
"Bisa engga kamu Re? satu hari aja engga terlihat cantik di hadapan gue ini," ucap Sultan waktu itu sembari menatap Rere dengan penuh tatapan yang kosong.
"Emang kamu mau gitu Tan, pacar elu sendiri di sebut jelek sama orang lain?" ucap Rere sembari menatap Sultan juga.
"Engga perduli! karena kamu terlihat cantik dan dianggap cantik hanya olehku saja Re," ucap Sultan yang masih menatap Rere dengan tatapan kosongnya itu.
"Apaan sih Tan! udah lah, jangan kayak gitu, gue kan jadinya malu-malu sendiri."
Rere pun latas menutup wajah Sultan dengan menggunakan tangannya itu, supaya prianya tersebut berhenti menatapnya dengan tatapan yang kosongnya itu.
Dan lagi-lagi Sultan tersenyum ke arah wanitanya itu, ia pun di sana lantas mencubit pipi Rere dengan lembut, ia di sana merasa sangat senang, ketika mana wanitanya itu telah mencintai Sultan seutuhnya.
Rere pernah berbicara kepada Sultan tentang perasaannya itu dulu, yang di mana ketika hubungannya itu belum cukup lama mereka jalani sebelumnya.
Rere pernah berkata, bahwa ia dulu hanya sekedar mengaguminya, bukan melainkan mencintai dirinya seutuhnya, dan di sana Sultan pun sempat terkejut! ketika mana Rere berbicara seperti itu kepada dirinnya dengan sangat jujur.
Namun, di sana Sultan hanya tersenyum karena lain waktu Rere akan menyadarinya sendiri, bahwa Sultan di sana sungguh sangat mencintai dirinya, tanpa melihat apapun selain melihat kesungguhan hatinya itu seperti apa mancintai Rere.
"Tan, sebenarnya waktu itu ... setelah mana kita resmi berpacaran, aku hanya menganggap dirimu pacar yang biasa-biasa saja, namun kali ini aku paham, bahwa sekarang sampai saat ini aku telah mencintaimu seutuhnya, seperti layaknya aku menganggap dirimu adalah pangeranku," ucap Rere kala itu kepada Sultan.
"Sama Re, aku juga sependapat sama kamu. Namun, aku tak terlalu mempersalahkan hal itu karena ketika mana kita mencintai, pasti butuh waktu untuk saling memahami, dan maka dari itu kamu harus tahu Re, bagaimana caranya agar kita bisa menganggap pasangan kita sendiri itu adalah jodoh kita nanti, dan tentunya kita harus saling mengikhlasi satu sama lain, dan kita juga harus bisa saling menerimai bahwa bahagia akan terasa ketika mana kita sudah melewati masanya itu."
"Aku senang kamu jujur Re, dan aku juga mengerti, bahwa hidup ini penuh dengan prinsip, yang di mana kita juga engga akan pernah bisa menyamakan prinsip hidup orang lain itu."
"Sebagian orang akan menganggap kita itu ada Re, dan bahkan sebagian orang itu juga akan menganggap kita lebih dari sekedar ada di muka bumi ini Re."
"Konspirasi alam kehidupan itu semuanya berputar sesuai waktu yang telah diarahkan dan ditetapkan Re, dan semua itu engga akan bisa kita tebak begitu aja Re, sebelum kita lah yang mengungkapkannya sendiri," ucap Sultan kala itu kepada Rere.
__ADS_1
Kala itu, Rere merasa bahwa ia benar-benar harus mencintai Sultan melebihi dari kata rindu yang terpendam, ia harus bisa mencintai Sultan seutuhnya karena prianya pun bisa melakukan hal tersebut kepadanya.
Dan di sana Rere berpikir! kenapa ia tidak bisa menjadi seperti Sultan, dan lantas Rere pun di sana tidak mau mengalah, ia tidak mau melihat Sultan sendirian bersikap manis kepadanya seorang diri, dan dari sebab itu lah, ia pun mulai bisa menerima Sultan seutuhnya karena ia tahu, sebarapa sayang prianya itu dengan wanitanya tersebut.
