dimas untuk melintas di sekitaran tempat persinggahan Aisyah, siapa tahu teman-temannya itu sempat melihat Sultan pergi dan lalu mereka mengikutinya dari belakang.
"Dim, mendingan sekarang kita cari mereka semua di sekitaran kontrakan Aisyah aja gimana? siapa tahu mereka diam-diam sempat melihat kita, dan lalu mengikuti kita hingga sampai ke sana," tanya Sultan sambil mematikan bara api dari rokoknya itu.
"Masuk diakal juga, yaudah Tan, kita berangkat sekarang."
Dimas setuju, dan akhirnya mereka berdua kembali berjalan di sekitaran kontrakan Aisyah, namun mereka berdua kali ini tidak akan menyapa teman wanitanya itu di sana.
Mereka berdua hanya ingin memastikan saja, siapa tahu semua temannya ada di sana, kalaupun tidak ada, Sultan akan pergi kembali dan membiarkan semua temannya datang dengan sendirinya.
Ternyata semua temannya itu tak ada di sana untuk sementara ini, tapi Sultan masih tetap ingin mencari semua temannya di sekitaran tempat tersebut sampai dia benar-benar menemukan sedikit jejak langkah kaki dari semua teman-temannya itu di sana.
Pada saat Sultan menelusuri halaman yang luas di tempat itu, tanpa sengaja ia melihat putung rokok yang baru saja dimatikan, lantaran ujung dari padamnya bara api rokok tersebut masih agak sedikit hangat.
Makanya Sultan tahu bahwa rokok tersebut baru saja dimatikan oleh seseorang, dan seseorang itu adalah temannya.
Rokok tersebut memang banyak dibeli oleh orang-orang dari berbagai pelosok mana pun, dan terlebih rokok tersebut memang paling banyak dibeli oleh para pemuda.
Sultan dapat membedakan rokok tersebut berbeda dari wangi filternya itu menyatu dengan parfum milik temannya yang bernama Wildan.
"Tunggu Dim, ini kayaknya rokok Wildan dah, coba deh lu cium wangi parfum ini, persiskan sama wangi parfum yang dia gunakan tadi sebelum pergi ke luar," ucap Sultan sembari memberikan putung rokok tersebut agar Dimas dapat mengendus wanginya juga.
"Benar Tan, ini memang rokok dia," ucap Dimas sependapat dengan ucapan Sultan juga.
__ADS_1
Dimas memberikan rokok tersebut kembali kepada Sultan agar supaya Sultan menyimpan rokok tersebut dibungkus rokoknya yang kosong.
Sultan dan Dimas mulai mencari keberadaan mereka, dan dengan seketika ia mendengar suara orang yang sedang berkelahi, lantas Sultan dan Dimas berlali karena mereka takut suara tersebut berasal dari perkelahian semua teman-temannya.
"Dim, itu mereka, cepat bantu mereka!" ujar Sultan sembil berlari menghampiri semua temannya yang tengah dikeroyok habis-habisan.
"Mereka kalah jumlah! ayo kita olahraga malam dulu sebelum tidur, haha," ucap Dimas sama berlali seperti Sultan.
Azmi terkapar bersama dengan gitar milik Sultan, mungkin saking kesalnya Azmi sampai-sampai dia bangkit dari rasa terburuknya itu hingga memukul dua pria menggunakan gitar Sultan hingga hancur.
"Azmi, gitar gue itu bego! ahhh ... ," ucap Sultan berteriak histreris melihat gitarnya hancur.
Namun, Sultan tak memperdulikan hal itu, mau gitarnya rusak sampai terbelah menjadi dua bagian seperti itu pun tidak masalah baginya, asalkan ia bisa membantu Azmi bangkit kembali.
"Dasar lemah kalian semua! masa kalah sama berandalan seperti mereka, ayo bangun bocah jompo!" ujar Dimas bergumam dengan lantangnya sambil memukul dua pria yang diduga berandalan itu sekaligus.
