
Perbincangan di hari itu, sudah cukup membuat hati Rere merasa sangat puas, puas akan kebahagiaan yang telah hadir menemaninya di sana untuk saat ini.
Dan terlebih, ibu Sultan selalu memberikan sikap terbaiknya itu kepada Rere, dan itu semua adalah rencana yang beliau buat sendiri, untuk membuat anak wanitanya itu semakin betah saja bila bersandingan dengan Sultan di bumi yang hanya sementara ini.
Senyumannya, tawanya, dan hangatnya kebersamaan ini telah Rere rasakan, dan Rere pun merasa bahwa dia hanya tinggal mendekati dan mengenali sikap ayah Sultan selanjutnya, dikarenakan hari itu beliau sedang tidak ada di dalam rumah.
"Udah ni Re, kita bisa langsung pergi ke bawah aja, tapi kamu jangan banyak tingkah ya, gue takut elu jatuh nanti," ucap Sultan waktu itu sembari meletakan kembali obat nyamuk cairnya itu ke dalam tempatnya.
"Untuk apa kamu ada disisiku Tan! kalau kamu engga bisa jagain aku di sana nanti," ucap Rere, yang di mana sesekali ia mencubit pipi Sultan di sana.
"Tapi masalahnya bukan hanya itu saja Re? kalau misalnya nanti elu jatuh di sana, gue juga bakalan ikutan jatuh lah bolot!" ucap Sultan sembari mengetuk pelan kening Rere itu dengan manis.
Suara langkah kaki terdengar dari luar rumah, yang di mana sebelum itu ayah Sultan datang menghampiri mereka berdua, dan di sana Rere pun sontak terkejut! ketika mana ayahnya itu datang dan menatap tajam wajah Rere itu di rumah sana.
"Siapa ini Tan? kok, kamu engga ngabarin ayahmu ini dulu kalau dia mau datang ke sini," ucap ayahnya itu sembari mengeluarkan nada suara tegasnya itu di sana.
"Dia adalah calon anakmu juga Pak, jadi gimana? dia cantik kan Pak?" ucap Sultan sembari memandangi Rere yang tengah menunduk itu.
"Hmm," ayah Sultan hanya bergumam, dan dia terus-menerus menatap Rere, yang di mana Rere merasa takut bila ayahnya itu tidak bisa menerimanya di sana.
Jantungnya berdetak kencang, matanya tak sanggup menatap, serta tangannya pun bergetaran, dan itu lah sikap Rere yang sekarang.
__ADS_1
Dan tentu saja, kenapa Rere sangat takut kepada beliau? dikarenakan kumis, serta janggutnya itu menambah nuansa keseraman sikap beliau tersebut itu seperti apa di sana, namun padahal muka ayah Sultan itu tidak seseram apa yang sedang dia kira.
Ayahnya itu lalu tersenyum, beliau pun lalu berbicara dengan lucunya di hadapan Rere, dan beliau pun di sana menunjukan sikap aslinya itu kepada Rere, dan lantas Rere pun kembali berani menunjukan wajahnya itu kepada ayah Sultan.
"Dia Rere kan Tan? bener apa kata kamu Tan, dia cantik bagaikan 7 bidadari," ucap ayahnya itu sembari tersenyum ke arah Rere dan Sultan.
"Dia takut Pak, katanya wajah bapak udah sama seramnya kayak hantu," ucap Sultan, yang di mana Rere pun lalu menepuk tangan Sultan.
"Bohong Pak! Rere engga pernah berbicara seperti itu sama Sultan, dia cuma ngarang aja," ucap Rere sembari mengecup tangan ayahnya itu.
"Mau pada kemana ini? jangan pulang dulu, kalau perlu Rere makan dulu sana, mamah Sultan udah nyiapin semuanya buat menyambut kedatangan Rere di rumah kecil kita ini," ucap ayah Sultan.
"Bapak udah makan duluan kok, tadi sebelum kalian datang ke sini. Dan ngomong-ngomong, kalau bapak boleh tahu? kalian ini mau pada kemana? pokonya Rere jangan dulu pulang."
"Sultan sama Rere mau ke bawah Pak, abisnya anak bapak yang satu ini maksa! nyuruh Sultan buat nemenin dia ke sana," ucap Sultan.
