Cinta Dan Kenangan Terakhir

Cinta Dan Kenangan Terakhir
Chapter 320 : Tak bisa dipungkiri


__ADS_3

"Huhh ... pada sakit semua dah badan gue Mi, pokonya setelah gue pulang dari tempat ini, gue mau langsung tidur terlelap di dalam tempat yang sebenarnya."


"Bilangin sama rekan-rekan elu untuk tidak mengganggu waktu tidur nyenyak gue," ucap Sultan sambil melingkarkan tangan kanannya di bahu Azmi.


"Siap Tan, lagipula gue percaya bahwa rekan-rekan elu engga akan pernah mau mengganggu waktu tidur elu, walaupun pada dasarnya elu bisa dibilang sebagai orang terusil ditongkrongan kita, namun untuk sekarang ini mereka semua tahu kondisi elu seperti apa Tan."


"Pokoknya setelah ini elu pasti bisa tidur pulas Tan, gue yakin seyakin-yakinnya mereka engga akan mengganggu waktu tidur elu," ucap Azmi sembari menepuk pelan bahu Sultan seraya tersenyum tipis melihat Sultan begitu lemah sekarang.


Sultan dan Azmi mulai berjalan perlahan meninggalkan tempat perkelahian. Sementara teman-temannya serta rekan-rekannya mengikuti mereka dari arah yang sebelumnya mereka jadikan tempat untuk bersembunyi.


Sebenarnya mereka bukan bersembunyi, melainkan mereka semua sedang mengawasi pergerakan Sultan dan juga Azmi. Mungkin bila rekan-rekannya tak mengingat misinya yang sekarang itu apa, mereka semua pasti akan lebih memilih untuk membantu Sultan serta Azmi bila dibandingkan dengan mereka memilih berdiam diri di balik kegelapan malam.


Tak lama kemudian setelah itu mereka berdua telah tiba di tempat persinggahan Aisyah dengan diiringi para rekan-rekannya di belakang sana.


Aisyah beserta teman-teman wanitanya yang lain merasa terkejut ketika mereka melihat Sultan berjalan sambil terpincang-pincang.


Para wanita itu lalu menghampiri Sultan beserta dengan Azmi sambil membawa dua cangkir gelas air mineral untuk diberikan kepada mereka berdua.


"Apa yang sudah terjadi kepada Sultan Mi, lebih baik kalian berdua minum dulu," ucap Aisyah sambil memberikan air tersebut kepada Azmi dan Sultan.


"Alhamdulillah, kita berdua baik-baik aja kok, kalian semua engga usah khawatir, Sultan hanya membutuhkan sedikit waktu istirahat saja di sini," ucap Azmi, di mana dengan perlahan Azmi pun mulai melepaskan rangkulannya agar temannya itu dapat duduk dan beristirahat sejenak di sana.


Setelah mereka mendengarkan ucapan dari Azmi hingga pada akhirnya semua temannya merasa lega bahwa sebenarnya Sultan baik-baik saja, dan dia hanya membutuhkan sedikit waktu untuk menghilangkan semua rasa lelahnya di sana.

__ADS_1


Setelah itu Sultan pun duduk terdiam tanpa kata, yang dia pikirkan saat itu hanyalah seberapa lama dia melupakan wanitanya di sana.


Sementara itu di Sukabumi, dan tepatnya di rumah Rere, yang di mana benar apa kata Sultan, di sana dia benar-benar dibuat menunggu oleh pria bodoh yang sering kali mengabaikan wanitanya demi kebahagiaan rekan-rekannya.


Seperti biasa bila Rere sudah mulai merasa bosan menunggu kabar dari prianya di dalam kamar, di sana Rere pasti akan selalu berpindah tempat, dan pastinya dia akan memilih untuk diam di ruangan tamu rumahnya.


"Kira-kira ini anak bego pergi ke mana ya, kok, sampai sekarang dia masih belum ngabarin gue juga sih! atau jangan-jangan ada sesuatu hal yang membuat dia takut!".


Rere menjeda sejenak ucapannya dikarenakan dia merasa bahwa Sultan memang sengaja tak mengabarinya lantaran sekarang prianya tengah berkumpul dengan para rekan wanitanya juga.


