Cinta Dan Kenangan Terakhir

Cinta Dan Kenangan Terakhir
Chapter 210 : Bangkit dan rasa sakit


__ADS_3

Rere terdiam dengan waktu yang cukup lama ketika mana dia melihat sosok penyemangat hidupnya terbaring lemas di tepian pantai, namun Sultan takan pernah membuat wanitanya bersedih hanya gara-gara dia melihat langsung kekasihnya dipukuli oleh berandalan jalanan.


Sultan bangkit dari rasa ketidak berdayaannya sembari memegang perutnya yang masih terasa sakit, tapi itu tak seberapa bila dibandingkan dengan kesedihan wanitanya.


Sultan melepaskan semua rasa sakitnya dengan cara melentangkan seluruh badannya hingga tulang-tulangnya pun semua berbunyi.


Semua teman-teman Rere begitu baik menjaga Sultan, bahkan sampai dia bangkit pun mereka semua masih tetap berdiri kokoh di belakang tubuhnya karena mereka semua takut sewaktu-waktu Sultan akan kembali terbaring lemas di tepian pantai.


"Terima kasih atas segala perhatian yang telah kalian semua berikan kepada gue ya, gue baik-baik aja kok, dan sekarang gue tinggal menunggu waktunya untuk membalaskan dendam gue ini kepada mereka semua," ucap Sultan membuat mereka semua khawatir, bahkan mereka semua berseru bersamaan.


"Heyy ... ! jangan Tan," ucap semua teman wanita Rere seirama, di mana nada suara itu sudah sama dengan grup panduan suara di sekolah.


"Widih ... kompak beut dah kalian semua! mantap-mantap gue suka melihat kekompakan kalian ini, tetap jaga Rere dengan sikap kalian ini ya, dan tolong bantu gue untuk mewujudkan semua kebahagiaan Rere di mana pun itu tempatnya juga ya."


Semua teman-teman Rere memang kompak, namun di sana hanya Rere yang tak mau mengikuti kekompakan mereka, mungkin sekarang Rere tengah menakutkan Sultan akan membalaskan dendamnya kepada mereka yang telah merusak hari-harinya di sini.


"Sial! pukulan kerinduan mereka semua sudah menyapa gue di hari kebahagiaan Rere ini, tunggu saja tanggal mainnya oke, sangat disayangkan gue engga bisa membalaskan dendam gue ini kepada mereka semua," ucap Sultan dalam hati sembari menjauhkan tatapan penuh rasa kebenciannya dari Rere.

__ADS_1


Sultan membalikan badannya, dan kemudian ia pun langsung mentap raut wajah wanitanya di sana yang tengah menunduk seorang diri.


Sultan tak mau membiarkan kesedihan Rere itu berkepanjangan, lantas ia pun membawanya pergi dari sana, ia berniat ingin mengajak Rere pergi bermain berdua bersama dengannya.


Sebelumnya Sultan sempat menatap teman-teman wanita Rere yang masih setia menunggunya di sana tanpa mau meninggalkanya.


Mereka semua mengangguk, dan ternyata mereka semua telah menyadari kemauan Sultan yang sekarang ini. Tak lama kemudian Sultan menggenggam tangan Rere dengan lembutnya.


Perlahan langkah kaki Sultan dan Rere mulai meninggalkan mereka semua di sana. Dia masih saja tak mau menegakan tundukannya sebelum Sultan membuat suatu candaan yang dapat membuat tawa serta senyumannya kembali menyaut.


"Dokter gue kok, diem! perut saya sakit nih Dok, cepat sembuhin dengan senyuman manismu itu, rasanya semua terasa hampa kalau melihatmu murung seperti ini," ucap Sultan yang tengah berusaha mengembalikan senyumannya.


"Tadi mamah gue sempat bilang sama gue Be, katanya elu kapan mau nikahin gue? dan mamah nyuruh elu datang ke rumah untuk membahas soal Panti Asuhan yang akan kita bikin setelah kita nikah nanti, dan mungkin Panti tersebut akan kita gunakan sebagai tempat untuk menyimpan kelima puluh anak kita nanti juga Be, menurutmu gimana? bagus engga?" candaan Sultan kali ini membuat Rere merasa geli-geli sendiri, dan kegelian itu pun menular hingga ketulang rusuk Sultan juga.


