Cinta Dan Kenangan Terakhir

Cinta Dan Kenangan Terakhir
Chapter 284 : Jaga agar tak roboh


__ADS_3

Hujan rintik masih belum juga mereda, walaupun hujan itu tak cukup lebat, namun akan tetapi rasa dinginnya benar-benar terasa hingga ke dalam tubuh mereka semua.


Mereka masih belum bisa menemukan keberadaan Sultan, tapi di sana mereka sempat melihat motor Sultan yang tergeletak begitu saja tanpa ada yang mengemudikannya.


Sepertinya motor Sultan itu memang sengaja dijatuhkan, dan yang menjatuhkan motor Sultan itu bukan dialah orangnya, melainkan seperti dijatuhkan oleh seseorang yang diduga para brandalan jalanan.


Mereka semua memberhentikan lajuan motornya, dan dengan seketika mereka pun berlari pada saat mereka tanpa sengaja melihat motor Sultan yang tergeletak di sana.


"Dim, itu motor Sultan, cepat berhenti Dim!" ucap Alam yang menyuruh Dimas memberhentikan lajuan motornya dikarenakan saat itu Alam tengah menaiki motor Dimas.


"Motornya sengaja ditinggal di sini, tapi orangnya entah pergi ke mana, lebih baik kita bawa motor Sultan dan segera pergi mencarinya di depan jalanan sana," Ucap Azmi sembari membangunkan motor Sultan yang tergeletak di sana tanpa tuannya.


Setelah Azmi membangunkan motor tua milik Sultan itu, dia pun lalu menyuruh Wildan mengecek kondisi motor Sultan apakah motornya itu masih hidup ataupun sudah mati.


"Wil, mendingan sekarang elu cek dulu motor Sultan dah, apakah motornya ini masih bisa dinyalakan," ucap Azmi yang hanya menyetandarkan motor Sultan itu saja, dan setelah itu dia pun melihat ke sekeliling arah jalanan hanya untuk memastikan Sultan ada di sana.


Setelah Wildan mengecek kondisi motor tua milik Sultan, dan ternyata motor Sultan sama sekali tidak bisa dinyalakan, bila Wildan tetap memperbaikinya di sana, yang ada dia malah akan merusaknya karena sebab gelapnya langit di malam hari menghalangi pandangannya.


"Motor Sultan mati Mi, gue engga bisa memperbaikinya untuk sekarang ini dikarenakan mencari Sultan jauh lebih penting daripada memperbaiki motornya," ucap Wildan sembari memegang pinggulnya seraya menatap kesegala arah hanya untuk memastikan Sultan ada di sana.


"Kita cari si Sultan sampai ketemu, gue rasa dia engga pergi jauh dari sini, bila perlu sampai ke kontrakan Aisyah juga," ucap Alam sembari berjalan kaki tanpa dia mau duduk di atas jok motor Dimas.


Mereka semua lebih memilih untuk berjalan kaki saja, sementara itu semua motornya hanya mereka dorong dikarenakan mereka takut sewaktu-waktu melewati Sultan.

__ADS_1


Sultan masih terdiam di tempat yang sama, dan dia sama sekali tidak bisa membangunkan semua bagian anggota tubuhnya, yang hanya bisa Sultan lakukan sekarang itu hanyalah menahan semua rasa sakitnya saja.


Sudah hampir setengah jam Sultan terbaring, sekiranya bila dihitung-hitung ada 20 menitan, namun anehnya di sana dia sama sekali tak terlihat kedinginan.


Sultan menghilangkan semua rasa sakit dan rasa dinginnya itu dengan menggunakan cara yang cukup sederhana, bisa dibilang cara itu adalah mengoceh seorang diri.


Sultan terus-menerus melakukan segala cara agar tubunya dia buat semakin lelah saja, Sultan berharap dengan cara sederhananya itu, semua tubuhnya akan mengeluarkan banyak keringat sehingga semua tubuhnya terasa lebih panas seperti hal nya ketika dia sedang berolahraga di bawah panasnya terik sinar matahari.


