
"Tan, elu mau ikut muncak kagak besok sama gue, sama si Falah juga?" tanya Bang Boa sembari merangkul bahu Sultan.
Rere ikut mendengar ajakan dari karyawan pendamping Sultan itu. Dia menunggu jawaban dari Sultan di sebuah ruangan tempat para customer ingin menyervis motornya di sana.
Dia sangat penasaran dengan apa jawaban yang akan prianya berikan kepada karyawannya itu. Dan dia berharap Sultan akan memberikan jawaban sesuai dengan harapannya, yaitu menolak ajakannya demi dirinya.
"Sebenarnya udah lama gue engga muncak Bang, gue rindu akan hal itu, namun yang lebih gue rindukan ada pada seseorang di Kota gue di sana," ucap Sultan menolak mentah-mentah ajakan dari Bang Boa.
"Sayang banget kalau misalkan elu engga ikut dengan kita Tan, tapi kalau emang itu udah menjadi keputusan elu, gue engga akan memaksa elu untuk tetap ikut," ucap Bang Boa berpikir dua kali, yang di mana dia pun tak ingin pergi bila hanya berdua saja bersama dengan Falah.
Rere berterima kasih kepada Sultan, namun dia berbicara hanya lewat hatinya, mungkin nanti setelah dia bertemu dengan Sultan, dia pasti akan mengucapkan hal itu kepadanya langsung.
Rere mulai melakukan akitivitasnya setelah dia mendengar jawaban dari Sultan. Lantas tak lama kemudian bell istirahat pun berbunyi.
Rere membuka bisuan suara teleponnya itu, tapi Sultan masih belum bisa mendengarkan suara Rere dengan jelas, dikarenakan bayaknya suara di luar ruangan memang tak bisa diredamkan begitu saja, dan jadi alhasil Sultan hanya bisa mendengarkan suara Rere setelah ia selesai beristirahat makan siang di luar sana.
Rere menunggu Sultan sembari menyantap makanannya itu juga. Dan sementara Sultan di sana baru saja selesai menyantap makanan yang sudah disediakan oleh pihak Perusahaan.
"Gue engga bisa denger suaramu Re, mungkin nanti setelah gue ada di dalam ruangan Perusahaan, insyaallah suaramu akan terdengar lagi," ucap Sultan yang ingin memastikan apakah suaranya terdengar jelas ditelinga Rere.
"Yaudah Tan, mendingan sekarang elu salat Jumat dulu sana, entar udah itu elu masuk lagi ke dalam Perusahaan ya, Tan," ucap Rere yang mendengarkan ucapan prianya dengan sangat baik, namun Sultan mendengar bahwa ucapan Rere ini hanya terdengar seperti suara anak ayam saja.
Untung saja Bang Falah sempat mengajak Sultan untuk melaksanakan ibadah salat Jumatnya itu terlebih dahulu di dalam musala, dan jadi akhirnya Rere pun tidak perlu mengeluarkan suara yang begitu keras agar Sultan bisa mendengarkan suaranya itu di sana.
__ADS_1
"Tan, kita salat dulu yu, udah itu kita masuk ke dalam Perusahaan untuk tidur siang sebentar saja," ajak Bang Falah menepuk bahu Sultan, yang di mana waktu itu Sultan sempat akan pergi ke luar dari ruangan Perusahaan sendirian.
"Kaget gue Bang! kirain gue tadi itu bukan elu. Yaudah kalau begitu Bang, ayo," ucap Sultan sembari mengikuti langkah Bang Falah.
Dengan khusyuknya Sultan melaksanakan ibadah salat Jumatnya itu bersama dengan Bang Falah, dan juga bersama dengan para karyawan lainnya di dalam musala yang tak jauh dari Perusahaan tempat dia sekarang tengah melaksanakan ujian prakerinya itu.
Tak lama kemudian, Sultan dengan Bang Falah pun lalu pergi ke luar setelah mereka selesai melaksanakan ibadah wajibnya itu di dalam sana.
....