"Jagain dia ya, Tan, jangan sampai dia jatuh, entar mamahmu marah nanti."
....
Tangannya kembali ia genggam, bahunya kembali ia rangkul, dan wajahnya kembali ia tatap. Setiap detik langkahnya itu berjalan, ia selalu memperhatikannya dengan perlahan, yang di mana sikap waspadanya itu selalu ia berikan kepada Rere seorang.
__ADS_1
Anak tangga telah mereka turuni, dan alangkah terpanahnya Rere ketika dirinya melihat sungai itu begitu bersih, dan airnya begitu jernih, serta bukit di depan matanya itu semakin membuat Rere betah, dan dia pun merasa bahwa dirinya ingin tetap tinggal di sana selamanya.
Sultan menuntunnya seperti ia sedang menuntun seorang anak kecil, yang di mana waktu itu Rere benar-benar merasa sangat senang, kakinya meloncat-loncat ke sana dan ke sini, dan itu sungguh membuat hati Sultan merasa berat saja, bilamana ia melepaskan tangan Rere itu di sana.
"Jangan loncat-loncat Re, itu batunya licin! kalau kamu jatuh gimana coba?" ucap Sultan yang masih memegang tangan Rere itu di sana dengan sabar, dan di sana Sultan pun tak bisa melarang Rere karena siapa yang bisa merusak rasa kebahagiaannya itu.
"Makanya Tan, kamu pegangin tangan aku kuat-kuat, soalnya kapan lagi aku bisa kayak gini sama kamu? dan terlebih kalau elu ada disisi gue, gue engga perlu takut jatuh," ucap Rere sembari meloncat-loncat ke setiap batu sungai yang terdekat dengan jangkauannya itu.
Bayangan raut wajahnya itu, terus melintas di dalam pikirannya itu, dan matanya itu, tak bisa lagi pergi jauh menatapi wajahnya yang anggun itu, dan kini tinggal rindu lah yang akan menyapa kesendiriannya itu kembali di kota kecil yang penuh dengan cerita ini.
Rere terus tersenyum bahagia, dan dia pun tak menyadarinya, bahwa celana yang tengah dikenakan oleh Sultan itu sudah basah kuyup, walaupun tak terlalu habis memakan keseluruhan celananya itu, yang terpenting baginya adalah Rere, dan hanya Rere.
Setelah lamanya Sultan menemani Rere meloncat-loncati batu yang berada di sungai itu, dan akhirnya Sultan pun bisa duduk bersamanya juga di sebuah batu yang lumayan bisa menampung tubuh mereka berdua untuk mendudukinya di sana.
"Celanamu sampai basah gini Tan? maafin aku ya, kalau aku ini udah selalu ngerepotin kamu, dan makasih juga karena kamu udah mau nemenin, serta membuat hari-hariku ini menjadi penuh dengan kebahagiaan," ucap Rere sembari menyandarkan kepalanya itu kepada bahu Sultan di sana.
"Tugasku adalah ini Re, setiap kali mataku memandang senyumanmu itu, semua kebahagiaanmu sudah terlihat, dan apa yang membuatmu merasa senang seperti ini, akan aku berikan semua demi untuk menjagamu," ucap Sultan sembari menyandarkan kepalanya itu di atas kepala Rere.
"Sejauh mana mataku memandangmu, sejauh mana aku bisa mencintaimu, dan sejauh mana aku bisa memelukmu, namun akan tetapi senyumanmu adalah salammu, yang di mana bahagiamu telah tercukupi, dan di situ lah aku menangis, menangis meratapi sunyi yang akan datang kembali memenuhi hasrat malam kelabuku ini," ucap Sultan berbicara dalam hati, yang di mana ia masih menyandarkan kepalanya itu di atas kepala Rere.
"Canda, tawa, mesra ... ratap tangis, dan tatap manis senyumanmu. Ini adalah sebuah kisah, ini adalah gelisah, dan ini adalah gundah, yang di mana semua ini hanya akan terlintas sesaat saja, dan setelah itu, lambaian tangan pun akan kembali diberikan, untuk mengakhiri hari-hari yang penuh dengan kebahagiaan ini," ucap Sultan kembali berbicara dalam hati.
__ADS_1