
Bakk, bukk, brukk ....
Suara pukulan dan juga suara tubuh musuh yang telah ambruk ke bawah aspal hitam, yang di mana waktu itu perkelahian pun telah berjalan dengan sangat lama tentunya, dan itu telah menghabiskan waktu kurang ataupun lebih dari 10 menit.
Sebagian musuh sudah mulai merasa lelah, dan bahkan 3 musuh telah terjatuh lebih awal, namun keempat orang itu masih tetap berdiri tegak tanpa adanya sedikit pun kata lelah, letih, penat, dan juga terhindari dari kata menyerah di pertengahan jalan.
"Sini maju kalian semua! masa baru sepuluh menit udah pada cape aja dah, bukannya kalian yang mencari masalah duluan sama gue di sini ya?" ucap Sultan sembari meledeki musuhnya itu dengan menggerak-gerakan kedua tangannya itu agar supaya seluruh musuh bisa memukuli dirinya.
Wushh, wushh ....
Suara pukulan yang diberikan oleh kedua musuhnya itu tak berhasil mengenai raut wajah Sultan, dan justru yang ada dia malah semakin menghina lawannya itu dengan memukuli pipinya sendiri.
Ketika mana kedua musuhnya itu lengah, Danar dan juga Agung pun dengan seketika datang dari arah belakang tubuh Sultan, yang di mana mereka berdua pun lalu melompat dari kejauhan untuk menendang kedua musuh yang akan memukuli Sultan itu tadi, walaupun pukulan itu tidak mengenai wajahnya di sana, namun akan tetapi kedua kawannya itu sudah berantusias dan memang Sultan pun membiarkan musuhnya itu lengah terlebih dahulu, agar supaya kedua temannya itu bisa menendangnya.
Bukk ....
Tendangan yang sangat keras dengan di iringinya lompatan itu, dengan seketika menumbangkan kedua musuhnya itu hingga terkapar lemas.
"Kalian berdua engga pacaran kan? kalaupun kalian berdua memang berpacaran, kalian harus tetap jujur sama gue," ucap Sultan sembari menoleh ke arah Agung dan juga Danar.
"Iwww," gumam Danar dan Agung seirama.
"Walaupun gue menjomblo selama bertahun-tahun, gue tetap engga akan pernah suka kepada sesama laki-laki, dan semua itu engga akan pernah terjadi," ucap Danar kepada Sultan, yang di mana waktu itu Danar pun langsung menepikan wajah Agung dengan tangan kanannya itu.
"Jangan gitu sayang," ucap Agung, yang di mana Danar pun lalu memukuli wajah Agung hingga dia terjatuh.
"Geli bolot! kalau lu ngomong kayak gitu sekali lagi di hadapan gue, gue bunuh lu!" ucap Danar.
Agung pun tertawa sembari mengelus-elus wajah yang tadi terkena pukulan Danar, dan lalu setelah itu Danar pun dibuat terjatuh oleh musuh, dikarenakan tadi dia memang sedang lengah, yang di mana musuhnya itu pun dengan mudahnya menendang tubuh Danar.
__ADS_1
Sultan pun di sana kembali memukul musuh hingga berguling-guling di bawah jalan aspal hitam, dan yang di mana waktu itu Agung dan juga Danar sempat berpikir untuk tidak mencari masalah dengan Sultan.
"Gila! pukulannya keras beut, musuhnya langsung dibuat pingsan olehnya, kalau gue ada diposisi musuh, mungkin gue engga akan pernah mau berhadapan dengan dia lagi sampai kapanpun itu," ucap Danar dan Agung dalam hati, yang di mana waktu itu mereka berdua sempat bertatap-tatapan.
Robby, yang di mana waktu itu dia sedang dikerumuni oleh musuhnya hingga mana dia pun tidak banyak memiliki celah untuk melawannya. Namun, tentunya di sana Sultan pun datang untuk membantu Robby, dan ia pun lalu menghabisi sebagian musuhnya itu, dikarenakan ia juga ingin berbagi kepada Robby.
"Teman gue itu woii! mau elu apain! sini lawan gue kalian semua! jangan beraninya main keroyokan," ucap Sultan yang langsung menumbangkan ketiga musuhnya itu dengan hanya memukuli titik terlemah yang semua orang pasti memilikinya.
Robby pun mulai bangkit, dan dia pun dengan seketika menumbangkan kedua musuh terakhir itu dengan pukulannya juga.
"Ahh, sial! beraninya mereka berlima nonjokin perut gue secara bergantian seperti itu! ni rasain pukulan gue sekarang elu pada!" ucap Robby yang masih memukuli wajah musuhnya yang sudah tergeletak tak berdaya itu di jalan sepi sana.
....
