
Ternyata ini alasan Sultan yang sebenarnya, kenapa dia ingin menghabiskan waktunya seorang diri tanpa mau ditemani oleh Rere.
Sultan memang tengah dilanda kebingungan, dan rasa itu datang pada saat dia menginjakan kakinya di dalam rumah Rere.
Banyaknya pria yang mendekati Rere menjadikan sebuah masalah baru bagi Sultan, ia hanya takut bila nanti Rere akan terpikat kepada sosok pria yang lebih sabar darinya.
Itu adalah rasa yang memang tengah ia khawatirkan sekarang, dan selebihnya ia hanya bisa memasrahkannya saja kepada Tuhan.
Sultan mengeluarkan kotak rokoknya yang masih penuh, ia pun lalu membakar dan menghisap rokoknya itu serta menghembuskan asap rokoknya dengan perlahan ke atas langit biru.
Tapp, tapp, tapp ....
Suara langkah kaki seseorang terdengar jelas di telingan Sultan, ia mengira itu adalah suara langkah kaki Rere, namun ternyata suara tersebut bukan berasal dari langkah kaki Rere.
Dengan seketika pukulan mendarat diwajah Sultan, ia sempat dibuat bingung, kenapa pria itu memukul wajahnya, Sultan tak menerimanya, lantas ia pun memukul wajah pria itu dengan sangat keras sampai dia terjatuh.
"Pukulan lembek kayak begitu mana bisa menjatuhkan tubuh gue ini! dasar lemah! beraninya main pukul dari arah belakang," ucap Sultan sambil menginjak-nginjak rokoknya yang terjatuh itu.
Tak lama kemudian datang orang suruhannya, mereka dengan seketika memukul Sultan bersamaan sampai dia tidak bisa melawannya.
Kebanyakan hantaman mereka mendarat diperut Sultan, dikarenakan di sana ia benar-benar melindungi raut wajahnya dari pukulan mereka semua.
Diduga orang-orang yang memukuli Sultan itu adalah pria yang sempat beradu mulut dengannya pada saat Sultan tengah memberhentikan lajuan motornya di pinggir jalan.
"Ternyata ini semua adalah ulah elu bego! dasar lemah! beraninya keroyokan, kalau emang lu beneran laki, sini lawan gue satu lawan satu!" teriak Sultan membuat semua orang menghampirinya, banyak orang yang perduli dengan Sultan, sampai-sampai musuhnya pergi begitu saja pada saat semua warga menghampirinya di sana.
__ADS_1
"Akang engga apa-apa kan?" tanya salah satu seorang pengunjung kepada Sultan, dia hanya ingin memastikan apakah Sultan baik-baik saja di sana.
"Saya engga apa-apa kok, Kang, terima kasih karena akang dan kalian semua sudah mau nolongin saya di sini," ucap terima kasih Sultan yang masih saja berbicara menggunakan nada suara rendahnya, namun pada dasarnya ia tengah menahan rasa sakit diperutnya itu.
"Teman-teman akang ada di mana? biar teman-teman saya nanti panggilin mereka semua ke sini."
"Engga perlu Kang, itu mereka lagi menghampiri saya."
"Yaudah kalau begitu, saya pergi ya, Kang, kalau ada apa-apa akang tinggal bilang sama saya aja ya."
Sultan mengangguk dan tersenyum ke arahnya. Lantas setelah itu Rere pun datang menghampiri Sultan yang tengah terduduk lemas di sana.
Tak lama kemudian Rere pun menghampiri Sultan setelah dia mendengar kabar dari teman prianya bahwa sekarang Sultan tengah tergeletak di tepian pantai.
Tapi, anehnya Rere tak langsung menanyakan masalah Sultan bisa dihajar habis-habisan itu karena apa, dan dia malah memarahi Sultan dengan seruan yang mungkin ucapan itu sering kali terdengar ditelinganya.
"Gue suka sama yang namanya berantem Re, satu hari tanpa itu rasanya hampa beut dah serius, gue engga boong sumpah," ucap Sultan dengan gaya tertawa tipisnya, namun tawa dan candaan itu malah membuat dirinya semakin terjerumus saja.
