
Waktu tak berlangsung lama, hanya dalam hitungan detik saja pertemuan itu begitu cepat berlalu. Sebelum Sultan pergi dari rumah Rere, ia sempat melaksakan ibadah salat zuhurnya itu di dalam musala yang letaknya tak cukup jauh dari rumah Rere.
Setelah itu Sultan akan pergi menghampiri semua teman-temannya yang sudah berkumpul di dalam kosan dekat sekolahannya itu berada.
Sultan sengaja mengulur waktu sampai jam dinding di rumah Rere telah menunjukan pukul satu siang. Rasanya pertemuan ini begitu singkat saja, dan esok pagi ia pun sudah harus pergi kembali ke Tangerang.
Ia berharap kali ini Rere takan bertingkah semaunya, apalagi sampai dia membahayakan keselamatannya sendiri, itu adalah suatu hal yang tak ingin Sultan lihat kembali.
"Tunggu rindu itu hingga mana aku pulang sepenuhnya untuk menuntaskannya ya, Be, jangan pernah mengejar rindu tersebut sampai sejauh seperti hari kemarin, dikarenakan aku terlalu khawatir Be, tetap diam dan bersinggah di tempat yang memang menurutku aman, soalnya sejauh mana pun kamu mengejarnya, rindu itu akan tetap pulang ke tempat yang sebenarnya kembali."
Lagi-lagi Sultan memberikan kata-kata yang tak ingin dia dengarkan sebelumnya, habisnya setelah Sultan bersikap sebegitu manis kepadanya, Sultan selalu pergi begitu saja setelah ia membuat wanitanya tersenyum lebar.
Suara panggilan telepon berbunyi di ponsel Sultan, dan ternyata penelepon itu adalah sahabat baiknya yang bernama Akbar, sepertinya mereka semua sudah menunggu dia di dalam sana, tapi Sultan tetap menyuruh mereka untuk menunggunya beberapa saat lagi.
"Oyy, Tan, lagi di mana lu sekarang? sebenarnya elu jadi apa kagak sih datang ke sininya, kita semua udah pada ngumpul di dalam kosan, Yogi juga ada Tan, bahkan Iman dengan rombongannya sudah datang, rasanya kurang begitu lengkap bilamana elu engga ada di dalam sini Tan," ucap Akbar mencoba membujuk Sultan agar dia bisa cepat-cepat datang ke kosan.
Sultan meminta izin kepada Rere untuk menjawab telepon panggilan suara dari sahabatnya itu sebentar saja di luar ruangan rumah, dikarenakan perbincangannya takan terdengar seramah pada saat Sultan datang ke rumah Rere.
Sultan tak mau bersikap manis kepada sesama pria, dan apalagi pria tersebut itu adalah para sahabat-sahabatnya yang bisa dibilang gila semua.
__ADS_1
"Alahh ... jijik gue dengernya! ucapan dan nada suara elu itu terdengar sangat alay ditelinga gue! tunggu gue, pokonya itu mulut harus gue jepit pakai jepitan jemuran yang baru, biar sakitnya lebih terasa," ucap Sultan dengan seketika sahabatnya itu mematikan telepon panggilan suaranya di sana.
Tutt ...
Suara panggilan terputus. Sultan tahu bahwa Akbar takut, lantaran dia juga pernah melihat bibir temannya yang bernama Maulana itu pernah dijepit juga menggunakan jepitan yang baru.
Yang menjepit bibir Maulana itu adalah Iman, dan waktu itu Maulana sempat mengucapkan kata yang menurutnya tidak enak untuk didengarkan, dan ucapan itu berupa ucapan sayang.
Begitu geli Iman mendengarkannya, dan bilamana kita lihat hanya dengan menejepit bibir dengan satu jepitan saja itu terlihat begitu sepele dan tidak terlalu menyakitkan, bagaimana dengan lima jepitan baju baru dibibir? rasa sakit itu akan terasa sangat sakit, apalagi jepitan baju baru tersebut masih terlalu keras daya cengkramannya.
