
Masih di malam hari yang panjang dan cukup melelahkan juga. Sehabis perkelahian tadi malam, Sultan sama sekali tak dapat tertidur dengan lelap.
Suhu yang begitu panaslah, hingga sampai suara nyamuk, serta gigitan dari nyamuk pun tak henti-henti dan terus saja mengganggu waktu tidurnya.
Rasa sakit disejujur tubuhnya itu masih saja terasa sakit walaupun sebelumnya kondisi Sultan memang sempat terlihat agak sedikit membaik ketika dia mendengar suara dari Rere, namun sangat disayangkan sekali hal tersebut tak dapat bertahan dengan lama.
Azmi yang tengah duduk di sampingnya pun merasa sangat gelisah bila dia melihat temannya itu bergarang semalaman dikarenakan hawa panas di malam heri ini.
"Tan, saran gue nih ya, lebih baik sekarang elu tidur aja dah di dalam sana, bukannya apa-apa Tan, gue cuma takut aja bila nanti rasa sakit yang tengah elu rasain itu akan bertambah lama pulihnya," ucap Azmi sambil menatap raut wajah Sultan, yang di mana malam itu Sultan terlihat sedang asik menyandarkan punggungnya di balik tembok pembatas yang berada di depan teras kontrakannya.
Malam itu Sultan hanya bisa membalas ucapan dari Azmi dengan senyumannya saja sambil sesekali menghembuskan asap rokoknya itu dengan perlahan-lahan dalam posisi lengan kirinya yang ditaruh di belakang kepalanya.
..."Rasa sakitnya memang tak seberapa, namun membangkitkan senyumannya itu merupakan hal yang lebih sulit bilamana jiwa ini membandingkannya dengan jiwa ini yang mengakui kekalahannya. Rasanya memang takan pernah sama, namun lukanya akan terasa sama di dalam hatinya sekali pun hari itu telah berlalu dan berganti."...
Itu adalah kata-kata yang Sultan ucapkan di dalam hatinya. Begitu besar seorang Sultan menjaga perasaan wanitanya di sana, meskipun kondisinya yang sekarang belum begitu pulih seutuhnya, namun akan tetapi sebagaimana sikap seorang Sultan di sana, yang hanya bisa dia lakukan sekarang adalah menjaga perasaan Rere agar sosok wanita yang dia cintai itu mempercayainya bahwa rasa sakit itu hanyalah luka kecil yang tak perlu dikhawatirkan olehnya.
Sementara itu tak lama kemudian rekan-rekannya yang lain pun pergi meningalkan ruangan kontrakan untuk menyusul serta menemui kedua rekannya yang lebih dulu pergi dari dalam ruangan panas itu.
Di sana rekan-rekan Sultan yang lain sempat dibuat terkejut juga ketika mereka semua melihat suasana malam di depan terasnya yang sekarang begitu ramai sekali.
Tentunya ini merupakan hari pertama bagi mereka melihat para warga semuanya tengah asik berkumpul bersamaan dan saling menyandarkan pungungnya itu juga di balik tembok pembatas, yang di mana tembok tersebut tepat berada di depan teras kontrakannya masing-masing.
__ADS_1
Pada saat itu Dimas mendekati Sultan dikarenakan sebab dia ingin memastikan apakah temannya itu masih sadar ataupun sudah tertidur lelap di depan sana.
"Oyy, seharusnya elu tidur aja di dalam sana Tan, kita semua pasti akan mengalah untuk memberikan kipas angin rusak itu buat elu gunakan sendiri," ujar Dimas sambil duduk terdiam di samping Sultan.
"Angin yang dihasilkan dari kipas angin tak seenak angin yang dihasilkan dari sumbernya langsung Dim, lagian di dalam sana panasnya sudah melebihi suhu di malam biasanya, gue udah engga sanggup lama-lama berdiam diri di dalam sana, makanya kenapa gue lebih memilih untuk pergi lebih dulu bersama Azmi ya, dikarenakan kita berdua udah engga tahan Dim."
....
