Cinta Dan Kenangan Terakhir

Cinta Dan Kenangan Terakhir
Chapter 21 : Menjagamu


__ADS_3

Kring, kring, kring ... suara telepon berbunyi.


"Haii, Re, Asalamu'alaikum, gue udah sampe di rumah nih, elu mau melampiaskan rindunya itu lagi kagak sama gue?" ucap Sultan kepada Rere yang berbicara lewat telepon video.


"Sebenarnya sih mau Tan, tapi bukannya kamu masih punya beberapa Job, yang harus kamu kerjain ya?".


"Iya Re, kalau elu mau tahu? Job, gue itu cuma membuatmu bahagia. jadi gimana nih? mau atau engga?".


"Anak rese! gue kira Job, apaan!".


Panggilan azan magrib berkumandang. Tak lama setelah itu, Sultan dan Rere pun sama-sama melaksanakan salat terlebih dahulu karena mereka tahu, bahwa rindu yang sebenarnya itu adalah berdoa kepada Tuhan.


Rindu itu adalah panggilan Tuhan, yang di mana kita harus saling berdoa kepadanya agar rindu itu tak terlalu mengekang kita untuk saling bertemu kembali.


Kedua pasangan itu segera mempersiapkan barang-barang yang akan mereka bawa untuk 1 minggu ke depan karena mereka akan kembali bertemu, namun kali ini pertemuannya akan sungguh berbeda.


Itu adalah hari yang di mana mereka berdua tunggu-tunggu karena selama 1 minggu penuh mereka akan selalu bertemu dan saling menjaga satu sama lainnya.


Sultan dan Rere merasa sangat senang waktu itu, dan sehingga malam pun berganti lebih cepat. Pagi itu mereka kembali bertemu disaat Sultan menjemput Rere di rumahnya.


"Asalamu'alaikum," ucap Sultan memberi salam dengan sangat lembut di depan rumah Rere.


Dan lagi-lagi ibu Rere lah yang ke luar dari rumahnya itu untuk membuka kan pintu kepada Sultan. Sultan pun lalu mencium kembali tangan ibu Rere dan lalu masuk ke dalam rumahnya.


"Wa'alaikum Salam, ehh, ada Sultan, sini masuk?" ucap ibu Rere sangat lembut.


"Iya Mah, makasih ya, maaf kalau Sultan sering datang ke sini."


"Engga apa-apa Tan, malahan mamah seneng banget kalau sekarang Rere ada yang jagain."


"Itu udah menjadi tanggung jawab Sultan Mah, jadi mamah engga usah khawatir lagi sama Rere karena kali ini Sultan juga yang akan jagain anak mamah itu."


Ibu Rere tersenyum di hadapan Sultan, ibu Rere pun merasa bahwa Sultan adalah anak yang baik dan anak yang akan selalu memberikan dampak baiknya juga kepada Rere.

__ADS_1


"Tunggu bentar ya, mamah mau bikinin kamu susu hangat dulu karena ini masih pagi juga, dan pasti kamu belum sarapan ya? apa kamu mau mamah siapin makan juga Tan?".


"Engga usah repot-repot Mah, kalau Rere udah beres sama urusannya, kita berdua mau langsung berangkat kok, soalnya kita berdua harus datang lebih pagi untuk mempersiapkan acara di sekolah nanti."


"Yaudah kalau gitu mamah buatin kamu susu hangat dulu ya, tunggu sebentar oke."


"Iya Mah, makasih ya."


Setelah perbincangan itu, ibu Rere lalu pergi ke dapur untuk membuatkan Sultan susu hangat, semua itu beliau lakukan hanya ingin mengucapkan terimakasih kepadanya karena dia sudah mau menjemput Rere pagi-pagi seperti ini.


"Mah, itu buat siapa?" ucap Rere kepada mamahnya.


"Buat pacarmu Re. Coba kamu liat ke sana, dia udah sampai pagi-pagi gini hanya untuk menjemput kamu."


"Yaudah biar Rere yang anterin ke dia."


Rere pun lalu menghampiri Sultan yang tengah duduk di kursi sofa ruang tamu dengan manis. Rere lalu menyapa Sultan sembari tersenyum ke arahnya kembali.


....


"Haii, juga. Engga kok, santai aja Re, masih pagi ini."


"Maaf ya, Tan, kalau aku udah membuatmu lama menunggu."


