Cinta Dan Kenangan Terakhir

Cinta Dan Kenangan Terakhir
Chapter 99 : Ketomboian seorang kak Mawar


__ADS_3

Tibalah waktunya untuk mereka kembali merasakan sejuknya angin, yang di mana angin itu sungguh sangat terasa menusuk hingga ke dalam tubuh, dan tentunya di mana lagi kalau bukan di bawah kaki gunung Gede.


Kedangan mereka berempat di tempat itu, sungguh membuat semua orang merasa sangat heran ketika mana mereka semua menatapnya di sana, dan terlebih wajah babak belur itu menandakan bahwa mereka semua terlihat sudah habis berkelahi.


Namun, pada dasarnya wajah babak belur itu ditimbulkan oleh pukulan keras Sultan, dikarenakan perkelahian mereka tadi bersama dengan mantan kakak angkat Sultan itu, tak terlalu banyak memberikan luka pukulan diwajah mereka masing-masing di sana, dan bahkan pukulan musuh pun tak bisa menyentuh wajah mereka semua, dan tentunya pukulan musuh itu hanya memberikan sedikit rasa sakit yang tak seberapa ditubuh mereka saja.


"Wajah kalian bertiga kenapa? kok, pada bonyok begitu, apa jangan-jangan kalian semua pada berantem lagi ya? kalian berantem sama siapa?" ucap Teh Mawar yang sangat menawan itu, dan yang di mana dia pun di sana masih menggunakan jaket gunung dari Sultan.


"Bilang aja sama Sultan Teh! dari tadi dia senyum-senyum sendiri terus entah karena apa," ucap Robby yang lansung mencium tangan bunda Nur, setelah mana Sultan mencium tangan bundanya itu terlebih dahulu.


"Ada apa sih Tan? mereka semua kenapa? dan kamu engga apa-apa kan Tan?" ucap Teh Mawar kembali, dan tentunya dia hanya mengkhawatirkan keadaan Sultan saja di sana.


Sultan pun lantas hanya tersenyum saja kepada kakak manisnya itu, dan itu pun semakin membuat kakaknya bingung terheran-heran di sana.


"Dihh, kok, elu malah nuduh gue dah! parah lu Rob! kenapa elu bisa nuduh gue sekejam itu! astaghfirullah, istighfar lu Rob! dosa tuh bolot!" ucap Sultan sembari tersenyum tipis kepada Robby, dan yang di mana itu ia pun sesekali sempat bergumam dengan hanya memberikan tawa kejamnya itu di sana dengan singkat.


"Kita semua babak belur seperti ini karena dihajar habis-habisan sama Sultan! dan tentunya Robby engga bisa berantem Teh, dan alhasil kita semua jadi kena imbasnya," ucap Danar dengan seketika memotong pembicaraan mereka.

__ADS_1


"Apaan dah lu Nar! bukannya elu yang tumbang duluan ya? gue kira kedatangan elu pada, bakalan bisa membantu gue buat ngalahin si Sultan bolot ini, dan tapi nyatanya itu hanya mimpi buruk gue saja," ucap Robby, yang di mana Stevia pun lalu mengoleskan salep luka memar kepada wajah Robby.


Dan di sana, Stevia pun tak hanya memberikan obat salep luka memar itu kepada Robby saja, melainkan dia pun sempat mengobati luka memar diwajah Danar dan juga Agung, yang di mana kala itu luka memar Agung lah yang paling parah, dikarenakan Sultan, Robby, dan juga Danar sempat memukul wajahnya karena sikapnya yang begitu menyebalkan itu.


Waktu itu, Stevia sama sekali tak melihat luka memar diwajah Sultan, dan tentunya dia pun lalu memasukan obat salep itu ke dalam tas selempang P3K yang ia miliki itu kembali.


Dan lalu dengan seketika, kakak wanitanya yang sangat menawan itu pergi kembali menghampiri Sultan, dan yang pastinya Sultan pun akan dibuat senyaman mungkin olehnya, dikarenakan Sultan adalah sosok penyemangat yang sangat dia percayai, dan bahkan dia pun bisa mengetahui suatu masalah hidup yang kini sedang kakaknya itu alami sekarang.


