
Duarr ... gemuruh suara kilat terdengar kencang ditelinga Sultan pada waktu itu, yang di mana ia sedang mengendarai motornya tersebut di sebuah jalan yang agak sepi.
Sultan pun di sana sontak terkejut! ketika mana ia mendengar gemuruh suara kilat tersebut begitu dekat dengannya di jalan sana, dan terlebih jalan itu memang berada di dataran tinggi, yang di mana suara kilat pasti akan terdengar lebih kencang bilamana ia rasakan di tempat sana.
"Ehh, astaghfirullah! Ya Allah, sampai kaget saya," ucap Sultan waktu itu sungguh sangat terkejut.
"Ya, hujan ini mah pasti, dan biasanya kalau hujan gue pasti bakalan jatuh lagi dari motor gara-gara jalannya licin nih."
Dengan seketika, hujan pun mengguyuri seluruh anggota tubuh Sultan dan juga motor tuanya itu di jalan sana. Tak ada waktu bagi Sultan untuk menepikan motornya tersebut karena di jalan sana sama sekali tak ada tempat yang bisa ia jadikan tempatnya untuk berteduh.
"Nah kan! mulai gila nih motor! ehh, ehh, ehh."
Duar ... ucapan Sultan memang selalu benar, dan ia benar-benar terjatuh di jalan sana sendirian. Sultan pun tergeletak di jalan sana sembari menatap ke atas langit, yang di mana ia pun merasakan air hujan yang jatuh tepat di arah wajahnya.
"Ini mulut jahat bener dah! sekali berucap, langsung terjadi begitu saja tanpa permisi," ucap Sultan yang masih tergeletak di jalanan itu sendirian.
"Hmm, lain kali ini mulut harus gue sumbat kali ya, biar engga asal ngomong mulu."
Sultan pun lalu bangkit, dan kemudian ia pun membangunkan motor tuanya itu sendirian di jalan sepi sana. Dan kebetulan ia pun melihat ada sebuah gubuk, yang di mana ia bisa menggunakannya untuk berteduh sekejap.
Kringg, kringg, kringg ... suara telepon berbunyi. Di sana Sultan sudah mengira bahwa yang meneleponnya itu adalah Rere, dan di sana Sultan pun tengah bersiap-siap untuk menerima ocehan dari Rere kembali.
"Kemana aja sih kamu bolot? aku teleponin juga dari tadi," ucap Rere yang terlihat tengah mengkhawatirkan Sultan.
"Kenapa elu engga bilang Re, kalau sore ini bakalan turun hujan deras banget," ucap Sultan sembari menertawakan hal yang tadi menimpanya di jalan sana.
__ADS_1
"Aku kan udah bilang! mau masuk dulu apa engga."
"Aku kan udah bilang! engga, hehe."
"Elu kenapa sih tawa-tawa sendiri kayak orang gila?" ucap Rere yang terlihat bingung! kenapa Sultan tertawa-tawa sendiri di sana.
"Tadi gue lihat orang gila jatuh, dan udah itu dia malah ketawa-ketawa sendiri Re, sambil rebahan di jalan lagi hehe."
"Ehh, tunggu bentar! yang tadi gue ucapin ke Rere itu adalah diri gue sendiri ya, berarti gue dong orang gilanya," ucap Sultan dalam hati.
"Engga lucu! kamu udah sampai di rumah belum?".
"Bentar lagi gue sampai di rumah kok, ini juga gue lagi nunggu hujannya redah dulu, bilamana hujannya udah mulai meredah, gue pasti pulang kok, Re, tenang aja."
Setelah itu, Sultan pun lalu menutup teleponnya dan membiarkan Rere di sana untuk beristirahat terlebih dahulu. Namun, di sana Sultan sudah mengetahuinya bahwa Rere pasti akan menunggu dirinya sampai terlebih dahulu di rumahnya dan di sana baru ia bisa tenang, tanpa harus mengkhawatirkan Sultan di sana.
"Untung tadi gue sempat pakai jaket terlebih dahulu, kalau engga pakai jaket dulu, pasti tadi baju sama Hp gue habis basah kuyup diguyur air hujan," ucap Sultan berbicara sendiri digubuk sana.
Hujan pun belum meredah sama sekali, dan bahkan hujan malah semakin bertambah deras saja ketika mana ia menunggunya di sana tanpa menjalankan motornya itu.
