
Beliau terkejut ketika mana beliau melihat Sultan sebegitu memperhatikan anak wanitanya, bahkan bukan hanya beliau saja yang dibuat kagum oleh Sultan, sampai kakak Rere pun dibuat sama kagumnya seperti beliau juga di sana.
Sebenarnya itu hanyalah sebagian sikap perhatian milik Sultan saja, mungkin bilamana Sultan memberitahukan sikap aslinya sepenuhnya kepada beliau, bisa jadi beliau akan dibuat lebih kagum oleh Sultan, pria yang sering Rere anggap sebagai pria menyebalkan.
"Sebelumnya mamah mau minta maaf sama Sultan karena hari ini Rere lagi engga ada di rumah, katanya dia mau reunian sama teman lamanya," ucap beliau terlihat agak sedikit kecewa, dikarenakan Rere pergi bersama dengan cowok lain selain Sultan.
"Ohh, iya Mah, Engga apa-apa kok, tujuan Sultan datang ke sini itu karena Sultan cuma mau ngasih handphone anak mamah aja, dan mungkin setelah pulang dari sini Sultan juga mau langsung berangkat lagi ke Tangerang," ucap Sultan beralasan, yang di mana sebenarnya dia terlihat sangat kecewa, tapi dia sadar untuk apa membesarkan rasa kekecewaanya itu karena pada dasarnya Rere sudah terlanjur pergi.
Beliau melihat mata Sultan berbeda dari yang sebelumnya, padahal pada saat pertama kali Sultan datang ke sana matanya terlihat tengah menyimpan suatu harapan, dan harapan itu adalah bermain bersama dengan Rere.
Tapi, sangat disayangkan, sekarang Rere tengah bermain bersama dengan teman lamanya. Sultan sempat akan berpamitan kepada beliau, namun beliau menyuruh Sultan untuk diam terlebih dahulu di dalam rumahnya sampai Rere pulang.
Beliau sempat mengembalikan handphone milik Rere, dikarenakan beliau menyuruh Sultan untuk memberikan handphonenya langsung kepada Rere.
Sultan memegang handphone milik Rere, namun ia tetap ingin pergi beristirahat di dalam rumahnya sendiri. Beliau tak dapat melarang kemauan Sultan, lantas beliau hanya bisa mengantarkan Sultan sampai ke depan gang rumahnya saja.
"Seharusnya mamah engga perlu nganterin Sultan sampai ke depan sini, soalnya Sultan bisa pergi sendiri juga kok, Mah, tapi tetap saja Sultan harus berterima kasih kepada mamah karena mamah rela cape-capean hanya untuk mengantarkan Sultan sampai ke depan sini," ucap Sultan dengan lembutnya sembari mecium tangan beliau.
"Cuma ke depan sini aja masa cape sih Tan, yaudah kalau begitu, Sultan hati-hati di jalan ya, jangan kebut-kebutan, soalnya kamu anak mamah, bukan jagoan," ucap beliau sama dengan ucapan yang sering Rere berikan kepadanya.
Sultan tersenyum sampai ia mengecup tangan beliau yang kedua kalinya. Sebenarnya beliau merasakan kekecewaan yang sama seperti Sultan, namun ibunya berusaha menutupi dengan siapa anak wanitanya pergi bermain.
__ADS_1
Rere memang pergi bermain bersama dengan semua teman lamanya sewaktu Rere masih duduk di kursi SMP, lantas apa yang membuat beliau sekecewa itu? yakni Rere duduk di jok motor bersama dengan pria lain.
Pada saat Sultan akan pergi meninggalkan rumah beliau, tanpa mereka sadari Rere malah kembali pulang ke rumahnya. Rere pun sempat terkejut melihat Sultan sedang berbincang bersama ibunya di depan gang sana.
Rere turun dari motor teman prianya dan lalu dia pun menyapa Sultan dengan perasaan takut bila nanti Sultan akan memarahi dirinya di hadapan ibunya langsung.
"Sultan! kamu udah pulang, kok, kamu engga ngabarin mamah aku dulu sih kalau kamu mau datang ke sini, soalnya handphone aku hilang," ucap Rere dengan perasaan takutnya.
....
"Bukan hilang Be! melainkan ditodong sama lain orang! kenapa bisa kamu ditodong sama preman gila? emangnya kamu main ke mana aja selama aku lagi ditugaskan di Tangerang?" tanya Sultan dengan sikap penuh perhatiannya.