....
Teman wanita Rere bertanya-tanya kepada Sultan, mengapa ia dihajar oleh brandalan jalanan, dan itu terjadi secara tiba-tiba.
Rere terus memarahi Sultan, hingga pada akhirnya dia bertanya kepadanya siapa orang yang telah berani menghajar Sultan seperti ini.
"Kamu dihajar sama siapa sih Tan? kata temen gue elu dikroyok sama banyak orang ya," tanya Rere mulai berbicara dengan nada suara rendahnya.
__ADS_1
"Sama orang gila mungkin Re," ucap Sultan telihat menyepelekan ucapannya tersebut itu.
"Kalau ditanya serius kenapa sih Tan! apa susahnya tinggal bilang langsung ke gue."
"Orang itu yang sempat beradu mulut sama gue di jalan tadi Re, kamu tahu kan mereka siapa?".
Rere terdiam, dia hanya bisa mengangguk ke arahnya saja, dia mengira ini bukan masalah Sultan, melainkan ini adalah masalah Rere sendiri.
Rere terus-terusan berpikir, selama Sultan bersamanya dia sering kali mendapat masalah baru, dan justru masalahnya bukan hanya sampai di situ saja, di mana selama Sultan berada di dekatnya semua masalah Sultan semakin bertambah disetiap waktu berjalan.
"Gue engga apa-apa Re, lagian luka sekecil ini mana bisa membuat tubuh gue menjadi semakin lemah, dan malahan gue malah semakin bersemangat ingin membalasnya," lagi-lagi Sultan membercandai Rere agar dia tak terdiam seperti itu dan menganggap masalah ini seolah-olah adalah salah dirinya.
Rere memang terdiam, namun diam yang dimaksud itu adalah berhenti berbicara, bukan melainkan berhenti dalam memukuli perut Sultan. Rere melakukan itu karena dia hanya ingin membuat Sultan sadar bahwa dia jangan pernah menganggap dirinya sebagai orang kuat.
"Lebih baik kamu diam Tan!" ucap Rere sembari memukul perut Sultan tanpa sengaja.
"Aihh ... kok, malah dipukul sih Re! aduh ... tadinya luka ini udah mau sembuh loh Re, tapi gara-gara kamu memukulnya kembali, jadinya luka ini malah makin parah," ucap Sultan yang tak langsung memegang perutnya, ia hanya bisa mengernyitkan dahinya saja sambil memejamkan matanya juga.
"Mereka itu siapa sih Tan? kok, bisa ya, mereka sedendam itu sama kamu di sini, padahal kan kamu itu orangnya baik loh," ucap Putri penasaran, siapa orang yang mereka berdua bicarakan.
Sultan terbangun dari pangkuan Rere, sebelumnya dia sempat membaringkan kepalanya di atas paha Rere, dikarenakan Rere sendiri yang menyuruhnya untuk membaringkan kepalanya itu.
"Mereka itu orang yang sempat berkelahi dengan gue Put, untung saja Rere meleraikan perkelahian gue denganya, kayaknya mereka dendam sama gue karena sebelumnya gue sempat mengejek dia juga," ucap Sultan dengan senang hatinya menceritakan semua masalahnya itu kepada mereka semua, namun tetap saja ia tak mau sampai membuat hati Rere terluka, apalagi sampai Rere merasa masalah Sultan itu adalah masalahnya.
"Ini semua salah gue Put, andai saja gue engga menyuruh Sultan untuk memberhentikan lajuan motornya secara mendadak, dan mungkin perkelahian itu takan pernah terjadi pada Sultan," ucap Rere sembari menundukan kepalanya karena dia merasa bersalah kepada Sultan.
__ADS_1
"Ini bukan salah kamu Re, ini semua memang kemauan gue sendiri, apalagi kalau soal urusan berantem, gue selalu merespon perkelahian itu tanpa mau melibatkan siapa pun orangnya, apalagi orang itu adalah kamu Re, mana mungkin gue bisa menyalahkan wanita polos seperti kamu."