....


Kakaknya itu dengan seketika mengejutkan dirinya, dan tentunya ia pun tak terlalu menyadari kedatangan kakaknya itu di sana, dikarenakan hari itu ia melihat dia sedang duduk bersama dengan bundanya.


"Hayoo! lagi lihatin apa sih? kayaknya serius amat, kasih lihat juga dong kakaknya ini, boleh kan?" ucap kakaknya itu sembari duduk di samping Sultan dengan manis.


Sultan pun dibuat tersenyum seketika olehnya, dikarenakan jaket Sultan itu masih dia kenakan sampai sekarang, dan bahkan jaketnya itu pun semakin bertambah wangi saja bilamana ia hirup kembali.


"Kenapa senyam-senyum sendiri kayak begitu? kamu kemasukan setan apa?" ucap kakaknya itu asal saja, yang di mana Sultan pun lalu menyentuh bibir kakak angkatnya itu dengan menggunakan jari telunjuknya.

__ADS_1


"Dihh, ini mulut jahat banget ya? udah berapa kali gue bilangin Teh, kalau ngomong itu dijaga, jangan sampai asal bicara seperti itu," ucap Sultan yang masih menyentuh bibir kakaknya itu dengan menggunakan jari telunjuknya itu.


Sudah sekian lamanya Sultan tak pernah menatap wajah kakaknya itu lagi, yang di mana ini adalah hari yang tentunya Sultan inginkan kembali, dan terlebih wajah sosok wanita yang sering ia panggil kakak itu, telah berubah waktu demi waktu berjalan.


Yang di mana dulu, wajah tomboi kakaknya itu, masih bisa ia ingat dengan sangat jelas sekali, dan apa yang telah kakaknya itu alami dulu, tentunya Sultan pun pernah merasakannya.


Sikap tomboi kakaknya itu dulu dan sikap nakal kakaknya itu dulu, dengan seketika cepatnya menghilang begitu saja, tetapi bukan dia sendiri yang menghilangkan sikapnya itu di sana, melainkan tentunya Sultan pun membantunya hingga mana dia menjadi sosok wanita yang sebenarnya.


Rambut pendek dulunya itu, dengan seketika cepatnya bertumbuh, dan tentunya sekarang kakaknya itu lebih jauh terlihat cantik, dikarenakan rambut pendek sebahunya yang sekarang itu, lebih mencirikan dia adalah sosok wanita yang sebenarnya, apalagi pakaian yang selalu dia kenakan itu bisa dibilang terlalu terbuka, namun kacamata bulat yang selalu dia kenakan itu, dengan seketika cepatnya membuat semua mata ingin menatap indahnya bola mata sosok kakak, yang di mana dulunya dia adalah wanita nakal, wanita kasar, dan juga wanita keras kepala.


"Jangan marah-marah! lagian gue lupa Tan! maafin tetehmu yang imut ini ya," ucap Teh Mawar, yang di mana waktu itu dia menyandarkan kepalanya kembali dibahu Sultan.


"Hahh! apa-apa? imut! gue engga salah denger kan Teh? bukannya dulu elu itu hitam ya? udah itu sikap kepribadiannya juga udah sama kayak cowok lagi," ucap Sultan yang langsung menepikan wajah kakaknya itu dengan menggunakan tangan kanannya.


"Itu kan dulu Tan, pokonya gue engga mau balik ke jalan itu lagi, dan tentunya gue lebih suka kehidupan gue yang sekarang ini, dan semua ini berkat usahamu juga Tan, terima kasih ya, Tan."


Ucapan yang sungguh manis itu, semakin membuat Sultan tersenyum lebar, dan waktu itu juga Sultan pun menyuruh kakaknya itu kembali untuk menyandarkan kepalanya itu dibahu Sultan, dan bahkan Sultan pun sempat menyandarkan sendiri kepala kakaknya itu dibahu Sultan sendiri.

__ADS_1


__ADS_2