Tak lupa Sultan juga menjaga saluran pernapasannya agar tetap stabil, bilamana Sultan tak menjaganya, maka hal yang tidak dia inginkan akan benar-benar terjadi.


....


Gejala Hipotermia adalah gejala yang Sultan takutkan untuk saat ini, makanya di sana dia berusaha menjaga saluran pernapasannya agar tak hancur.


Sultan juga menyemprotkan sedikit cairan yang berada di dalam botol Hand Sanitizer, entah itu untuk apa, namun cara tersebut sangat berpengaruh baginya.


"Lama-kelamaan enek juga ya! tapi tanpa alat bantu ini tubuh gue engga akan bisa bertahan selama ini, pakasain aja dah, gue tahu mereka ada di depan sana," ucap Sultan terlihat begitu sangat santai.


Bila teman-temannya ada di sana mungkin mereka semua akan dibuat bingung oleh Sultan, di mana nada suara seorang Sultan terdengar seperti biasanya, bahkan tubuhnya pun tak terlihat bergetar sama sekali.


Sultan juga sempat berpikiran bahwa seluruh tubuhnya sudah dibuat mati rasa, namun pada saat dia mencubit pipinya, rasa sakit itu masih bisa Sultan rasakan.


"Sultan, Sultan ... ," teriakan suara dari teman-temannya terdengar jelas ditelinga Sultan.

__ADS_1


Pada saat itu Sultan kembali tersenyum lebar dan tertawa begitu lepasnya di sana. Dia sangat senang hingga pada akhirnya apa yang dia harapkan benar-benar terjadi.


Berhubung di samping kepalanya ada beberapa batu kecil, lantas Sultan pun mengambil batu tersebut dan lalu Sultan pun memasukan batu tersebut ke dalam botol plastik yang berada digenggaman tangannya.


Sultan tak sanggup untuk mengoyangkan-goyankan botol tersebut, hingga mana dia melemparkan botol yang di dalamnya sudah diisi oleh beberapa batu kecil itu agar semua temannya sadar, bahwa di hadapannya sekarang ada seorang teman yang bernasib malang, yakni Sultan.


Brukk ....


Suara lemparan dari botol itu membuat semua temannya tersadar, bahwa suara tersebut berasal dari arah pandang yang sekarang tengah mereka lihat.


"Bre, tunggu sebentar! elu semua dengar suara itu engga? sepertinya itu Sultan dah, apa perlu kita memastikannya langsung ke jalanan gelap itu di sana," ucap Dimas kepada semua temannya.


"Benar Dim, gue dengar suara itu, kayaknya suara itu berasal dari depan sana dah," ucap Alamsyah, yang di mana dia pun berlari secepat mungkin hingga teman-temannya yang berada di belakang dia tinggalkan.


"Lam, tunggu Lam! kita engga boleh terpisah, ingat pesan dari teman kita itu, jangan sampai kita terpecah belah hanya gegara masalah ini," ujar Azmi membuat Alam berhenti berlari.


Bila bukan karena pesan dari Sultan, mungkin Alamsyah takan pernah terlihat sesabar ini di sana, apa pun yang terjadi dia harus tetap mematuhi pesan dari Sultan.


Azmi mengira suara tersebut hanyalah taktik buatan saja agar semua temannya dibuat tepecah menjadi beberapa bagian, hingga pada akhirnya para brandalan itu dapat dengan mudahnya memanfaatkan situasi tersebut.


Sebenarnya itu bukan salah Azmi, namun dia berpikir apa yang harus mereka patuhi tetap harus mereka jalani, dan tentunya hal tersebut jangan sampai mereka lupakan begitu saja.


Azmi hanya menyuruh mereka untuk bersiap siaga saja, dan dia tak ingin melihat semua temannya bernasib sama seperti apa yang Sultan alami sekarang.

__ADS_1


Bila di sana tak ada pengingat yang baik seperti Azmi dan juga Dimas, mungkin mereka semua sudah terpisah jauh dari awal pencarian.


__ADS_2