
Rere masih menyandarkan kepalanya dibahu Sultan, dia meminta Sultan untuk mengajaknya pergi ke luar ruangan. Ia menuruti apa permintaan dari wanitanya itu di sana, lantas Sultan pun membawanya ke suatu tempat yang mungkin Rere akan menyukainya.
"Tan, main ke luar yu, rasanya sumpek juga kalau harus diam di rumah terus kayak gini," ucap Rere dengan di tatapnya raut wajah Sultan.
"Ogah ah, gue cape Re, lagian tadi gue makan terlalu banyak, takutnya kalau dibawa jalan-jalan isi makanan yang gue makan ke luar semua," candaan Sultan kepada Rere, yang di mana ucapannya itu membuat Rere hilang semangat.
"Yaudah Tan, engga apa-apa kalau kamu engga mau ngajakin gue main ke luar."
Rere merunduk kembali atas apa ucapan yang telah Sultan berikan kepadanya, namun tundukannya itu tak bertahan lama, sehingga Sultan bangkit dari duduknya dan lalu mengajak Rere pergi dari dalam ruangan rumahnya.
Rere masih terdiam, sementara Sultan telah bangkit dari duduk manisnya di dalam sana. Dia dibuat bingung oleh Sultan, kenapa disaat dia sudah merasa kesal dengan sikap prianya, Sultan malah membangkitkan semangatnya kembali di sana.
Rere berpikir ini memang cara Sultan untuk membuatnya bahagia, tapi anehnya kenapa juga dia harus membuatnya merasa kesal terlebih dahulu, dan kenapa juga Sultan tidak langsung to the point saja kepadanya.
Itu adalah suatu kebiasaan yang sering Sultan lakukan terhadap dirinya, dan sekarang Rere pun tak mengetahui jelas apa maksud dari semua itu.
"Katanya kamu mau main ke luar, tapi kenapa masih duduk aja, yaudah ayo kita pergi Re," ucap Sultan sembari menjulurkan tangannya.
"Katanya kamu males Tan! kalau emang kepaksa engga usah pergi aja," ucap Rere yang tak langsung memegang juluran tangan Sultan itu.
"Cepat amat marahnya elu mah ya, Re! jangan banyak tanya! mendingan elu ikutin aja kemauan gue."
Sebenarnya itu adalah kemauan Rere untuk pergi ke luar dari rumah Sultan sebentar, dan sekarang malah Sultan yang membalikan ucapannya itu kepada Rere.
__ADS_1
Dia sungguh bingung dengan sikap aneh Sultan itu, dan di sana Rere pun tak mau membuang waktunya, dikarenakan bilamana dia membuang waktunya, maka Sultan akan menarik kembali ucapannya.
Rere memegang juluran tangan Sultan sembari tersenyum ke arahnya, sementara Sultan langsung merangkul bahu Rere karena itu adalah hal yang sering Sultan lakukan kepadanya, dan terlebih ia mengira hal tersebut lebih nyaman untuk dilakukan ketimbang dengan hanya memegang tangannya saja.
"Lu mau bawa gue ke mana Tan?" tanya Rere yang mulai berani mengeluarkan sikap aslinya di hadapan Sultan.
"Elu manisnya cuma lagi di dalam rumah gue aja Re, engga asil lu bolot!" ucap Sultan dengan dicubitnya pipi kiri Rere.
Itulah Rere, dia hanya bersikap manis ketika mana dia sedang berada di dalam rumah Sultan saja, tetapi ketika sudah berada di luar ruangan Rere akan mulai mengerluarkan sikap menyebalkannya itu kepada Sultan.
Rere melakukan semua itu hanya ingin terlihat rendah hati di hadapan ibu Sultan, kurang lebih dia memang sedang mengambil hati ibunya itu agar beliau terpikat dengan dirinya.
"Gue engga enak Tan, kalau harus memperlihatkan sikap asli gue ini di hadapan ibumu, lagian elu juga sama kan Tan, sering bersikap manis ketika lu lagi berkunjung ke rumah gue?" tanya Rere menatap penuh raut wajah Sultan sembari menunggu ucapan yang akan Sultan lontarkan kepadanya.
