Cinta Dan Kenangan Terakhir

Cinta Dan Kenangan Terakhir
Chapter 181 : Jeweran guru


__ADS_3

Sultan melihat kesegala arah ruangan kosan, tapi ia sama sekali tak dapat melihat adanya tanda-tanda keberadaan dari saudaranya di sana. Ia pun lalu menanyakan kepada Iman, apakah dia melihat saudaranya.


"Saudara gue ke mana Men?" tanya Sultan.


"Gue juga kagak tahu Tan, soalnya gue tadi ada di rumah Pak Mukhsin sama Akbar, sama Rizal, sama Maulana, sama si Taufik juga," ucap Iman.


"Si Yogi ke mana Men?".


"Dia lagi tidur di dalam kamar Akbar Tan."


Sultan pun lalu menanyakan keberadaan saudaranya sekarang ada di mana kepada Bang Azis, siapa tahu dia melihat saudaranya pergi ke mana dan sama siapa.


Sultan duduk di samping Bang Azis yang tengah asik tertawa bersama dengan para kakak kelasnya yang lain di sana.


"Bang, lu liat saudara gue kagak?" tanya Sultan.


"Saudara lu pulang Tan, sama kakak dari pacarnya," ucap Bang Azis membuat Sultan tenang.


"Makasih kalau begitu Bang, gue kira tadi dia kabur dan engga izin dulu sama lu di sini," ucap Sultan yang langsung pergi meninggalkan mereka semua.


Ia kembali duduk bersama dengan semua teman-temannya. Ia sempat berkata ingin pergi ke rumah Pak Mukhsin juga, namun Iman melarangnya karena mereka sempat dimarahi oleh beliau, mungkin Sultan tahu apa dari alasan yang Iman ucapkan kepadanya itu tadi.


"Gue mau izin pergi ke rumah Pak Mukhsin dulu Bro," ucap Sultan yang sudah siap akan pergi ke rumah Pak Mukhsin.


"Kalau menurut gue Jangan sih Tan, gue aja tadi dimarahin sama dia, katanya kayak engga ada waktu aja datang malam-malam begini," ucap Iman membuat Sultan tersadar bahwa Pak Mukhsin sepertinya sempat menjewer telinga Iman di dalam rumahnya.


"Pantas saja telinga kalian merah kayak begitu haha, tapi tenang aja Men, gue udah izin sama dia, katanya sebelum tengah malam gue boleh datang ke rumahnya," ucap Sultan membuat semua temannya terheran-heran, kenapa Sultan boleh mengunjungi rumahnya malam-malam begini.


Tak lama kemudian Pak Mukhsin pun menelepon Sultan, beliau menyuruh dirinya untuk datang sekarang sebelum tengah malam.


"Assalamu'alaikum, katanya kamu mau datang ke rumah bapak Tan, di mana kamu sekarang?" ucap Pak Mukhsin dengan nada suara rendah hatinya.


"Sultan berangkat sekarang Pak, sebentar lagi Sultan sampai di rumah bapak sama Yogi," ucap Sultan yang sama rendah hatinya dalam berbicara kepada beliau di sana.

__ADS_1


"Pesanan bapak udah kamu belikan belum Tan?".


"Udah Pak, tapi Sultan beli oleh-olehnya di Kota Sukabumi bukan di Tangerang."


"Yaudah, engga apa-apa Tan, cepat bawa ke sini, ini Istri bapak udah nunggu oleh-olehnya dari kemarin."


Sultan pun lalu membangunkan Yogi, ia menyiramkan air minum mineralnya tepat mengenai kepala Yogi, sampai-sampai dia terbangun, dikiranya kamar kosan Akbar bocor karena air hujan.


"Bangun bolot! tidur mulu lu," ucap Sultan yang tak kuat menahan rasa ingin tertawanya.


"Gila lu Tan! gue kira kamar Akbar bocor," ucap Yogi yang baru setengah sadar dari tidur terlelapnya.


"Pak Mukhsin nyuruh kita datang ke rumahnya, cepet Yog, molor mulu elu mah ah."


Mereka berdua pun lalu pergi meninggalkan kosan. Yogi masih menggunakan baju basah, namun baju basahnya tertutup oleh jaket yang dia kenakan.


Rumah Pak Mukhsin tidak cukup jauh dari sekitaran sekolahan dan kosan, jadi mereka berdua datang lebih cepat walaupun hanya berjalan kaki saja.


....