Berbeda hal nya dengan Sultan, dia memilih untuk tetap patuh menjaga keselamatan semua temannya di sana tanpa dia mau memukul para berandalan itu.
"Cukup bego! kalian ini pada kenapa sih, berantem kagak jelas asal-usulnya, bicarain dengan seksama, apa sebab serta masalahnya dulu, jangan main adu jotos sekaligus," ujar Sultan sambil merangkul tubuh Azmi.
"Banyak omong lu! mereka udah mengganggu kenyamanan tempat kita dengan melintas di sekitatan tempat kita tanpa izin," ucap salah satu berandalan itu dengan tegasnya.
"Woii, kampret! emangnya ini tanah milik elu! mendingan sekarang lu pergi dan tutup mulut bau lu itu sekarang juga, sebelum gue memberikan kalian semua pelajaran," ujar Sultan tanpa henti menyuruh mereka untuk berhenti berkelahi.
Lemparan batu mengarah tepat ke arah wajah Sultan, tapi batu itu tak mengenai wajahnya, dikarenkan dengan cepatnya dia menanggkap batu itu menggunkan tangannya.
__ADS_1
"Dikasih hati malah minta ampedunya lu," ucap Sultan, yang di mana ia pun melemparkan kembali batu itu kepada pelemparnya hingga tepat mengenai kepalanya.
"Bangun Mi, kita hajar mereka semua! gue tahu kalau orang-orang itu bukan asli warga sini, soalnya Aisyah pernah bilang kalau mereka sering gangguin dia."
Setelah memastikan kondisi Azmi baik-baik saja, Sultan berlali dan melompat dari kejauhan hingga lututnya itu tepat mengenai wajah dari teman si pelempar batu tadi.
Dengan seketika Sultan pun ikut bertarung bersama teman-temannya di sana, untung saja Sultan sudah makan malam, jadi tenaganya bisa dibilang lebih kuat bila dibandingkan dengan tenaga teman-temannya yang lain selain Dimas.
Wushh ....
Suara angin dari pukulan Sultan terdengar jelas ditelinga para berandalan yang tengah dia lawan itu. Sultan bertarung begitu santainya, dia pun tak menganggap pertarungan ini adalah pertarungan sungguhan.
Di sana Sultan hanya mengulur waktu singkatnya itu saja, dia tak ingin membiarkan tenaganya sampai hilang dan terkuras habis dimakan oleh nafsunya sendiri.
Makanya Sultan hanya mengelak dan memberikan beberapa ancaman pukulan sedikit saja, itu pun pukulannya sengaja dia lesetkan agar musuhnya lengah.
"Ayo, pukul gue cepetan! masa iya kalian berdua kalah, di sinikan gue cuma sendiri loh bego," ledek Sultan membuat hati lawannya merasa panas.
Musuhnya memukul wajah Sultan secara bersamaan, namun sangat disayangkan pukulan tersebut malah meleset sebab Sultan menghindarinya begitu mudah.
"Eitss, engga kena bego! nih sekarang rasain toyoran gue," ledek Sultan sambil menoyor kedua kepala musuhnya.
"Sialan lu! sini lawan gue! sendiri aja gue mampu melawan elu hingga elu menerima ajal elu malam ini, ada kata terakhir yang ingin elu ucapkan kepada ibu lu Bro?" tanya salah satu berandalan yang ingin melawan Sultan seorang diri.
"Elu engga sadar apa! lihat teman lu yang barusan gue sikat menggunakan lutut gue ini, dari tadi dia pingsan begitu lama, apa mungkin dia sekarat, kalau emang elu tatap nekat ingin melawan gue seorang diri silahkan, asalkan elu jangan menyesal."
__ADS_1
Sultan mulai mengubah arah pandangnya di sana, dan sekarang wajahnya pun telihat lebih datar dari sikap datar yang biasanya, matanya yang melotot seperti memberikan sebuah isyarat untuk menjauh, serta senyum tipisnya sudah terlihat seperti sang singa sedang menunjukan taring giginya yang tajam itu kepada mangsanya.