
Waktu itu di perjalanan pulang, Sultan dan Dimas tak sengaja melihat bahwa salah satu tempat yang berada dititik pertama, ternyata sekarang tengah dikerumuni oleh orang banyak.
Orang-orang tersebut bukan berasal dari orang-orang yang diduga mereka semua merupakan salah satu atau perkumpulan dari para brandalan-brandalan gila itu.
Namun, akan tetapi mereka semua memang merupakan warga asli yang mungkin sudah lama bermukim di sekitaran tempat tersebut.
Dimas yang merasa penasaran pun dengan seketika memberhentikan lajuan motornya serta menepikan motornya itu di pinggir jalan yang sudah mereka telusuri sebelumnya.
"Ada apa Dim? kenapa elu berhenti di tempat ini lagi, bukannya kontrakan Aisyah ada di depan belokan itu ya," tanya Sultan merasa heran, mengapa Dimas memberhentikan lajuan motornya di tempat itu lagi.
"Gue penasaran sama orang-orang itu Tan, apa perlu kita pergi ke sana terlebih dahulu? siapa tahu di sana ada orang-orang yang mungkin elu kenal Tan. Ya, mungkin di sana ada salah satu diantara para brandalan-brandalan yang sempat menghajar elu kemarin," ucap Dimas sambil menoleh ke arah Sultan.
"Malam itu para brandalan-brandalan yang menghajar gue, semua wajahnya ditutupi oleh masker hitam Dim, gue engga mengetahui satu pun diantara mereka, hanya saja gue tahu tuh suara mereka seperti apa."
"Sepertinya itu hanya sekumpulan warga-warga yang cinta akan kedamaian Dim, bukan melainkan para brandalan yang sering membuat onar di kampungnya sendiri, mendingan sekarang kita kembali ke tempat kita yang sebenarnya aja."
Sultan lebih memilih untuk menghindar dari masalah dikarenakan dia tahu mereka sedang membicarakan masalah apa.
Sementara rekan-rekan Sultan semuanya sudah berkumpul di depan halaman kontrakan Aisyah, dan tentunya di sana pun sudah ada teman-teman Aisyah juga, dari yang pria hingga sampai yang wanita.
Mereka berbincang seperti biasa, membicarakan Sultan serta Dimas yang belum sampai juga di sana. Mereka semua berpikir bahwa kedua temannya itu sedang mengalami masalah besar di jalanan menuju ke kontrakan Aisyah.
__ADS_1
"Guys, agak-agaknya mereka berdua pergi ke mana dulu ya, perasaan dari tadi sore hingga sampai sekarang mereka belum muncul-muncul juga," ucap Aisyah yang terlihat sudah mulai mengkhawatirkan keselamatan kedua temannya itu di sana.
"Mereka berdua patuh terhadap waktu Syah, apa pun yang terjadi di jalanan sana, mereka berdua pasti akan selalu membereskannya dengan cepat, palingan sebentar lagi mereka akan segera tiba," ucap Azmi terlihat begitu santai sekali ketika mana dia merespon ucapan dari Aisyah.
Namun, sebagaimana sikap Aisyah, dia masih saja terlihat begitu mengkhawatirkan keselamatan mereka berdua, dan terlebih jumlah musuh yang sekarang bisa dibilang bertambah menjadi semakin banyak saja.
"Kenapa kalian bisa berpikir seperti itu, dan terlebih sekarang kalian juga engga tahukan keaadaan mereka di sana seperti apa," ucap Aisyah kembali.
"Mereka berdua merupakan patner yang cukup kuat Syah, bahkan salah satu diantara mereka bisa diibartkan setara dengan enam musuh dari para brandalan-brandalan itu.
"Pokoknya sekarang kamu engga usah khawatir Syah, dikarenakan bila memang di jalan sana ada yang menghadang mereka, kedua teman kita pasti akan selalu mengabari kita."
Ucapan Alamsyah membuat Aisyah berpikir bahwa dia memang harus mempercayai semua ucapan yang telah mereka lontarkan kepadanya, dikarenakan sebab di sana rekan-rekan Sultan memang lebih tahu dan lebih memahami kepribadian dari sosok Sultan dan Dimas yang sebenarnya itu seperti apa.
