Cinta Dan Kenangan Terakhir

Cinta Dan Kenangan Terakhir
Chapter 50 : Rahasia cinta


__ADS_3

Masih di hari yang sama, yang di mana setelah mereka berdua mengantarkan gurunya tersebut, Sultan dan Rere pun lalu pergi kembali menuju ke tempat yang di mana tadi pagi mereka berdua menyinggahinya di sana.


Dan ya, itu adalah rumah Rere. Mereka berdua pun, lalu kembali masuk ke dalam rumahnya itu sembari membuat ibu Rere menertawai mereka berdua di sana, dan lantas mereka pun menebak-nebaknya, bahwa beliau tertawa akan hal ini, yang di mana mereka pergi masuk sekolah di hari libur.


"Malah ketawa lagi mamah mah! bukannya ngingetin anaknya, kalau hari ini itu libur," ucap Rere kepada ibunya.


"Ya, lagian kenapa kalian bisa sampai lupa begini? biasanya kan kalian suka mengingat-ngingat hari libur," ucap ibu Rere yang masih menertawakan mereka.


"Engga ada kata libur buat Sultan untuk mengungkapkan rindu ini kepada Rere mah, dan lagian Rere pun sepemikiran juga sama Sultan," ucap Sultan asal berbicara.


Lantas Rere pun lalu mencubit paha Sultan, dan lalu dengan seketika, Sultan pun di sana menutup mulutnya dengan menggunakan kedua tangannya itu sembari melirik-lirik ke sisi lain ruangan untuk menghilangkan rasa malunya tersebut, terhadap ibu Rere yang berada di dalam ruangan tamu rumahnya itu di sana.


"Apa Tan?" ucap ibu Rere sambil tersenyum.


"Aih ... engga Mah, engga ada apa-apa kok ... maksudnya Rere mau minta tolong sama Sultan untuk bantuin dia bilang ke mamah, kalau nanti Rere mau Sultan lamar secepatnya! setelah mana kita lulus dari sekolah nantinya. Ehh, astaghfirullah," ucap Sultan, yang seketika ia pun kembali menutup mulutnya itu dengan menggunakan kedua tangannya tersebut.


"Tuh kan, mamah bilang juga apa? kalian engga bisa bohong sama mamah! karena mamah juga pernah muda Tan," ucap ibu Rere kepada mereka berdua.


"Iya Mah, maafin Rere ya," ucap Sultan.


"Tuh ... apaan coba! engga jelas banget kamu mah Tan," ucap Rere sambil tertawa.

__ADS_1


Sultan pun lantas kembali menutup mulutnya itu dengan menggunakan kedua tangannya lagi, sembari menahan rasa ingin tertawanya itu di dalam ruangan tamu rumah Rere tersebut di sana.


Ibu Rere pun lantas tersenyum, dan beliau pun lalu meninggalkan mereka berdua kembali di sana. Sultan pun dibuat semakin betah saja oleh Rere, dan terlebih Rere pun di sana tertawa dengan sangat lepasnya di hadapan Sultan langsung.


Sebuah perbincangan yang takan pernah bisa terlepas dari rahasia cinta itu, memanglah sudah mereka jalani hingga sejauh ini, dan yang di mana kebersamaan hanya akan membuang waktu saja, dan akan melupakan waktu saja.


Dan maka dari itu, Sultan lebih baik pergi meninggalkan wanitanya tersebut di sana. Ia bukan merasa Rere adalah wanita yang sangat membosankan, namun justru sebaliknya, yang di mana Rere adalah wanita yang ia sayangi, dan yang selalu bisa membuatnya nyaman tak berketepian.


"Udah terlalu lama aku di sini Re, aku pamit ya," ucap Sultan yang membuat Rere kehilangan rasa semangatnya itu di sana.


Rere yang tengah duduk itu pun, dengan cepatnya menatap Sultan di sana, ia menatap Sultan dengan tajam, dan ia sama sekali tak bisa melepaskan pandangannya itu dari Sultan karena Rere merasa sangat heran! kenapa disaat itu juga, ia selalu menghilang tak tepat pada waktunya.


Dikala ia sedang kangen-kangennya sama Sultan, ia pun malah pergi meninggalkannya di sana, dan Rere pun sempat menundukan kepalanya itu disaat Sultan akan pergi berpamitan kepada ibunya di sana.