"Ngomong-ngomong pacar gue hari ini cantik banget! apa semua itu kamu lakuin demi ngeliat gue seneng bukan?".


"Jangan gombal! malu sama mamah."


Rere pun lalu duduk di samping Sultan sembari menatap manis prianya itu dikala ia sedang meminum susu hangatnya. Sultan pun lalu melihat Rere kembali karena ia merasa heran! kenapa bisa dia berpenampilan lebih cantik pagi itu.


Hari itu seperti mimpi saja, Sultan yang tengah terheran-heran pun lalu mencubit pipinya sendiri, ia melakukannya karena hanya ingin memastikan bahwa itu semua nyata! bukan mimpi.


"Ihh, kok, kamu nyubit pipi kamu sendiri sih Tan! padahal kalau kamu ingin memastikan ini mimpi atau bukannya gue juga bisa loh Tan."

__ADS_1


"Cubitan elu sakit Re, dan terlebih izinin gue lah yang nyubit pipi gue sendiri, lah kan masasih elu melulu yang nyubitnya!".


"Kagak asik elu mah Tan, ah! yaudah kalau gitu, gue mau ambil tas gue dulu ya, di kamar."


Rere pun lalu masuk ke dalam kamarnya untuk mengambil barang-barang yang telah dia siapkan sebelumnya. Mereka berdua harus segera pergi karena waktu yang mereka punya cukup singkat! dan tugas yang cukup banyak juga.


Mereka berdua pun lalu berpamitan kepada mamahnya dan meminta restu darinya, supaya acara yang akan mereka jalani itu, semuanya berjalan dengan baik tanpa ada suatu kendala sedikit pun nantinya.


Dan seperti biasa Sultan membiarkan Rere masuk terlebih dahulu ke dalam sekolah untuk menjalani rapat OSIS. Sultan lalu pergi ke kosan untuk menyimpan motornya di sana dan menikmati rokoknya itu di pagi hari yang dingin tersebut.


Sebelum itu, dia sempat berbicara kepada Rere, itung-itung untuk menyemangatinya di hari yang sungguh berat ini.


"Oyy, Re, mau kemana! kok, buru-buru amat sih! sini lah, kita tos dulu sama-sama," ucap Sultan waktu itu kepada Rere.


"Ohh, iya lupa! hehe."


"Jaga dirimu baik-baik ya, Re, karena aku engga akan tahu kalau kita nanti akan satu team sama kamu ataupun aku harus satu team dengan orang lain," ucap Sultan kembali mengelus kepala Rere yang tertutupi oleh hijabnya itu.


"Emang kalau kita satu team kamu mau apa?".


"Yang jelas kalau nanti kita satu team aku akan selalu jagain kamu kemanapun kamu pergi."


..."Rembulan pagi begitu sama indahnya seperti rembulan malam, namun semua itu takan terasa indah bilamana aku tak melihat senyuman manismu....


...Berjanjilah padaku! untuk tetap berada di sampingku karena bilamana kamu jauh dariku, duniaku takan pernah seindah di waktu yang sekarang....


...Satu harapan takan pernah membuatnya sirna, walaupun ditelan oleh kegelapan malam, karena kali inilah malam itu tidak akan bisa berkutik, dan malam itu tidak akan bisa memberikan kedinginannya padaku karena kehangatan rasa cinta yang kamu berikan padaku, akan tetap terasa abadi hangatnya sampai kapan pun kamu menjaganya agar itu tetap utuh selamanya."...


Ucapan itu adalah sebuah kata yang Sultan lontarkan dalam hatinya sambil terlamun membayangkan raut wajah wanitanya di sana.


Sementara itu, Iman dan Taufik melangkahkan kakinya untuk menghampiri Sultan yang tengah bahagia duduk di samping kolam ikan tersebut. Iman dan Taufik lalu menpuk pundak Sultan karena waktu itu ia sedang melamun.


"Woii, Tan, elu kenapa ngelamun kayak gitu? gue takut elu nyebur ke kolam ikan," ucap Iman kepada Sultan.

__ADS_1


"Kagak kenapa-kenapa Bro, santai aja. Sini duduk, kita ngerokok dulu sebentar, udah itu kita langsung ke sekolah."


Kedua kawannya itu lalu duduk di sampingnya dan menikmati rokok di pagi hari yang dingin itu bersama-sama.


__ADS_2