
Sore itu, kurang lebih pada jam setengah empat lebih sepuluh menit, yang di mana setelah perbincangan Sultan bersama dengan bapak pengusaha itu, dan hingga pada akhirnya, dia bersama dengan wanita cantiknya itu pun, mulai bisa kembali berbincang dengan hangatnya sembari menyantap lahap mie kuah buatan tangan orang-orang Indonesia tentunya.
Sultan yang tengah duduk terdiam itu pun, dengan seketika ia pun lalu menatapi raut wajah wanita cantiknya itu di sana, dan tentunya Rere pun hanya menyantap makanan itu sendiri, dikarenakan Sultan telah memakan habis mie yang dia pesan tadi.
"Jayanto Adipati Pribuana, namanya bagus beut ya, Be? kayaknya dia pengusaha sukses dah, elu beruntung banget bisa ngewarisin sikap baik gue ini Be, tetap pertahanin ya, jangan sampai hilang," ucap Sultan sembari menatap tajam kartu nama bapak pengusaha tersebut.
"Elu tahu engga Be? arti dari nama itu apa, kalau tahu coba elu jelasin sama gue, bukannya kepintaran elu itu melebihi kepintaran milik gue ya, coba buktiin," ucap Rere sembari melirik raut wajah Sultan, yang di mana dia pun lalu meletakkan dagunya itu di atas genggaman kedua tangannya.
"Ini prinsip gue ya, Be, kalau salah mohon koreksi, dan elu juga harus menyimaknya, biar nanti kepintaran gue ini bisa mengikuti langkah kaki elu di sini."
"Jayanto, kita bisa mengambil kata jaya, yang di mana arti itu melambangkan sebuah kejayaan Be, Adipati, sebuah julukukan kepemimpinan, dan Pribuana, bisa diartikan sebagai arti kata Pribumi, yang di mana arti kata itu adalah orang bumi."
"Ya, terus arti namanya itu apa? coba elu satuin Be, gue mau langsung mendengar diintinya saja, dan lagi pula otak gue lagi mumet," ucap Rere yang langsung mencubit kedua pipi Sultan.
"Pemimpin Kejayaan di Bumi ini, itu adalah arti singkatnya, dan itu hanyalah prinsip gue sendiri, dan bilamana gue salah, mohon maaf karena gue bukan orang yang sempurna dimuka bumi ini," ucap Sultan, yang di mana dia pun lalu mencubit kedua pipi Rere itu juga dengan manis.
Cubitan tangan dipipi itu, bisa dibilang lebih mengarah kepada Sultan, yang di mana ia mencubit kedua pipi wanitanya itu dengan begitu lembutnya, beda hal nya dengan si cewe manja itu, yang di mana cubitannya itu agak sedikit keras, namun tentunya itu tak berdampak buruk bagi Sultan manis.
Dan setelah itu, Sultan bersama dengan Rere pun lalu pergi dari tempat tersebut itu di sana, namun sebelum itu Sultan sempat berbicara kepada Rere bahwa dia akan pergi kembali ke Pondok Halimun, setelah dia mengantarkan Rere pulang kembali ke rumahnya.
__ADS_1
"Ohh, iya Be, gue mau minta izin sama elu, bahwa besok gue mau bolos mengantarkan elu terlebih dahulu, soalnya bunda gue mau pulang besok."
"Pake acara izin dan bolos segala elu mah Tan, padahal engga apa-apa kalau elu engga minta izin terlebih dahulu juga sama gue, dan terlebih gue itu siapanya elu," ucapnya sembari melirik raut wajah Sultan dengan di iringinya senyuman tipisnya itu saja.
"Elu itu pacar gue Re, dan elu wanita yang paling gue cintai di muka bumi ini, dan bahkan nanti gue akan melamar elu bila emang elu itu jodoh gue," ucapnya yang membuat raut senyuman manisnya itu terlintas bukan hanya sesaat saja, melainkan terlintas secara langsung dan begitu sangat lama senyumannya itu dia berikan kepada Sultan.
....
Beberapa menit waktu telah berjalan, setelah Sultan tiba di depan gang rumah Rere, dengan seketika dia pun lalu berpamitan kembali kepada wanitanya itu, dan di sana dia pun tak langsung masuk ke dalam rumah Rere, bukan karena ia merasa bosan, melainkan bilamana ia masuk ke dalam rumahnya terlebih dahulu, maka sampai kapan pun hati itu takan pernah bisa pergi jauh dari sisinya sesingkat ini di sana.