"Lu jaga sikap lah Tan, entar gue lagi yang kena," ucap Yogi terlihat ketakutan.


"Tenang Yog, gue bawa buah pesanan dari Pak Mukhsin, jadi dia engga akan marah."


Pak Mukhsin menjawab salam dari Sultan dengan tatapan datar seperti biasanya. Beliau menyuruh mereka berdua untuk masuk ke dalam rumahnya tanpa membunyikan suara apa pun.


"Ayy, oyy, ayy, oyy ... masuk sini, jangan berisik! nanti ibu negara bangun dari tidurnya Tan," ucap Pak Mukhsin yang tengah membercandai Sultan.


Sultan dan Yogi dengan seketika menutup mulutnya menggunakan kedua tangannya. Yogi sempat menyenggol Sultan, namun alangkah menyebalkannya Sultan sampai ia mengadukan ulah Yogi kepada Pak Mukhsin.


"Elu sih Tan! gue bilang jangan berisik!" ucap Yogi sembari menyenggol Sultan hingga buah durian yang tengah dia pegang hampir terjatuh mengenai kakinya.


"Pak, Yogi nakal nih! dia nyenggol Sultan sampai buah durian ini hampir jatuh mengenai kaki Sultan," ucap Sultan mengadukan ulah Yogi kepada beliau, sampai-sampai beliau menjewer telinga Yogi.

__ADS_1


Untung saja jewerannya itu hanya sekedar geretakan, jadi jewerannya yang tadi itu tidak terlalu terasa oleh Yogi.


"Yogi! nanti kalau durian bapak kotor kamu mau beliin yang baru apa hah!" ucap Pak Mukhsin sembari menjewer pelan telinga Yogi.


"Ampun Pak! maaf Pak, saya salah."


Yogi terdiam, tapi tidak dengan Sultan, yang di mana ia sebenarnya merasa ingin menertawakan Yogi, namun sekarang posisinya masih kurang baik, hingga pada akhirnya ia hanya bisa menahan rasa ingin tertawanya dengan menggunakan satu tangan kirinya.


"Kalian mau minum apa? teh, susu, atau kopi?" tanya Pak Mukhsin menawari mereka minuman.


"Kopi boleh deh Pak, tapi Yogi engga tahu kalau Sultan mau apa. Tan, lu mau apa?" tanya Yogi membuat posisi Sultan terancam.


"Gila lu ya! lu mau dihantam sama Pak Mukhsin," bisik Sultan singkat saja.


"Beli sana! di sini cuma ada air keran aja," ucap Pak Mukhsin membuat kedua siswanya menepikan wajahnya di sana.


Yogi menundukan kepalanya dengan sangat rendah, mengira candaannya itu akan diterima olehnya seperti candaan yang Sultan berikan kepada beliau sebelumnya.


Sultan menggeleng-gelengkan kepalanya sembari menutup mulutnya rapat-rapat. Ia tak mau banyak berkata apa-apa lagi kepadanya sampai saat ini sebelum beliau menyuruhnya untuk berbicara.


"Ahh bapak, biasalah si Yogi baru bangun dari tidurnya, jadi ucapannya ngelindur ke mana-mana," ucap Sultan dengan disenggolnya tangan Yogi.


"Iya Pak, maafin saya," ucap Yogi membuang jauh-jauh pandangannya dari Pak Mukhsin.


"Apa yang mau kalian bicarakan?" ucap Pak Mukhsin.


"Jadi, begini Pak, rencananya besok kita semua mau membawa kendaraan sendiri, itung-itung utuk menghemat uang jajan," ucap Sultan mewakilkan suara dari teman-temannya semua.


"Bapak engga pernah melarang kalian untuk menggunakan kendaraan sendiri, tapi apakah kalian engga takut bila nanti bertemu dengan polisi, ataupun bertemu dengan begal di sana."


"Mungkin kalau bertemu dengan begal bersenjata tajam udah biasa Pak, tapi masalahnya ini Pak, bertemu dengan para polisi."


"Kalau masih ada keraguan mendingan kalian pulang pergi naik kereta saja."

__ADS_1


"Saya siap menanggung semua resikonya Pak, ehh ... maaf Pak, maksud saya kami."


Ucapan terakhir Sultan sungguh membuat Pak Mukhsin percaya bahwa mereka pasti dapat menjaga dirinya sebaik mungkin di sana, dan terlebih mereka semua adalah anak laki-laki, jadi tak ada yang harus dia takutkan, apalagi masalah bertengkar, mereka semua jagonya.


__ADS_2