Ucapan Sultan dengan seketika mengingatkan Dimas bahwa rasa perih di sekujur tubuhnya itu bukan disebabkan ulah dari kejahilan mereka berdua, melainkan semua itu disebabkan ulah dari teman-temannya yang berada di dalam ruangan kontrakan.
"Entah kenapa ketika gue bangun, tiba-tiba saja kaki sama tangan gue jadi perih-perih dengan sendirinya Tan, padahal sebelum tidur semuanya baik-baik aja dah," ucap Dimas sembari menunjukan tangan serta kakinya yang terlihat agak sedikit memerah itu.
"Pokoknya bila elu mau marahin mereka, marahin kedua teman elu itu terlebih dahulu, soalnya sumber dari kejahilannya ini berasal dari otak Alam dan Rizki."
Setelah itu Sultan pun bergerak dari sandarannya, dan tak lama kemudian dia mengambil handphonennya yang sempat dia simpan di dalam saku celana bahan panjang hitamnya hanya untuk memastikan apakah Rere terbangun dari tidurnya juga.
Setelah Sultan memastikan bahwa Rere tak terbangun dari tidurnya, dia pun menaruh handphonenya kembali, namun sekarang Sultan tidak memasukannya ke dalam saku celananya lagi, melainkan dia hanya menaruh handphonenya di teras saja.
"Dasar bego! tadi aja di depan gue terlihat polos dan sok-soan baru bangun dari tidurnya, tapi ternyata semua omongannya itu hanyalah kebohongannya saja."
"Kalau dari awal gue tahu, mungkin mereka berdua udah gue makan Tan!" ucap Dimas lebih memilih untuk melupakan semua masalah itu.
__ADS_1
Ketika Sultan melihat ke segala arah, dia berpikir mungkin tidak ada salahnya menghibur para warga dengan beberapa alunan lagu yang bernuansakan nada nostalagia.
Berhubung para warga di sama sering kali mendengarkan lagu zaman dulu, maka dari itu dia pun menyuruh Azmi untuk memainkan gitar miliknya.
"Kayaknya nongkrong bersama para warga seperti ini sangat jarang kita rasakan ya, benarkan Bre?".
"Seharusnya kita semua harus mengambil tindakan, sebagaimana jiwa-jiwa anak muda sejati, kita engga boleh tuh membiarkan malam ini cepat berlalu tanpa adanya hiburan," ucap Sultan membuat semua warga bertanya-tanya, hiburan apa yang akan mereka suguhkan kepada warga di sana.
"Hiburan apa nih? kayaknya terdengar seru tuh," ucap salah satu warga yang memang beliau merupakan warga yang paling aktif diantara warga yang lainnya.
Dari tadi beliau memang terlihat akrab sekali dengan teman-teman Sultan, bahkan pada saat Sultan ke luar dari dalam ruangan kontrakan, beliau merupakan warga yang pertama kali menyapa Sultan.
Sultan hanya menyuruh Azmi untuk mengambil gitarnya itu, dan dia tak memberitahukan semua alasanya mengapa, hanya saja yang mereka sadari bahwa Sultan bersungguh-sungguh ingin menghibur semua para warga di sana.
"Mi, ambil gitar sana," suruh Sultan membuat Azmi bertanya-tanya.
"Buat apa Tan? bukannya kondisi elu engga memungkinkan elu untuk bermain gitar ya," tanya Azmi yang tak langsung pergi mengambilkan gitar milik Sultan di dalam sana lantaran dia ingin mengetahui alasannya itu terlebih dahulu.
"Emangnya elu engga dengar ucapan gue yang barusan Mi! bukannya tadi guekan udah bilang sama elu kalau kita semua mau menghibur para warga yang ada di sini."
Setelah Azmi mendengarkan ucapan dari Sultan, dia pun pergi tanpa menanyakan alasannya yang lain lagi disebabkan Sultan sama sekali tidak mau memberitahukan sedetail mungkin maksud dia ingin menghibur para warga di sana itu dikarenakan sebab apa.
__ADS_1