....


Ucapan Sultan serta candaannya itu membuat bulu tangan mereka berdua berdiri semua, andai saja Rere tak bersedih seperti itu, dan mungkin Sultan takan pernah mau membuat candaan tersebut kepada Rere, namun cara itu adalah satu-satunya cara yang dapat membuat dia tertawa kembali.

__ADS_1


"Dasar Sultan bolot! kenapa sih harus ada tawa lagi dan lagi disaat kondisi elu memang tak memungkinkan untuk tertawa, lagian ya, kata tersebut itu lebih cocok digunakan oleh lu, bukan gue Tan, seharusnya gue yang nanya seperti itu sama lu, ngomong-ngomong kapan nih elu mau nikahin gue?" tanya Rere sembari mencubit tubuh Sultan.


"Pertanyaan yang sunggu berat bagi gue, mungkin nanti setelah lulus sekolah, dan itu pun kalau kita beneran jodoh Re, doain aja pokonya ya," ucap Sultan sembari mencubit pipi kiri Rere dengan lembutnya.


Rere tertawa, Rere tersenyum lebar untuknya, dan itu memang harus dia lakukan agar Sultan pun bisa mengembalikan tawanya serta senyumannya juga.


"Jangan pernah membuat Sultanmu ini khawatir ya, Re, tetap tersenyum manis seperti ini, dikarenakan cantikmu takan terasa lengkap bilamana senyumanmu itu meredup bagaikan malam, dan kamu harus tahu semuanya Re, kalau pacar gue ini bukan malam yang penuh diselimuti dengan kegelapannya, melainkan kamu itu adalah temannya malam yang selalu meneranginya disaat kegelapan itu sudah sama kelamnya seperti rindu gue ini," kata Sultan panjang lebar, dan kali ini ia tak dapat menjauhkan pandangannya dari Rere, dikarenakan dia tengah tersenyum lebar kepadanya.


Rere terdiam, dan diamnya itu tak berlangsung lama, dia hanya ingin mencerna ucapan Sultan itu se dalam sampai mana dia benar-benar memahami jelas ucapan Sultan itu apa.


Rere menyandarkan kepalanya kembali dibahu Sultan, dia tersenyum di sana sambil menemani prianya menatap indahnya lautan biru ini, namun sekarang Sultan hanya bisa menjaga pandangannya untuk Rere saja, bahkan ia melewatkan keindahan alamnya di sana.


"Makasih ya, Tan, karena selama ini kamu engga pernah sedikit pun mau memperliatkan kelemahanmu itu terhadap gue, wanita manjamu ini, dan sekalian gue juga mau minta maaf karena hari ini gue telah membuatmu terluka, dan seharusnya lukamu itu menjadi lukaku Tan, tapi kamu malah mengorbankan dirimu sendiri untuk ... ," ucapan Rere dipotong oleh Sultan, dan di sana Sultan memberhentikan ucapan Rere dengan menggunakan jari telunjuknya yang ditempelkan langsung ke arah bibir tipis Rere.


"Melihatmu terluka takan pernah membuat luka gue itu menjadi sembuh Re, yang ada luka itu akan terus bertambah sampai mana gue merasa gagal, maka dari itu kenapa gue menyuruhmu untuk tersenyum, dikarenakan senyuman manismu itu adalah satu puncak tertinggi kebahagiaan gue berada Re," ucapan Sultan membuat Rere terdiam, dan sepertinya Sultan pun tak menyangkut pautkan masalah ini semuanya adalah kesalahan Rere.


Lantas Sultan pun merangkul bahu Rere sekuat ikatan tali mati, kali ini ia tak mau melepaskannya begitu saja, apalagi sampai melihatnya terluka, itu adalah hal yang takan pernah terulang kembali.

__ADS_1


Titik kehancuran Rere telah terobati dengan sangat cepat, dan Sultan mulai menganggap dirinya ada, benar-benar ada di dekat Rere ketika mana ia mengubah kesedihannya menjadi kebahagiaannya lagi.


__ADS_2