"Mampus gue! sembunyiin semua jepitan baju yang ada di dalam kamar Soleh, si Sultan mau menjepit bibir gue ketika dia datang ke sini Bro," ucapan Akbar tak berpengaruh apa-apa, semua temannya berpendapat sama seperti Sultan.
....
Jepitan baju yang sengaja mereka beli itu bukan digunakan untuk menjepit baju, melainkan jepitan tersebut mereka gunakan untuk menjepit bibir sesama temannya.
Memang terdengar agak sedikit aneh, dan bahkan hal itu terlalu aneh bagi setiap orang yang mendengarkannya secara jelas, namun hal tersebut ada kaitannya dengan alasan mereka yang menginginkan sikap semua temannya agar tak berbelok.
Apa ucapan yang mereka lontarkan selama ini, takutnya itu akan menjadikan suatu kebiasaan bagi mereka semua. Makanya mereka berinisiatip untuk melakukan hal tersebut itu secara bersamaan.
__ADS_1
"Kalau begitu aku pulang dulu ya, soalnya ada suatu hal yang harus aku kerjakan bersama dengan teman-teman aku di dalam kosan," ucap Sultan, di mana ia hanya tak sabar ingin melihat Akbar menarik kembali ucapannya itu dan menyesali apa perbuatan yang telah dia lakukan kepadanya.
"Jangan pulang terlalu malam, dikarenakan besok kamu akan menempuh perjalanan yang cukup panjang kembali Be, aku engga mau melihatmu jatuh sakit," ucap Rere penuh perhatian.
Mereka berbincang sembari berjalan ke luar di dalam gang, seperti yang sering Rere lakukan, entah hobby atau entah itu sebuah kewajiban, namun Rere tak pernah merasa bosan mengatarkan Sultan ketika mana prianya akan pulang setelah berkunjung ke rumahnya itu di sana.
"Aku pulang ya, jangan lupa makan, soalnya tadi aku makan sendirian di dalam rumahmu tanpa kamu yang menemani aku, sebenarnya itu tidak adil Be, lain kali kalau aku makan, pribuminya pun harus ikut makan seperti tamunya oke," ucap Sultan sambil mencubit pipi kanan Rere dengan perlahan.
"Iya bawel, yaudah sana cepet pulang, nanti kalau udah sampai rumah pokoknya elu harus telepon gue secepat yang elu bisa lakukan," ucap Rere dengan nada suara lembutnya, di mana dia pun lalu melambaikan tangannya kepada Sultan di belakang sana.
Setiap saat Sultan akan selalu menatap raut wajah Rere di balik kaca spion motor tuanya itu hanya untuk memastikan seberapa lama dia bisa bertahan meratapi kepergian Sultan.
Sultan tersenyum tipis sembari mengangkat satu tangan sebelah kirinya tak terlalu rendah, dan tak terlalu tinggi untuk membalas lambaian tangan tulus dari Rere di belakang sana.
Sesampainya di dalam kosan, Sultan berlali menghampiri sahabatnya, yakni Akbar. Ia langsung mengeksekusinya dan tanpa berlama-lama lagi menyuruh semua temannya yang berada di dalam kosan untuk memegang tangan Akbar.
Akbar tak dapat melawan, apalagi mereka semua begitu erat memegang seluruh anggota bagian tubuh luarnya. Lantas Sultan menyuruh Soleh untuk mengambil jepitan baju tersebut yang berada di dalam kamar kosannya.
"Ahh ... Tan, ampun! iya gue salah, gue salah! gue janji engga akan mengucapkan ucapan dengan nada suara yang begitu alay seperti tadi," ujar Akbar menyepelekan niat Sultan dengan berbicara sambil tertawa-tawa.
__ADS_1
"Ini udah konsekuensi yang harus elu hadapi Bai, ini semua demi kebaikan diri kita sendiri, ikat tangan dan kakinya seperti Maulana dulu," ucap Sultan sambil memastikan apakah jepitan itu aman dan tidak terlalu kuat daya cengkramannya.
Semakin Akbar melawan, semakin lepas suara tawa teman-temannya itu di dalam sana. Sultan mulai menjepitkan beberapa jepitan baju tersebut satu-persatu dibibir sahabatnya itu.