Sultan terdiam, ia hanya membalas pertanyaan Rere dengan senyumannya saja, lagipula tidak ada yang harus dibicarakan lagi, dikarenakan Rere sudah mengetahui hal itu.
Mereka mulai memasuki kawasan perumahan di atas bukit Baros. Sebelumnya mereka harus menuruni turunan jembatan besar yang cukup curam, tapi tenang saja jembatan itu sangat aman bilamana mereka lalui, bahkan kendaraan besar seperti Bus pun cukup aman bila melintas di atas jembatan tersebut itu di sana.
Rere agak sedikit ragu, namun Sultan dengan mudahnya menghilangkan keraguan di dalam hatinya itu, dan terlebih sekarang Sultan tengah mendampingi dirinya, jadi Rere tidak perlu menakutkan hal apa pun selagi Sultan ada di sisinya.
"Gue agak sedikit ragu Tan! mendingan kita pulang lagi aja ke rumahmu," ucap Rere sembari menarik tangan Sultan.
"Gue engga salah dengarkan Re?" ucap Sultan yang sempat menghentikan langkahnya itu.
__ADS_1
"Gue takut ketinggian Tan."
"Gue pun sama Re, tapi bila kamu belum mencobanya sampai kapan pun kamu akan tetap seperti ini, lagian jembatan itu aman kok, Re, kamu engga usah terlalu memikirkan hal yang dapat membuat hatimu itu bimbang."
"Tapi Tan ... ," ucapan Rere tiba-tiba dipotong oleh Sultan.
"Gue selalu ada di sampingmu Re, lagipula rangkulan ini udah cukup kuat, gue mana mungkin bisa mengurangi kekuatan ini Re."
Tak banyak berkata-kata lagi, Sultan pun mulai melangkahkan kakinya, dan Rere pun mulai mengikuti langkah kaki Sultan dengan perlahan.
Sultan merangkul bahunya sekuat yang dia bisa lakukan, ia merangkul dengan kuatnya tanpa sedikit pun Sultan melepaskan rangkulannya itu.
Sekeras apa pun dia merangkul bahunya, sekeras apa pun dia menggenggam tangannya, tapi anehnya Rere sama sekali tak dapat merasakan kesakitan apa pun, dan yang jelas itu memang sebuah keahlian Sultan tersendiri, bagaimana cara dia melakukannya? itu adalah rahasia miliknya sendiri.
Jebatan besar di bawah aliran sungai yang jernih itu dengan seketika memanjakan mata Rere. Dia mulai memberanikan dirinya sekarang setelah dia melihat betapa indahnya alam ciptaan Tuhan.
"Adem juga ternyata ya, Tan, di atas sini? kamu emang benar Tan, seharusnya gue engga perlu menakutkan hal apa pun di sini, lagipula jembatan sebesar ini mana mungkin bisa roboh begitu saja," ucap Rere sembari melompat-lompat, yang di mana dia hanya ingin memastikan apakah jembatan ini cukup kuat menopang tubuhnya yang ringan itu.
"Engga ada hal yang tidak mungkin bagi Allah untuk merobohkan jembatan ini Re, bahkan merobohkan Dunianya pun beliau bisa, maka dari itu kita harus tetap bersyukur, jangan sampai kebahagiaan ini membuat kita melupakan dirinya," ucap Sultan sembari menatap indahnya alam ciptaan Tuhan di Dunia ini.
Rere mengangguk dan tersenyum ke arah Sultan. Dan lalu setelah itu Rere pun mengambil ponselnya untuk berfoto dengan Sultan di atas sana.
Sultan hanya bisa tersenyum dan mengikuti apa kemauan yang dia inginkan. Tak lama kemudian setelah mereka selesai mengabadikan momennya bersama di atas sana, Sultan pun lalu mengajak Rere untuk berjalan lebih jauh lagi.
__ADS_1
Ia akan mengajak Rere menatap idahnya permandangan alam di atas bukit Baros bersama-sama. Mungkin setelah Rere menginjakan kakinya di atas bukit sana, dia akan merasakan tubuhnya seperti dibawa melayang, dikarenakan dia akan melihat jajaran Kampung halaman Sultan dengan jelas di atas sana, dan bahkan Kampung halaman tempat Sultan bermain pun akan terlihat juga.