"Mah, Sultan pamit ya, hati-hati ya, Mah," ucap Sultan kepada ibu Rere sembari menjahili beliau terlebih dahulu, yang di mana ia juga ingin merasa lebih akrab dengan ibu Rere di sana.


"Kok, jadi ke mamah sih Tan! seharusnya kamu bilang gitunya ke Rere, bukan malah ke mamahmu ini."


"Kok, jadi ke Rere Mah?" ucap Sultan kembali.


"Karena yang harus pergi itu Rere, ini kan rumah kamu Tan," ucap ibu Rere yang membuat Sultan merasa sangat senang karena ia sudah dianggap ada oleh ibu Rere.

__ADS_1


"Punya pacar sama punya mamah serasa musuh aja! sikapnya sama-sama nyebelin," ucap Rere.


Sebelum Sultan pergi, mereka pun sempat tertawa lepas di dalam rumah itu, dan itu adalah suatu kebahagiaan yang takan penah bisa terlewatkan oleh mereka, karena bahagia sembari tertawa dan juga tersenyum pun sudah bisa membuat hati ini kembali membaik lagi seperti dulu kala.


Setelah mereka asik tertawa di sana, Rere pun lalu mengantarkan Sultan pergi ke depan gang rumahnya itu sembari menundukan kepalanya, Rere hanya ingin melihat Sultan terus bersamanya, tanpa harus sedikit pun merasa sibuk akan suatu benda, yang di mana benda itu selalu kita bawa, dan takan pernah bisa melupakan benda itu, dan tentunya benda itu adalah handphone.


"Cantikmu akan berubah bilamana setiap kali kamu menundukan kepalamu itu Re, dan manismu juga takan pernah terlihat oleh mataku ini Re, bilamana kamu tak menatapku saat ini."


"Tatapanmu adalah suatu hal ... suatu hal yang bagaimana caranya aku bisa menepikan tatapanmu itu dikala aku sedang merasa malu-malu sendiri, namun kesukaanku terhadap senyumanmu itu bukanlah suatu ucapan saja, melainkan suatu kebahagiaan yang sering aku rasakan di sini Re," ucap Sultan yang membuat Rere menatapnya kembali.


"Gelapnya dunia malam, takan pernah bisa melepaskan aku untuk selalu bisa melihatmu diberbagai arah, mau itu arah mati, ataupun itu arah hidup, aku takan pernah perduli! yang terpenting, selagi aku masih bisa melihat senyuman manismu itu dengan jelas, aku akan selalu bersyukur karena titik kehidupanku, adalah titik kebahagiaanku juga sekarang," ucap Sultan dalam hati sembari menatap Rere dengan tajam.


"Aku pamit ya, jaga diri kamu baik-baik di sini, dan ingat! untuk tetap selalu tersenyum, meskipun disaat kamu sedang merasa sedih pun, senyuman itu harus tetap ada, dan terlihat olehku," ucap Sultan sembari mengelus-elus hijab yang melekat dikepala Rere itu dengan lembut.


"Ucapanmu itu menandakan, seolah-olah kamu ingin pergi jauh dari sisi gue Tan! jangan gitu dong! gue sedih ini," ucap Rere sembari mencubit Sultan kembali.


"Dih, kok, elu nangis sih Re! engga boleh gitu ah, entar cantikmu itu nambah loh Re, dan di sini gue udah puyeng soalnya, karena manismu lebih mengalahkan gula apapun," ucap Sultan sembari mengusap air mata Rere yang menetes itu dengan lembut.


Rere pun lalu mengecup tangan Sultan kembali, ia pun lalu melambaikan tangannya kepada Sultan hanya untuk membalas lambaian tangannya Sultan, yang di mana sebelum dia pergi meninggalkan Rere, dan di sana Sultan sempat melambaikan tangannya itu juga kepada wanitanya tersebut.


Sultan pun lalu menatap Rere kembali lewat kaca spion motor tuanya itu di jalan sana, yang di mana Rere masih menunggu dan menatap Sultan dengan lama, di depan gang rumahnya tersebut itu di sana.

__ADS_1


Sultan pun lalu membalas sikap perhatian Rere itu hanya lewat senyuman manisnya itu saja, dan setelah itu, ia pun lalu melepaskan tatapannya tersebut karena ia merasa itu sudah harus dilakukan, sebelum mana rindu itu takan pernah bisa ditaklukan kembali olehnya di jalan sana.


__ADS_2