Hingga pada akhirnya Rere pun lebih memilih untuk menemani Sultan saja di sana, sampai-sampai teman lamanya disuruh pergi duluan.
"Emm, maaf ya, kalau sekarang aku engga bisa ikut pergi ke Pelabuhan Ratu bersama dengan kalian, tolong sampaikan permintaan maaf Rere sama mereka juga ya," ucap Rere kepada temannya.
"Aduh ... makasih ya, Kang kalau akang udah mau direpotin sama cewe manja ini, dan jangan lupa bilangin kesemua teman-teman Rere kalau dia nanti nyusul sama saya," ucap Sultan kepada teman Rere.
Teman lama kekasihnya itu hanya bisa mengangguk dan tersenyum saja kepada Sultan, mungkin dia berpikiran kalau kehadiran Sultan hanya menjadi penghalang saja baginya untuk mendekati Rere.
Dia pun lalu pergi, dan setelah itu ibu Rere pun juga pergi karena beliau tidak mau mengganggu pertemuan mereka berdua yang singkat ini.
__ADS_1
"Kenapa kamu bisa tahu kalau aku ditodong sama orang lain, dan orang lain itu adalah preman?" tanya Rere penasaran siapa yang sudah memberitahu Sultan tentang masalah pribadinya ini.
"Nih handphone kamu, ingat! jaga baik-baik ya, kalau sampai kamu melakukan hal ceroboh seperti ini kembali dan mungkin aku engga akan pernah bisa menolongmu lagi," ucap Sultan sembari memberikan handphone milik Rere.
Raut wajah wanitanya mengembalikan senyuman Sultan, untung saja para preman gila kemarin sudah mau bermain-main dengannya, jadi Sultan tak perlu mencari-cari siapa yang sudah mengambil handphone milik kekasihnya.
"Untung saja kemarin malam gue sempat ditodong juga sama preman yang diduga telah ngambil handphone kamu Be, jadi gue udah tahu sekarang alasan kamu yang sebenarnya itu apa, dan kenapa kamu engga ngabarin gue udah hampir dua Minggu ini," ucap Sultan sembari mencubit kedua pipi Rere dengan lembutnya.
"Pasti kamu berantem lagi ya, Tan? tapi kamu engga apa-apakan? maafin aku ya, karena aku udah selalu ngerepotin kamu di sini, padahal malam itu pasti kamu lagi cape ya," ucapan polos itu terdengar lagi ditelinga Sultan.
Sultan tersenyum, ia pun sangat rindu dengan suara lembut wanitanya ini, wajahnya serta sikapnya sangat polos ketika mana dia berucap kata terima kasih kepadanya.
Sultan mengajak Rere untuk pergi bermain bersama dengan semua teman lamanya, namun Rere malah menolaknya karena Rere tahu Sultan pasti cape, apalagi kejadian semalam itu semua adalah gara-gara Rere.
Sultan mungkin dapat menebak isi dalam pikiran Rere yang sekarang, dan Sultan pun takan pernah menyalahkan kekasihnya itu di sana, dikarenakan Rere telah mengobati rasa sakit dikepala Sultan dengan senyuman manis yang dia berikan kepadanya.
"Jadi, gimana nih Re, kamu mau nyusul mereka engga? kalaupun kamu mau menyusul mereka gua siap kok, soalnya ini adalah pertemuan yang mungkin engga akan pernah terlaksanakan setiap harinya," ajakan Sultan membuat Rere bingung, kalau Rere menuruti apa perkataannya, mungkin Sultan akan kelelahan, namun bila dia tak mengikuti perkataan Sultan, pertemuan ini memang takan terlaksanakan setiap harinya.
"Aku tahu kamu cape Tan, lebih baik kita diam di rumah aja ya, biar nanti aku masakin makanan buat kamu."
"Aku udah bawa bubur ayam kesukaan kamu itu loh Re, tapi bubur itu udah habis dimakan sama mamah, makanya kalau mau berpergian itu bilang sama gue dulu."
__ADS_1
"Gue sayang sama lu Tan," ucapan Rere yang terakhir membuat Sultan kembali terdiam, namun lamunannya itu tak bertahan lama, hingga mana Sultan menyuruh Rere untuk naik ke atas motor matic milik pamannya.