Sultan pun di sana berusaha untuk menghentikan amarah Robby, namun tentunya Sultan ingin melihat mereka jauh lebih menderita lagi, dikarenakan sudah sekian lama Sultan tidak melihat Robby semarah itu kepada mereka semua di sana
"Kenapa gue seneng beut dah melihat mereka menderita seperti ini, apa jangan-jangan gue itu memang benar-benar menanami jiwa Psikopat ya? tapi apakah ada Psikopat yang memiliki jiwa romantis seperti gue? mungkin ini hanya pemikiran bodoh gue saja," ucap Sultan dalam hati sembari tersenyum-senyum sendiri.
"Astaghfirullah, gue lupa Tan," ucap Robby sembari mengelus-elus pipi yang tadi terkena tamparan dari Sultan.
Sultan pun sempat tertawa melihat reaksi Robby yang seperti itu di sana, dan apalagi ketika mana dirinya melihat Robby yang sedang mengelus pipinya itu, yang di mana wajah polosnya itu dengan seketika menambah kesan lucu ketika mana Sultan menatapnya.
Grungg, grungg, grungg ....
Suara motor tua Agung dan Sultan menyala, yang di mana mereka berdua pun lalu pergi meninggalkan Danar serta Robby di jalanan sana.
Dan tentunya Agung pun di sana sama sekali tak mengingat bahwa kunci motor tua kedua kawannya itu masih dia bawa.
Alhasil, Danar dan juga Robby hanya bisa mendorong motor tuanya itu hingga ke tujuan, dan mereka berdua pun hanya bisa menunggu ada seseorang yang perduli dengan mereka.
__ADS_1
"Gung, dua orang bolot itu pada ke mana?" ucap Sultan sembari melirik Agung di sampingnya.
"Astaghfirullah, lupa gue Tan, sumpah!" ucap Agung, yang di mana dengan seketika dia pun membalikan arah laju motornya itu untuk kembali.
"Cepat! balikin lagi kunci motor mereka," ucap Sultan yang sudah mengetahui penyebabnya itu apa.
Agung pun lalu kembali menyusul mereka, dan sementara itu Sultan pun lalu memberhentikan laju motornya itu di sebuah gubuk warung di tepi jalan, dikarenakan Sultan hanya ingin pergi bersama-sama dengan mereka ke tempat tujuannya itu di sana.
Grungg, grungg, grungg ....
Suara motor Agung yang melintas di hadapan kedua kawannya itu, sungguh terdengar jelas sekali, yang di mana pada waktu itu Robby dan juga Danar meneriaki namanya di sana, dan lantas Agung pun kembali menghampiri kedua kawannya itu dengan hanya melempar kunci motor mereka saja, dan selepas itu Agung pun melajukan motornya dengan begitu cepat.
"Woii, bolot! bener-bener ya! awas lu!" ucap Danar.
"Udah setengah jalan kita dorong motor, dan tahu-tahunya Agung lagi dan Agung lagi yang ngerjain kita di sini, awas aja elu Gung!" ucap Robby.
Sebenarnya, mereka bisa menjalankan motornya itu tanpa kunci juga, namun kesayangan mereka terhadap motor tuanya itu di sana, sungguh tidak akan bisa membuat mereka berdua membongkar-bongkar motornya itu begitu saja.
Dan sementara itu, yang di mana Sultan tengah menyeruput susu hangatnya di warung gubuk itu di sana, dengan seketika Agung pun menyembunyikan dirinya di belakang tubuh Sultan.
"Kenapa elu Gung?" ucap Sultan.
"Tolongin gue Tan! gue mau dihabisin sama Robby dan juga Danar," ucap Agung.
"Woii, mau ke mana lu? cape gue Gung," ucap Danar, namun waktu itu Sultan sempat membantu Agung.
"Dia lupa kawan, udah lah! yang penting motor kalian sekarang bisa jalan kan? dan jadi kalian berdua engga perlu tuh untuk membongkar motor kesayangan kalian itu di sini."
"Dia itu mau bantuin elu pada bolot! ya, habisnya kalian ninggalin kunci motor kalian begitu aja di jalan sepi sana, kalian kan udah tahu, bahwa di tempat itu rawan pembegalan, dan di sana Agung tentunya sayang sama kalian, kalau engga sayang dia engga akan balik nyusul elu berdua di sana," ucap Sultan kepada kedua kawannya itu, yang di mana Robby dan juga Danar pun dengan seketika merangkul tubuh Agung dengan tatapan yang sangat menjengkelkan.
__ADS_1
Setelah itu, mereka berempat pun pergi meninggalkan warung gubuk yang dulunya sering mereka datangi juga, dan selepas itu mereka pun lalu kembali menyinggahi tempat yang sering orang sebut-sebut dengan nama, Pondok Halimun Sukabumi.