Bang Falah tertidur di samping Sultan, bukan melainkan tertidur di atas pangkuannya. Kardus bekas pun kini menjadi alas untuk dia tertidur di dalam sana. Sementara Sultan hanya menggunakannya sebagai alas untuknya duduk saja.
Bang Falah sempat menunjukan foto anak laki-lakinya yang baru lahir kepada Sultan. Dia menujukan foto itu sembari terbaring di atas kardus bekas itu.
"Anak lu ganteng juga ya, Bang, tapi sayangnya muka dia lebih mirip dengan ibunya," jawaban Sultan tak sesuai dengan apa yang ingin dia dengarkan.
"Masa iya sih Tan! jangan ngarang lu ah!".
Sultan tertawa, sementara Bang Falah tersenyum melihat ada siswa yang lebih dari sekedar kata asik untuk diajak berbincang bersamanya saat ini.
Bang Falah mulai memejamkan matanya, dan di sanalah Sultan mulai bisa berbincang bersama dengan Rere, wanitanya sekaligus kekasihnya di sana.
"Kelamaan kagak gue Re?" tanya Sultan singkat.
__ADS_1
"Mau selama apa pun, selagi panggilan telepon suara ini masih terhubung di kontak Whatsappmu, gue akan tetap setia menunggumu hingga kamu selesai melaksanakan semua kesibukanmu di sana," jawab Rere begitu manisnya.
"Gue engga bisa ke luar, ataupun masuk ke dalam ruangan gudang dengan cara yang seperti ini Re, soalnya setatus gue di sini hanya sebagai siswa saja, jadi gue harap elu bisa memakluminya ya."
"Maksudmu terus-menerus menggunakan earphonemu itu bukan Tan?".
"Iya Re, elu emang benar, dan elu engga akan selamanya benar," ucap Sultan sembari tertawa tipis kepadanya.
Rere mengira Sultan akan memberikan pujian yang lebih kepadanya, misalnya seperti dia yang selalu benar, dan dia yang tidak pernah salah.
Namun, menurut Sultan itu bukan kata-kata yang tepat untuk dia berikan kepada Rere, dikarenakan setiap orang pasti memiliki sebuah kekurangan dihidupnya tersendiri.
"Kirain elu mau muji gue Tan, tapi ternyata gue salah ya, dan memang seharusnya gue jangan terlalu mengharapkan hal yang engga seharusnya gue inginkan ini sebelumnya," ucap Rere hanya ingin memastikan apakah tingkat kepekaan Sultan akan semakin bertambah disetiap waktu berjalan.
"Ucapan yang sungguh membosankan! bisa kagak sih elu langsung bilang keintinya saja Re? soalnya engga ada gunanya juga elu bilang kayak gini kalau elu hanya ingin memastikan tingkat kepekaan gue ini," ucap Sultan yang membuat Rere kebingungan.
"Emm, jadi gimana ya, eh maksudnya apaan sih elu Tan! gue bilang kayak gitu emang gue bener kan?" tanya Rere dengan nada suara gugupnya.
Rere tercengang, dia mengira bahwa hal ini memang tak harus dia bahas lebih lajut lagi, soalnya Sultan pasti akan dengan mudahnya menebak semua ucapan yang sekarang tengah dia ingin dengarkan dari mulut Sultan itu langsung.
Sultan menunggu Rere mengeluarkan alasan selanjutnya, walaupun pada dasarnya Rere sudah melontarkan ucapan kegugupannya itu, tapi Sultan masih belum bisa membalasnya, sebelum Rere melontarkan apa alasannya dia berbicara seperti itu kepadanya.
"Iya Tan, sebenarnya gue cuma mau melihat seberapa peka elu terhadap ucapan gue yang sebelumnya itu," Rere mulai membuka mulut dan berbicara jujur kepada Sultan, bahwa ucapan Sultan itu memang benar.
__ADS_1
"Apa susahnya bilang jujur sama gue Re, elu engga perlu bohongin gue, soalnya elu engga pandai dalam hal itu," ucap Sultan yang berharap bahwa dia ingin melihat Rere selalu berkata jujur kepadanya.