Sultan pun mulai melihat ke sekeliling arah, dan alangkah terkejutnya Sultan di sana ketika mana ia membalikan tubuhnya itu, dan ternyata di belakangnya itu adalah kuburan.
Sultan pun baru sadar, bahwa gubuk yang sedang ia duduki itu adalah tempat yang di mana para peziarah sering mendudukinya sebagai tempat untuk berteduh.
"Pantesan dari tadi hawanya berbeda, ternyata di belakang gue itu adalah pemakaman umum, maka dari itu gue harus cepat-cepat pergi dari sini, sebelum ada yang megang pundak gue," ucap Sultan kembali berbicara dalam hati.
__ADS_1
Angin pun mulai membuat pepohonan bambu yang berada di pemakaman itu bergerak-gerak hingga menimbulkan suara yang sangat mistis ketika mana ia dengar kembali.
Sultan pun segera menyalakan motornya itu, namun di sana motor tua Sultan sama sekali tak bisa dihidupkan karena mungkin mesin motornya terlalu banyak terkena air hujan.
Lantas Sultan pun berlari sembari mendorong motor tuanya tersebut di jalan yang agak menanjak. Tanpa basa-basi Sultan pun pergi meninggalkan tempat itu sembari lari terbirit-birit karena ketakutan, dan terlebih hari pun sudah mulai semakin gelap saja pada waktu itu.
Tak lama setelah Sultan meninggalkan tempat tersebut, dan lalu motor tuanya pun baru bisa dinyalakan kembali. Sultan mengira bahwa motor tuanya itu sudah bernegosiasi dengan makhluk yang berada di sana, bahwa Sultan si pria rese itu juga bisa dibuat muak oleh sebuah motor tua.
Di sana ia pun berpikir, apakah ia harus mengurangi sifat resenya itu kepada Rere karena sekarang ia sadar, bahwa apa yang dia alami itu karena ulahnya sendiri, yang mungkin ia terlalu bersikap rese kepada Rere.
"Elu kenapa sih Gur, mogok kok, di tempat yang seperti itu! lain kali kalau elu seperti itu lagi gue jual juga lu ke tukang rongsok! biar gue kiloin," ucap Sultan berbicara dengan Jagur, nama motor yang ia berikan itu.
Dengan seketika, motor Sultan pun mulai mogok kembali, dan terpaksa ia harus mendorongnya hingga sampai rumahnya. Sultan pun di sana tertawa karena melihat sifat motornya itu sama dengan Rere, sama-sama pemarah, namun terlihat manis bilamana saat sedang bersama dengannya.
"Elu udah kayak Rere aja dah Gur! dikit-dikit marah! untung gue sayang sama elu, kalau engga sayang gue mana mungkin mau merawat elu sampai seganteng ini," ucap Sultan sembari mendorong motor tua kesayangannya itu di jalan sana.
Tak butuh waktu lama, dan Sultan pun akhirnya sampai juga di rumahnya itu. Dengan seketika, ia duduk terbaring di kursi yang memajang di depan teras rumahnya itu sembari memasang wajah yang sangat kelelah karena kali ini ia benar-benar merasa dipermainkan oleh motor tuanya tersebut.
"Ampun ... basah kuyup gitu kamu Tan! cepat mandi dulu," ucap nenek Sultan yang seketika mengejutkannya di sana.
"Astaghfirullah, kaget atuh Umi," ucap Sultan sembari mengecup tangan neneknya itu di sana.
"Cepat mandi! udah itu ganti bajunya."
Setelah itu, Sultan pun lalu masuk ke dalam rumahnya untuk membersihkan diri terlebih dahulu. Dan setelah itu, ia lalu mengabari Rere bahwa ia akan kembali meneleponnya pada saat dia telah selesai melaksanakan kewajibannya itu terlebih dahulu di rumahnya.
__ADS_1
"Tuntunlah aku di jalanmu, wahai Tuhanku, berikanlah aku kasihmu Ya Tuhanku, cintamu takan pernah aku lepas karena engkau telah memberikan semua kebahagiaan ini kepadaku dengan sangat berlebih, dan maka dari itu biarkanlah aku menjaganya, serta membawanya beribadah bersama di saf dan di teras rumah yang sama, namun berbeda barisannya, antara saya di depan sebagai imamnya," ucap Sultan dalam hati sembari menatap wajah Rere sebelum ia pergi ke mesjid untuk menjalankan ibadahnya itu.