Sultan selalu melengkapi kekurangan Rere, dan dia juga tak pernah meninggalkan Rere dikala ia mulai merasa membutuhkan dirinya di sana. Pelukan itu selalu membebani kehidupan mereka, pelukan itu selalu membuat hati merasa gundah, melepas rasa lara yang takunjung hilang menyapa.
....
Kembali lagi kepada Sultan dan Rere, mereka di sana duduk terdiam entah menunggu apalagi, dan di sana mereka seperti orang yang sedang tertidur, namun itu tidak. Entah apa yang sedang mereka pikirkan sebelumnya hingga mereka terdiam berdua di dalam ruangan sana seperti itu.
"Re, kenapa diam aja? apakah ada kata yang salah aku ucapin sama kamu? sehingga kamu jadi terdiam seperti ini," ucap Sultan sembari menatap Rere kembali.
"Kamu lagi mikirin hal yang sama engga sih Tan, sama aku?" ucap Rere yang membuat Sultan merasa heran di sana.
"Maksudnya gimana Re? aku engga ngerti."
Sultan pun lantas tersenyum dan tertawa, bahwa pemikiran Rere itu memang beriringan dengan apa yang sedang Sultan itu juga pikirkan di sana.
"Kok, sama ya Re, aku juga lagi mikirin hal itu. Dan jadi ... apakah jawaban kamu sekarang udah berubah Re?".
"Aku sayang sama kamu Tan."
"Sama ... aku juga sayang sama kamu Re," sahut Sultan sembari membisiki telinga Rere.
Merasa sangat senang! merasa sangat bahagia! merasa tak ingin jauh-jauh lagi dari sisinya! ya, dan tentunya itu semua adalah hal yang sedang mereka berdua rasakan di sana.
Senyum manis, canda tawa, mesranya kebersamaan kini sedang mereka rasakan di dalam rumah sana. Siapa yang bisa pergi jauh dari sana, ketika mana hati mulai terpanah oleh suatu keadaan rasa nyaman.
__ADS_1
"Jangan tinggalin Rere ya, Tan," ucap Rere sembari menatap Sultan dengan penuh harapan, agar dia tidak meninggalkannya sendirian.
"Berapa kali aku harus bilang sama kamu Re, aku sayang sama kamu, aku engga akan ninggalin kamu sebelum kamu yang ninggalin aku lebih dulu," sahut Sultan kembali membisiki telinga Rere.
"Aku engga akan bisa lama-lama di sini ya, Re."
"Kenapa emangnya Tan."
"Gue takut kalau sore ini bakalan hujan lagi."
"Takut kok, sama hujan!".
"Gue lupa! bahwa atap rumah di kamar gue itu bocor Re, jadi gue harus siap-siap perang sama hujan di dalam rumah."
Rere pun tertawa di sana, ia pun lalu mengantarkan Sultan ke depan gang rumahnya itu setelah Sultan pergi berpamitan kepada ibu Rere di sana.
"Aku pulang ya, jaga diri kamu baik-baik, aku engga mau melihat kamu sakit Re," ucap Sultan sambil mengelus hijab yang melekat dikepala Rere itu.
"Iya Tan, kamu juga hati-hati pulangnya, dan jangan kebut-kebutan di jalan karena kamu bukan jagoan ya," ucap Rere sambil mengecup tangan Sultan.
"Lucu banget pacar gue hehe, iya siap Be," ucap Sultan sembari mencubit pipi Rere.
Sultan pun lalu menyalakan motor tuanya itu, dan lantas ia pun lalu pergi kembali untuk pulang kerumahnya sendiri di sana. Dan setelah mana ia ada diperapatan jalan, suara handphonenya itu tiba-tiba berdering, dan lantas ia pun pergi menepikan motornya itu terlebih dahulu disebrang jalan.
"Halo Bro, di mana lu? gue lagi kumpul nih di tempat biasa sama kawan-kawan yang lain," ucap Iman.
"Oke, gue ke sana sebentar," ucap Sultan sambil mematikan dan memasukan kembali handphonenya itu, ke dalam saku celananya tersebut.
__ADS_1
Sultan pun lantas menghampiri mereka yang di mana semua teman-temannya itu sedang berkumpul di sebuah kosan, yang di mana kosan itu sering disebut-sebut sebagai Base Camp mereka.