"Emm, tapi masa iya sih dia takut menghubungi pacarnya sendiri di saat dia lagi asik-asiknya berkumpul dengan rekan-rekannya di sana," ucap Rere dengan segala kecurigaanya.


....


Tak lama ketika Rere membicarakan prianya itu di sana, dengan seketika Sultan pun menghubungi Rere tepat pada saat Rere akan beranjak pergi dari ruang tamunya.


Suara handphone Rere menyala. Dan dari sejak itu Rere pun akhirnya tak jadi pergi dari ruang tamunya, yang di mana sekarang Rere lebih memilih diam di sana dengan waktu yang cukup lama.


"Baru inget gue lu Tan! ke mana aja lu selama ini? kenapa jam segini baru ngabarin gue," tanya Rere sambil tersenyum dengan begitu tipisnya.


Hanya dengan sekali mendengar suaranya seperti apa, Sultan sudah dapat menebak perasaan Rere yang sekarang sesuntuk apa, sesepi apa, dan seberapa bosan Rere berdiam diri menunggu kehadiran sosok Sultan di sana.


Kadang kala Sultan sering dibuat rindu bila dia mendengar suara rendah yang keluar dari mulut Rere itu. Hanya saja untuk sementara waktu ini Sultan tak dapat menemuinya meskipun dalam keadaan rindu sekali pun.

__ADS_1


Pastinya Rere akan bertanya-tanya bila dia melihat penampilan Sultan yang sekarang seperti apa, namun di sana Sultan masih belum mengubah panggilan telepon suaranya ke panggilan video.


"Galak amat dah perasaan Re! maafin gue dah, abisnya urusan gue di sini baru selesai, dan sekarang elu mau ngelampiasin hal apa sama gue Re?" tanya Sultan penuh perhatian.


"Gue cuma mau elu cepat pulang aja Tan, gue rasa itu udah cukup bagi gue," ucap Rere terlihat begitu mengharapkan sosok pria resenya pulang dari sana.


"Mungkin kalau untuk masalah ini gue masih belum bisa melakukannya Re, tapi bila memang elu ingin bertemu dengan gue, insyaallah hari libur nanti gue pulang."


"Tapi, itu pun engga akan lama Re, soalnya perjalanan yang gue tempuh cukup jauh."


Mau seberapa lama dan mau seberapa singkat pertemuan itu nanti, sebenarnya yang Rere inginkan hanyalah seberapa bisa seorang Sultan mengatur waktunya untuk Rere.


"Sebenarnya gue engga terlalu mengharapkan hal itu Tan, apalagi sampai gue memaksa elu untuk pulang dan menetap di sini saja."


Usaha yang Rere kerjakan bisa dibilang tak pernah gagal sedikit pun, semuanya pasti selalu berjalan sesuai dengan apa yang dia harapkan.


Rere akan selalu berbicara blak-blakan ketika mana dia sedang merindukan sosok seperti Sultan. Itu adalah satu cara yang dia gubakan agar Sultan mau menemaninya hingga tidur terlelap di dalam kamarnya.


"Jadi sekarang maunya gimana? perasaan bilang jujur aja apa susahnya sih Re. Lagian tinggal bilang elu lagi rindu sama gue juga susahnya minta ampun dah."


Dengan seketika Rere memotong pembicaraan Sultan, mungkin saja dia takut bila Sultan mengungkapkan perasaan Rere bahwa dia benar-benar merindukan sosok pria resenya.


"Apaan sih bawel! itu mulut udah kayak cewek aja dah, mana ada gue merindukan sosok pria rese dan bego seperti elu, lagian ya, apa susahnya nyari cowok yang mau dijadiin temapat pelampiasan buat gue."

__ADS_1


Rere berbicara kepada Sultan sambil memandang ke arah yang tak biasanya Rere tatap pada saat dia tengah berbincang bersama dengan Sultan.


Pada dasarnya bisa dibilang membuang wajahnya dikarenakan malu. Hal tersebut sering kali hadir walaupun tak cukup lama, namun hal tersebut tak bisa dipungkiri bahwa hati berkata dia sedang merindukannya.


__ADS_2