Tak lama kemudian setelah Aisyah mengkhawatirkan kedua temannya itu, Sultan dan Dimas pun akhirnya tiba di tempat persinggahan Aisyah.
"Tuhkan Dim, apa gue bilang, mereka semua pasti lagi mengkhawatirkan keselamatan kita, coba aja elu perhatiin tatapan mereka yang sekarang seperti apa," ucap Sultan terlihat begitu percaya diri sekali, bahwa apa yang dia ucapkan itu merupakan sebuah tanda yang tengah mereka rasakan untuk saat ini benar-benar sama dengan apa yang tengah dia pikirkan di sana.
Rasa khawatir, itu merupakan arah pikiran Sultan, di mana dia menganggap hal tersebut memang tengah mereka pikirkan saat ini.
Sultan dan Dimas turun dari motor, namun alangkah menyebalkannya Sultan, dia malah meminta Dimas untuk tetap diam dan duduk di saung gubuk bersama dengannya sampai mana ada yang mau memanggil nama mereka berdua di sana.
__ADS_1
"Suasana ini adalah suasana yang engga mau gue rasakan, mendingan sekarang kita duduk di saung itu aja Dim, sampai mana ada yang mau memanggil nama kita di sana, rasanya hari ini gue ingin sekali diperhatikan oleh mereka semua."
Sultan pun lalu duduk di saung itu bersama dengan Dimas, dan tentunya di sana Dimas hanya bisa mengangguk dikarenakan apa yang Sultan ucapkan benar-benar menyertai perasaan seorang Dimas. Rasanya tidak ada salahnya dia pun mengikuti kemauan Sultan, siapa tahu rekan-rekannya dan teman-teman wanitanya itu ada yang mau meperhatikannya juga di sana.
Lagi-lagi ucapan Sultan memang tepat, teman-temannya meminta mereka berdua untuk segera pergi menghampirinya di sana. Sultan yang merasa menang pun tidak mau menghampiri mereka semua begitu saja, pada dasarnya Sultan ingin melihat sejauh mana mereka bisa memperhatikannya sekarang.
"Itu kedua teman kalian kenapa pada duduk di sana? apa mungkin mereka berdua abis berkelahi ya," ucap Aisyah.
Rekan-rekan Sultan hanya bisa tersenyum. Sebenarnya mereka semua sudah mengetahui bahwa Sultan dan Dimas hanya ingin diperhatikan saja.
"Kalian kenapa? kalian berdua baik-baik ajakan? jangan bilang kalau kalian abis berantem sama brandalan-brandalan gila itu," tanya Aisyah tanpa henti terus saja mengkhawatirkan mereka berdua.
Setelah itu Sultan dan Dimas bangkit dari duduk terdiamnya sambil tersenyum puas melihat salah satu diantara wanita cantik ada yang mau memperhatikannya.
"Kita berdua engga apa-apa Syah, hanya saja kita agak sedikit lelah, makanya gue dan Dimas lebih memilih untuk duduk di sana terlebih dahulu sambil melihat rekaman video yang sempat Dimas rekam."
"Ternyata informasi yang kalian berikan itu semuanya valid, ketiga titik tempat tersebut semuanya memang tempat yang sering kali mereka datangi," ucap Sultan sembari duduk di dekat rekan-rekannya seraya membakar rokok pertamanya itu juga.
Sultan menyuruh Dimas memperlihatkan hasil rekaman video tersebut kepada mereka agar mereka semua mengetahui di mana titik letak persembunyian para brandalan-brandalan itu.
Setelah mereka melihatnya, dan kini mereka semua sudah tak sabar lagi ingin mendengarkan rencana Sultan akan berjalan seperti apa selanjutnya.
__ADS_1
Semua bukti wilayah sudah mereka ketahui, sementara itu mereka hanya tinggal menunggu waktunya tiba saja, apalagi rencana ini pasti akan berjalan sesuai rencana, dan terlebih penelusuran serta rekaman video tersebut telah memudahkan tugas mereka untuk menjebak semua anggota brandalan-brandalan gila yang sering kali membuat onar di kampung halamannya sendiri.