Tak silam beberapa lama, Sultan pun lalu mengambil semua perlengkapan yang nantinya akan dia butuhkan di sana, dan tentunya dia hanya mengambil satu buah jaket gunung, serta juga mengambil kain blangket tenun yang akan dia gunakan sebagai selimut.
"Semoga malam takan menyapa secepat ini, kalau pun malam memang akan hadir secepat ini, mati gue! daerah sana bukan hanya rawan begal, melainkan rawan pernampakan juga, dan terlebih penerangan jalan di tempat itu sangat sedikit, dan jadi maka dari itu gua harus bisa tiba di sana sebelum jam enam," ucap Sultan dalam hati sembari membayangi hal itu akan terjadi, yang di mana bila dia melihat sosok wanita berbaju putih di atas pohon, ia pun harus bisa mengambil sikap yang tentunya enak untuk dijadikan tempat memutar balikan laju langkah motornya itu.
Langit sore sudah semakin gelap, dan waktu telah menunjukan pukul jam setengah enam lebih sepuluh menit, senja pun sudah mulai meredup detik demi detik, jalan di sekeliling arah pun mulai tak terlihat, angin yang berhembus pun sudah mulai tak beraturan, dan turunnya awan kabut itu pun sudah semakin menghiasi malam sepi di tempat tersebut itu di sana.
Suara gemercit burung, serta suara pepohonan rindang yang bersentuhan langsung dengan angin yang berhembus itu pun, sudah membuat jiwa Sultan menciut, dikarenakan dia berjalan hanya seorang diri, dan terlebih ini bukan acara mendaki di malam hari, melainkan bisa dibilang hal itu adalah sebagian uji nyali.
Kringg, kringg, kringg ....
__ADS_1
Dengan seketika Sultan pun terkejut ketika mana dia mendengar suara handphonenya itu menyala, yang di mana kala itu dia memang sedang fokus menatap jalanan di depannya, namun suara telepon dari Rere itu sungguh membuat jantungnya berdetak kencang.
"Gila, gila, gila! ini siapa lagi yang nelepon gue, bikin jantung gue senam aja, awas aja elu Re! pokonya gue engga bakalan angkat telepon dari elu ini," ucap Sultan berbicara sendiri, yang di mana dia pun hampir saja terjatuh karena mendengar suara teleponnya itu berbunyi dengan seketika.
Sultan pun sama sekali tak memberhentikan laju motor tuanya itu di sana, dikarenakan bilamana dia mengangkat panggilan suara itu terlebih dahulu, maka dia akan menghabiskan waktu singkatnya itu hingga 2 sampai 3 menit.
Dan tentunya disetiap menit waktu berjalan itu akan semakin menggelapkan langit sorenya di sana, dan jadi dia lebih memilih Rere memarahi dirinya saja, bila dibandingkan dirinya lebih memilih untuk bertemu dengan wanita berbaju gamis putih dengan rambut lurus panjang yang menutupi seluruh isi wajahnya itu.
"Gue tahu elu lagi di jalan Tan, dan pastinya elu lagi takut-takut sendiri kan? sukurin aja lu bolot! suruh siapa elu datang ke sana seorang diri, makanya ajakin gue, biar gue bisa nemenin elu," ucap Rere dalam hati di sana sembari tertawa-tawa sendiri ketika mana dia membayangi reaksi raut wajah penakut Sultan itu seperti apa nantinya.
Hahhh, hahhh ....
Suara aneh terdengar seketika di belakang jok motor tuanya itu, dan Sultan pun lalu melihat ke arah kaca spion motornya, namun di belakang sana memang tidak ada apa-apa selain jalanan dan pepohonan yang memang tadi dia lewati.
Sultan pun memberanikan diri untuk memberhentikan laju motor tuanya itu, dan untung saja dia membawa senter di dalam tasnya tersebut.
Dan seketika itu, senternya tiba-tiba berkedip-kedip dengan sendirinya, ketika mana Sultan menyorotkan cahaya senter itu ke arah pohon besar, dan tentunya dia pun dibuat terkejut dengan ucapan yang dirinya lontarkan di dalam hatinya.
Rambut panjang membelai manis, wajah pucat, dan cantik, serta bau wangi baju gaun panjang putih itu tercium sangat menyengat sekali dihidungnya.
__ADS_1
Cinta pandangan pertama itu mulai hadir, yang di mana wanita cantik yang tengah duduk di atas batang pohon besar itu, dengan seketika membuat Sultan terpanah dan jatuh cinta kepadanya, namun itu hanyalah sebatas angin lalu, hingga mana cinta itu takan pernah bersemi di dua alam yang berbeda.